Waingapu, 27 April 2014
Markus.
16 : 14 – 18
Saudara – saudara yang kekasih
dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Markus
berbeda dengan ketiga kita Injil lainnya. Ketika ia menulis dalam Injilnya
tentang kebangkitan dan penampakan yang di lakukan Yesus; tidak panjang lebar
ia menceritakannya. Singkat, padat dan jelas! Penampakan kepada Maria Magdalena
dan 2 orang yang ke Emaus itu di jelaskannya hanya dalam beberapa ayat saja
dalam pasal ini. Demikian juga penampakan kepada 11 murid itu hanya di
ceritakan dalam ayat 14-18 saja.
Saudara-saudara
yang kekasih, Dalam penampakan kepada 11 murid itu kita mencatat dan membaca
bahwa Yesus mencela; Ketidakpercayaan dan Kedegilan hati
murid-murid-Nya. Mengapa? Markus mencatat; oleh karena mereka
tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Tidak
percaya kepada perempuan-perempuan yang kepada mereka Yesus menampakkan
diri-Nya. Dan kepada 2 orang yang ke Emaus itu. Kata mencela, berarti mengecam
atau mengeritik. Yesus mengecam dan mengeritik sikap murid –
murid-Nya itu yang terus mengeraskan hatinya dan tidak membuka dirinya untuk
menerima Kebenaran itu. Yesus mencela Ketidakpercayaan mereka. Yesus
mencela kedegilan hati mereka. Yesus tidak membiarkan saja 11 murid-Nya. Ia
tidak memaklumi dan merasa tidak apa-apa apa yang mereka lakukan. Yesus tidak
hanya merasa sayang akan tindakan mereka yang tetap mengeraskan kepala dan
mengeraskan hatinya. Itulah yang dilakukan Yesus terhadap murid-murid-Nya. Ia
menegor dan mencela; Ia mengecam dan mengeritik; Yesus tidak pernah membiarkan
murid-murid-Nya terlena dalam kekurangan dan kelemahan mereka. Saudara sebagai
anak TUHAN pasti mengalami hal yang sama. TUHAN tidak mungkin membiarkan kita
hingga terlena dalam kelemahan dan kekurangan-kekurangan kita. Dia pasti
menegormu; mengecammu; mencela dan mengeritikmu dalam segala kelemahan dan
kekuranganmu. Sampai kita benar-benae yakin akan kebesaran dan kemuliaan-Nya
dalam hidup ini.
Hal yang
kedua mungkin kita merasa hebat pada murid-murid Yesus yang tidak percaya dan
mengeraskan hatinya. Mungkin saudara mengatakan; hati apa memang mereka
sehingga tidak percaya? Kita mungkin bisa mempersalahkan murid-murid itu.
Tetapi mengoreksi diri dan bertanya diri; bagaimanakah dengan saya sendiri?.
Seberapa besarkah keyakinan dan kepercayaan saya pada Yesus atau pada berita
Keselamatan itu? Kita sering bimbang dan ragu-ragu. Tidak mudah kita
diyakinkan. Bukankah saudara tiap-tiap minggu mendengar Pemberitaan Sabda Allah
itu? Mengapa saudara masih bimbang dan meragukan kekuasaan TUHAN dalam hidup
ini?
Saudara-saudara
yang kekasih, hal yang kedua yang di jelaskan dalam nas kita ada Pesan Yesus
kepada murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil itu. "Pergilah
ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Ini adalah
amanat atau perintah dari Yesus sendiri kepada murid-murid-Nya. Injil
harus di beritakan keseluruh belahan dunia ini. Kebangkitan Yesus adalah INjil
atau kabar baik yang harus di beritakan, dimaklumkan, dan di proklamirkan ke
seluruh penjuru dunia. Injil harus di beritakan pada segala Makluk. Kata makluk
disini tidak saja dalam arti hewan; burung-burung dan binatang. Kata “Makluk”
juga berarti manusia. Manusia juga di sebut makluk hidup. Dalam beberapa
terjemahan kata Makluk di terjemahkan dengan “Manusia”. Klinkert 1863; 1870: chalaik; Terjem.
L: kepada sekalian
alam; dan dua terjemahan lainnya di terjemahkan dengan “orang”.
Beritakanlah Injil itu; itulah Amanat agung atau mandat yang harus dilakukan.
Bukan perkara mau atau tidak; bukan juga perkara paksaan. Tetapi ini adalah
merupakan kewajiban mutlak orang Percaya atau anak-anak Tuhan. Memberitakan
Injil; sama dengan mengajar, mendidik dan membimbing orang bagaimana mereka
dapat mengenal Injil itu. Dan ini adalah tugas kita semua! Tugas kita akan
mengajar Isteri; suami dan anak-anak kita tentang Injil itu. Tugas kita akan
memproklamirkan Injil itu melalui sikap dan tindakan kita; tugas kita akan
memaklumkan Injil itu dalam pekerjaan dan pelayanan kita. Bagaimana pengaruh
Injil itu dalam kehidupan ini hendaknya terasa dan terlihat dalam kehidupan
keseharian kita. Injil harus kelihatan didalam pekerjaan yang kita lakukan.
Artinya ciptaan TUHAN seperti hewan; burung-burung dan sebagai tidak harus
mengeluh karena perlakukan manusia. Tetapi sebaliknya mereka bersukacita.
Bd.Rom.8. Dan Kita tidak bisa mencuci tangan dan mengatakan; ini bukan tugasku.
Pergilah ke seluruhh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makluk. Itu saja
pesan dan mandate yang kita dengar dan yang kita terima. Maka pertanyaannya
sudahkah saudara melakukannya? Adakah injil itu di beritakan dalam rumah tanggamu?
Adakah Injil itu bergema dalam hidupmu?
Saudara-saudara yang kekasih,
selain dari itu dikatakan Yesus; Siapa yang percaya dan
dipermandikan akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Tidak cukup bahwa orang datang kepada percaya saja dan bahwa orang mengaku
Percayanya. Tetapi lebih dari itu mereka harus di permandikan. Sebab permandian
itu adalah tanda yang di beri yang menjelaskan bahwa kita adalah
anak-anak Allah. Tanda yang di beri bahwa kita adalah milik Allah.
Dalam ayat ini Markus berbicara tentang orang yang datang kepada Percaya; orang
kafir yang oleh karena pemberitaan Injil itu percaya kepada Yesus Kristus.
Sebab itu ayat ini tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak permandian anak
kecil, yang nota benenya adalah anak-anak orang percaya. Sebab anak-anak orang
Percaya sudah terisab dalam Perjanjian Allah. Karena itu orang yang tidak
percaya, yang tidak menerima Injil itu tidak dapat di permandikan. Pengetahuan
akan Kebenaran Sabda TUHAN kita harus miliki sehingga tidak mudah kita
terombang-ambing dan akhirnya di permandikan/baptis ulang.
Saudara-saudara
memberitakan Injil yakni mengajar; membimbing dan menuntun orang memang tidak
mudah. Pekerjaan yang berat dan termulia adalah memberitakan Injil. Pelbagai tantangan; penderitaan
dan kesukaran serta kesengsaraan akan dihadapi. Penolakan akan dialami. Dan
semua ini adalah realita yang tidak dapat kita tutupi; Alkitab banyak berbicara
tentang semua itu juga sejarah gereja penuh dengan berita seperti itu. Yesus
tahu bahwa Gereja-Nya akan mengalami semua itu. Sebab itu IA mengatakan dalam
ayat 17-18;
Tanda-tanda ini akan menyertai
orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi
nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi
mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum
racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan
tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."
Apa yang dikatakan Yesus ini
terjadi dan dialami oleh murid-murid Yesus bahkan oleh Gereja TUHAN hingga hari
ini. Kita melihat Petrus dan Yohanes; keduanya menyembuhkan orang lumpuh itu;
Petrus membangkitkan Dorkas/Tabita, dan menyembuhkan Eneas. Paulus memegang
ular tedung, dan selalu luput dari bahaya yang mengancam hidupnya. Bahkan hingga
hari ini Tuhan menyertai kita dan selalu meluputkan kita dari pelbagai
marabahaya yang mengancam hidup kita. Tentu saja pemberitaan tentang
tanda-tanda itu tidak dalam arti bahwa kita harus menantikan tanda-tanda itu
terjadi dulu baru kita percaya. Kebenaran yang mau di tegaskan oleh Yesus
kepada kita dalam Ayat ini bahwa IA menyertaimu, IA tidak membiarkanmu
sendirian. Bagimu Ia adalah penjaga yang setia, yang tidak pernah mengantuk.
Bd. Maz. 121. Tuhan itu menyertaimu hai sidang TUHAN Gereja Bebas WAINGAPU dari
sekarang hingga Maranatha. Janji-Nya: Aku menyertai kamu hingga kesudahan Alam!
Amin.
Maudjawa, 13 April 2014
Perjamuan Malam TUHAN yang Kudus
Mazmur. 17 : 1 –
15
Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus
Kristus,
Mazmur 17 disebut Doa Daud.
Sehubungan dengan itu kita melihat ungkapan permohonan Daud dalam Doanya.
Kata-kata Dengarkanlah; perhatikanlah dan berilah menjelaskan kesungguhan dan
ketekunan seorang Daud dalam permohonannya. Ia sungguh-sungguh membutuhkan/memerlukan
TUHAN dalam kondisi yang dialaminya. Musuh-musuh yang ingin mencabut nyawanya
telah menghadangnya. Seakan-akan Daud memaksa TUHAN dalam doanya. Karena
dengarkanlah; perhatikanlah dan berilah telinga dapat berarti jangan menutup
telinga-Mu; ya TUHAN, pasanglah telinga-MU, halakanlah telinga-Mu kepada
permohonanku; jangan menutup mata-Mu tetapi lihatlah apa yang terjadi, yang aku
alami; ungkapan doa seperti ini melukiskan hubungan Daud dengan TUHAN. Ada yang
hubungan yang intim; hubungan yang karib dan mesra antara Daud dengan TUHAN.
Sebab itu dengan tulus Daud berkata periksa perkaraku yang benar; hakimi
aku; dengan bibir yang tak berdalih aku datang kepada-Mu; Engkau tahu bahwa
hatiku tidak jahat, tetapi bersih. Tidak ada yang tertutup. Bagi anak-anak
TUHAN berkata jujur adalah harus menjadi pilihan. Bukan perkara menyombongkan
diri atau berlaku angkuh dihadapan TUHAN. Daud tidak dapat di samakan dengan
orang Farisi itu yang di jelaskan dalam Injil Lukas 18. Karena Daud tidak
berbuat sesuatu yang baik untuk di puji orang. Kesetiaan dan ketaatan Daud
tidak dapat di ragukan. Tetapi orang yang setia dan taat serta beribadah kepada
TUHAN tidak berarti bebas dari masalah atau tantangan dalam hidupnya. Mereka
akan selalu mengalami persoalan demi persoalan akan membentuk mereka menjadi
Daud-Daud yang tetap berdoa. Tuhan Yesus dalam penderitaan-Nya ketika di
tinggalkan Bapa-Nya tetap berseru kepada Bapa-Nya. Sebab itu mungkin saja saat
ini saudara-saudara mengalami pergolakan dalam rumah tangga; masalah yang
terjadi tak kunjung selesai, kita melihat seakan-akan TUHAN marah bahkan kita
merasa seperti TUHAN meninggalkan kita. Tetaplah berdoa kepada-Nya dan
katakanlah kepada-Nya; dengarkanlah aku ya TUHAN; perhatikanlah penderitaan.
Jangan putus asa; jangan berkata dalam hatimu; apa gunanya lagi aku berdoa,
Tuhan tidak lagi mendengarkan aku. Jangan pula menipu TUHAN dalam doamu! Karena
ketulusan dan kejujuranmu tidak tersembunyi di hadapan-Nya. Apakah benar engkau
mencari TUHAN dan memerlukan DIA dalam hidupmu? Atau jangan-jangan TUHAN hanya
menjadi tempat pelarian sesaat saja.
Daud tidak hanya berdoa saja!
Tetapi dalam kesehariannya berhadapan dengan masalah-masalah yang ada ia tetap
menjaga dirinya untuk tetap hidup sesuai dengan Sabda TUHAN. Banyak orang Kristen
yang hanya bisa berdoa tetapi bagaimana sikapnya dan perilakunya dalam
kesehariannya dalam rumah tangga dan dalam pekerjaannya serta dalam
pergaulannya tidak lagi di perhatikan apakah semuanya sudah sesuai dengan Sabda
TUHAN atau tidak. Mereka berdosa dengan tangannya dengan melakukan kekerasan,
dengan mulutnya yang selalu mencaci maki orang, menipu dan menfitnah orang,
berdosa dengan seluruh hidupnya. Mereka tidak peduli apakah hidup mereka baik
di hadapan TUHAN atau tidak. Apapun yang dihadapi Daud ia tetap memohon
pertolongan TUHAN. Dalam hidupnya ia tetap bertekun akan melakukan apa yang
TUHAN kehendaki daripadanya. Sebab itu ia tetap kuat dan tidak goyah.
Pertanyaannya; bagaimana dengan saudara? Jangan hanya berdoa, meminta
pertolongan TUHAN tetapi engkau tidak mau melakukan kehendak-Nya.
Saudara-saudara yang kekasih,
Daud berdoa dengan penuh
keyakinan. Ia yakin TUHAN menjawabnya! Sebab itu jika engkau masih
ragu-ragu; lebih baik tidak berdoa! Daud berani berdoa kepada TUHAN menghalakan
telinga-Nya, mendengarkan permohonannya. Daud berani meminta TUHAN untuk menunjukkan
Kasih setia-Nya, untuk melindungi Daud seperti biji mata terhadap musuh-musuh;
menyembunyikannya di bawah naungan Sayap TUHAN dan membalaskan kejahatan
musuh-musuhnya. Karena ia tahu bahwa dirinya tidak begitu kuat; ia lemah dan
tidak berdaya. Dan lebih dari itu TUHANlah yang membalas bukan dirinya. Sebab
itu serumit apapun masalahmu dan sekejam apapun orang berbuat kepadamu serta
sesakit apapun hatimu. Jangan pernah membalas. Berikan tempat kepada murka
Allah untuk membalas kejahatan musuh-musuhmu. Belajar dari Yesus Kristus yang
ketika di ludahi; di cerca; di fitnah dan sebagainya tidak membalas. Sebaliknya
berdoa untuk musuh-musuh-Nya. juga Stepanus; Paulus dan banyak syahid lainnya
tidak membalas. Sebab itu kita perlu belajar; Daud tidak hanya mengatakan
dengan bibirnya; kenyataannya ia benar tidak membalas kejahatan musuh-musuhnya.
Daud tidak membalas kejahatan Saul, yang ingin membunuhnya. Tidak membalas
kejahatan Simei karena telah menfitnahnya. Jangan berperinsip daripada saya
yang mati lebih dulu; lebih baik dia yang harus mati. Atau daripada saya di
bikin rusak oleh kelakuannya mendingan saya sikat saja. Daud bukan seorang yang
miskin strategi/taktik dalam menghadapi musuh-musuhnya. Ia tahu kapan atau saat
mana musuh-musuhnya lengah (tidak siap) dan ia tahu bagaimana caranya
melumpuhkan musuh-musuhnya. Tetapi ia tidak bergantung pada semua strategi itu,
ia sepenuhnya bergantung pada TUHAN.
Saudara-saudara yang kekasih,
mari kita merenungkan Kebenaran Sabda TUHAN ini. Jadilah seperti Daud yang
terus berdoa dan belajar Yesus yang selalu berdoa. Karena hanya dengan doa
engkau akan tetap kuat. Bawa persoalanmu dalam doa kepada-Nya. Dan jangan putus
asa karena TUHAN ingin membentuk engkau melalui masalah-masalah yang terjadi
dalam hidupmu hingga akhirnya engkau menjadi Daud yang setia dan taat! Daud
yang bertekun melakukan Sabda-Nya.
Amin
Waingapu, 06 April 2014
Syukuran Perjamuan Malam
TUHAN yang Kudus
Mazmur. 16: 1 – 11.
Saudara – saudara yang kekasih
dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Mazmur 16
ini di sebut Miktam dari Daud. Apa sebenarnya arti Miktam itu tidak
begitu jelas. Ada penafsir yang mengatakan; Miktam itu berarti Nyanyian Emas;
ada pula yang menterjemahkan Miktam dengan peringatan. Dan ada yang mengatakan
Miktam adalah berarti Nyanyian. Dalam beberapa terjemahan seperti Terj. Lama;
terj. Klinkert 1863 dan 1870 dan terj. Leydeker kata Miktam tidak di ketemukan.
Kata itu hanya di ketemukan dalam terj. Baru. Saya setuju bila kata Miktam itu
di terjemahkan dengan kata Nyanyian saja.
Saudara-saudara
yang kekasih, mungkin saja kata Miktam itu penting bagi kita untuk di ketahui
apa artinya. Tetapi hal yang jauh lebih penting adalah isi yang terkandung
dalam Mazmur ini. Kita melihat ada Permohonan Daud kepada TUHAN untuk menjaganya atau
melindunginya. Menarik! Sebab dalam keadaan nyawanya terancam atau hidupnya
berada dalam bahaya maut Daud tidak mencari tempat perlindungan yang lain. Ia
mencari TUHAN dan memohon kepada-Nya akan menjaganya. Juga Daud tidak
mengandalkan pengikutnya dan tentaranya. Kita tahu bahwa baik sebelum ia
menjadi raja maupun setelah ia menjadi raja kemahiran Daud dalam menghadapi
musuh-musuhnya tidak dapat di ragukan lagi. Selain dari itu ia selalu terkawal.
Sehingga kemungkinan musuh menerobosnya masuk untuk merenggut nyawanya sangat
kecil sekali. Disisi lain, Daud selalu mengalami kebaikan TUHAN dimana ia
selalu di lepaskan dari bahaya-bahaya yang mengancam hidupnya. Tetapi sekalipun
demikian Daud tidak mengandalkan kekuatannya dan kekuatan tentaranya. Ia juga
tidak mengatakan mengapa saya harus memohon lagi pertolongan TUHAN, karena toch
TUHAN juga akan melepaskan saya? Betapapun penjagaan itu dilakukan
berlapis-lapis; jika TUHAN mengijinkannya maka semua itu akan sia-sia. Bd.
Maz.127
Saudara-saudaraku,
adalah perenungan bagi kita; kemanakah kita mencari pertolongan dalam segala
masalah yang kita hadapi? Kepada orang pintarkah? Kepada para dukun? Kepada
para Pendeta yang punya karunia khusus? Ataukah kita harus berguru/bermeditasi
di tempat-tempat keramat untuk mendapat kekuatan magis? Ketika engkau merasa
terdesak apakah TUHAN yang engkau cari untuk memohon pertolongan-Nya?
Daud
memohon TUHAN menjaganya karena ia betul berlindung pada-Nya. Ini berbeda dengan
kebanyakan orang Kristen. Mereka meminta TUHAN menjaganya/melindunginya
sementara itu mereka berlindung di tempat lain. Meminta pendeta atau hamba
TUHAN mendoakannya sementara itu bergantung dan mencari kekuatan yang lain.
Karena itu jika engkau memohon kepada TUHAN akan melindungimu. Pertanyaannya
benarkah engkau berlindung pada TUHAN saja?
Lalu
mengapa Daud memohon kepada TUHAN untuk menjaganya? Ayat 2
mengatakan;….."Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain
Engkau!". Sebuah pernyataan yang tegas dan pengakuan percaya yang tulus
dari Daud. Benar, tidak ada tempat yang lebih baik, lebih nyaman, lebih tenang
dan damai. Hanya TUHAN semata-mata yang baik. Sebaik-baiknya sahabatmu,
isterimu, suamimu, tetanggamu, harus diakui bahwa mereka pernah menyakitimu,
membuatmu kecewa, dan sebagainya. Apalagi jika kita melihat kepada keadaan yang
ada di dunia ini; kekerasan, korupsi, ketidakadilan dan lain-lainnya yang
terjadi. Membuat kita mengambil kesimpulan dan mengaku; TUHAN tidak ada yang
baik selain Engkau. Kesadaran bahwa TUHAN yang baik membuat Daud tetap
berlindung pada TUHAN.
Saudara-saudaraku,
selain dari pengkuan itu orang – orang Kudus adalah orang-orang mulia yang
menjadi kesukaan Daud. Tentu sangat di rasakan perbedaan jika kita bergaul dengan
orang-orang se-percaya dengan kita dengan orang-orang lain. Tidak ada jarak;
tidak ada perbedaan; kehidupan anak-anak TUHAN selalu cocok satu sama lainnya.
Betapapun tidak mereka itu telah di tebus dan oleh percaya telah menjadi satu
dalam Yesus Kristus. Sebab itu hal penting yang kita perhatikan adalah bahwa
hendaknya hidup kita berbeda dari mereka yang belum Yesus Kristus, bukannya
malah sama. Bukannya kita malah mengikuti mereka dan hidup sesuai dengan cara
hidup mereka. Kita harus berbuat kalau boleh mereka harus merasa semakin
terasing dan merasa malu oleh segala tatanan hidup mereka yang tidak sesuai
dengan Sabda TUHAN. Bukan malah kita membanggakan kehadiran mereka. Kita harus
berbuat seperti yang dikatakan dalam ayat 4 Bertambah besar
kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut
mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan
menyebut-nyebut nama mereka di bibirku. Kita harus tegas; tidak cukup
dengan kata-kata saja tetapi hendaknya di sertai dengan sebuah tindakan nyata.
Jika kita mengatakan tidak; ya harus tidak. Jangan malah mengambil bagian.
Komitmen dengan keyakinanmu, jangan goyah! Sebab itu kita boleh bertanya;
apakah orang-orang Kudus itu juga menjadi kesukaanmu dalam hidup ini?
Bagaimanakah keseharianmu dengan sesama orang-orang Kudus itu atau yang
sepercaya dengan engkau?
Pengakuan
Daud tentang TUHAN tidak hanya berhenti bahwa TUHAN itu baik. Dalam
ayat-ayat selanjutnya Daud menyebut TUHAN itu Warisannya/pusakanya yakni
bagian yang terpenting bagi siapapun. Pusaka adalah aset yang sangat berharga.
Jika bagi orang lain pisau; pedang; tombak pusaka adalah aset yang sangat
berharga, yang sekaligus diyakini dapat melindungi dirinya dan keluarganya.
Maka Daud disini berbeda; TUHAN adalah Penjaganya. Dialah yang paling berharga
dalam hidupnya dan hidup keluarganya. TUHAN adalah Pialanya. Kebanggaan setiap
pemenang bila mereka bisa merebut piala atau tropi yang di siapkan. Orang akan
melakukan apa saja bila mereka dapat merebut Tropi/piala dalam sebuah
pertandingan. Mereka akan melakukan pawai dan mengadakan pesta untuk merayakan
kemenangan mereka. Bagi Daud hanya TUHAN semata yang menjadi kebanggaannya.
Daud tidak meragukan sedikitpun apakah ia memenangkan pertandingan atau tidak.
Sebab TUHAN tidak pernah memberikan yang lain kepadanya; Tuhan tidak pernah
bergeser dari janji-janji-Nya. Manusia bisa berubah; namamu bisa di coret dari
daftar sehingga kita tidak menerima apa-apa. Orang bisa bermain dan akhirnya
yang keluar sebagai pemenang bukan engkau tetapi orang lain. Karena itu Daud
melihat bahwa di luar TUHAN kita tidak dapat tidur dengan tenang dan bangun
dengan penuh kelegaan. Karena seluruh malam kita akan berpikir apa saya bisa;
apakah saya berhasil; apakah saya bisa menggapai impian saya? Hanya dalam TUHAN
engkau tenang; apapun keadaannya ketika engkau terjaga dari tidur engkau akan
melihat bahwa TUHAN berdiri disampingmu. Sebab itu sukacita dan sorak-sorai
serta ketentraman menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupmu. Betapa
tidak Ayat 11 mengatakan; Engkau memberitahukan kepadaku
jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan
kanan-Mu ada nikmat senantiasa. TUHAN tidak meninggalkan engkau;
karenanya engkau tidak mungkin stress dengan kegagalan yang terjadi; TUHAN
menyediakan sukacita yang berlimpah-limpah. Didalam Yesus engkau akan merasakan
kenikmatan abadi.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar