Senin, 29 Desember 2014

Markus. 16 : 14 – 18; Mazmur. 17 : 1 – 15; Mazmur. 16 : 1 – 11

Waingapu, 27 April 2014
 Markus.     16  : 14 – 18

Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Markus berbeda dengan ketiga kita Injil lainnya. Ketika ia menulis dalam Injilnya tentang kebangkitan dan penampakan yang di lakukan Yesus; tidak panjang lebar ia menceritakannya. Singkat, padat dan jelas! Penampakan kepada Maria Magdalena dan 2 orang yang ke Emaus itu di jelaskannya hanya dalam beberapa ayat saja dalam pasal ini. Demikian juga penampakan kepada 11 murid itu hanya di ceritakan dalam ayat 14-18 saja.
Saudara-saudara yang kekasih, Dalam penampakan kepada 11 murid itu kita mencatat dan membaca bahwa Yesus mencela; Ketidakpercayaan dan Kedegilan hati murid-murid-Nya. Mengapa? Markus mencatat; oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Tidak percaya kepada perempuan-perempuan yang kepada mereka Yesus menampakkan diri-Nya. Dan kepada 2 orang yang ke Emaus itu. Kata mencela, berarti mengecam atau mengeritik.  Yesus mengecam dan mengeritik sikap murid – murid-Nya itu yang terus mengeraskan hatinya dan tidak membuka dirinya untuk menerima Kebenaran itu. Yesus mencela Ketidakpercayaan mereka. Yesus mencela kedegilan hati mereka. Yesus tidak membiarkan saja 11 murid-Nya. Ia tidak memaklumi dan merasa tidak apa-apa apa yang mereka lakukan. Yesus tidak hanya merasa sayang akan tindakan mereka yang tetap mengeraskan kepala dan mengeraskan hatinya. Itulah yang dilakukan Yesus terhadap murid-murid-Nya. Ia menegor dan mencela; Ia mengecam dan mengeritik; Yesus tidak pernah membiarkan murid-murid-Nya terlena dalam kekurangan dan kelemahan mereka. Saudara sebagai anak TUHAN pasti mengalami hal yang sama. TUHAN tidak mungkin membiarkan kita hingga terlena dalam kelemahan dan kekurangan-kekurangan kita. Dia pasti menegormu; mengecammu; mencela dan mengeritikmu dalam segala kelemahan dan kekuranganmu. Sampai kita benar-benae yakin akan kebesaran dan kemuliaan-Nya dalam hidup ini.
Hal yang kedua mungkin kita merasa hebat pada murid-murid Yesus yang tidak percaya dan mengeraskan hatinya. Mungkin saudara mengatakan; hati apa memang mereka sehingga tidak percaya? Kita mungkin bisa mempersalahkan murid-murid itu. Tetapi mengoreksi diri dan bertanya diri; bagaimanakah dengan saya sendiri?. Seberapa besarkah keyakinan dan kepercayaan saya pada Yesus atau pada berita Keselamatan itu? Kita sering bimbang dan ragu-ragu. Tidak mudah kita diyakinkan. Bukankah saudara tiap-tiap minggu mendengar Pemberitaan Sabda Allah itu? Mengapa saudara masih bimbang dan meragukan kekuasaan TUHAN dalam hidup ini?
Saudara-saudara yang kekasih, hal yang kedua yang di jelaskan dalam nas kita ada Pesan Yesus kepada murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil itu.  "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Ini adalah amanat atau perintah dari Yesus sendiri kepada murid-murid-Nya. Injil harus di beritakan keseluruh belahan dunia ini. Kebangkitan Yesus adalah INjil atau kabar baik yang harus di beritakan, dimaklumkan, dan di proklamirkan ke seluruh penjuru dunia. Injil harus di beritakan pada segala Makluk. Kata makluk disini tidak saja dalam arti hewan; burung-burung dan binatang. Kata “Makluk” juga berarti manusia. Manusia juga di sebut makluk hidup. Dalam beberapa terjemahan kata Makluk di terjemahkan dengan “Manusia”. Klinkert 1863; 1870: chalaik; Terjem. L: kepada sekalian alam;  dan dua terjemahan lainnya di terjemahkan dengan “orang”. Beritakanlah Injil itu; itulah Amanat agung atau mandat yang harus dilakukan. Bukan perkara mau atau tidak; bukan juga perkara paksaan. Tetapi ini adalah merupakan kewajiban mutlak orang Percaya atau anak-anak Tuhan. Memberitakan Injil; sama dengan mengajar, mendidik dan membimbing orang bagaimana mereka dapat mengenal Injil itu. Dan ini adalah tugas kita semua! Tugas kita akan mengajar Isteri; suami dan anak-anak kita tentang Injil itu. Tugas kita akan memproklamirkan Injil itu melalui sikap dan tindakan kita; tugas kita akan memaklumkan Injil itu dalam pekerjaan dan pelayanan kita. Bagaimana pengaruh Injil itu dalam kehidupan ini hendaknya terasa dan terlihat dalam kehidupan keseharian kita. Injil harus kelihatan didalam pekerjaan yang kita lakukan. Artinya ciptaan TUHAN seperti hewan; burung-burung dan sebagai tidak harus mengeluh karena perlakukan manusia. Tetapi sebaliknya mereka bersukacita. Bd.Rom.8. Dan Kita tidak bisa mencuci tangan dan mengatakan; ini bukan tugasku. Pergilah ke seluruhh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makluk. Itu saja pesan dan mandate yang kita dengar dan yang kita terima. Maka pertanyaannya sudahkah saudara melakukannya? Adakah injil itu di beritakan dalam rumah tanggamu? Adakah Injil itu bergema dalam hidupmu?
Saudara-saudara yang kekasih, selain dari itu dikatakan Yesus; Siapa yang percaya dan dipermandikan akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tidak cukup bahwa orang datang kepada percaya saja dan bahwa orang mengaku Percayanya. Tetapi lebih dari itu mereka harus di permandikan. Sebab permandian itu adalah tanda yang di beri yang menjelaskan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Tanda yang di beri bahwa kita adalah milik Allah. Dalam ayat ini Markus berbicara tentang orang yang datang kepada Percaya; orang kafir yang oleh karena pemberitaan Injil itu percaya kepada Yesus Kristus. Sebab itu ayat ini tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak permandian anak kecil, yang nota benenya adalah anak-anak orang percaya. Sebab anak-anak orang Percaya sudah terisab dalam Perjanjian Allah. Karena itu orang yang tidak percaya, yang tidak menerima Injil itu tidak dapat di permandikan. Pengetahuan akan Kebenaran Sabda TUHAN kita harus miliki sehingga tidak mudah kita terombang-ambing dan akhirnya di permandikan/baptis ulang.
Saudara-saudara memberitakan Injil yakni mengajar; membimbing dan menuntun orang memang tidak mudah. Pekerjaan yang berat dan termulia adalah memberitakan Injil. Pelbagai tantangan; penderitaan dan kesukaran serta kesengsaraan akan dihadapi. Penolakan akan dialami. Dan semua ini adalah realita yang tidak dapat kita tutupi; Alkitab banyak berbicara tentang semua itu juga sejarah gereja penuh dengan berita seperti itu. Yesus tahu bahwa Gereja-Nya akan mengalami semua itu. Sebab itu IA mengatakan dalam ayat 17-18;
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."
Apa yang dikatakan Yesus ini terjadi dan dialami oleh murid-murid Yesus bahkan oleh Gereja TUHAN hingga hari ini. Kita melihat Petrus dan Yohanes; keduanya menyembuhkan orang lumpuh itu; Petrus membangkitkan Dorkas/Tabita, dan menyembuhkan Eneas. Paulus memegang ular tedung, dan selalu luput dari bahaya yang mengancam hidupnya. Bahkan hingga hari ini Tuhan menyertai kita dan selalu meluputkan kita dari pelbagai marabahaya yang mengancam hidup kita. Tentu saja pemberitaan tentang tanda-tanda itu tidak dalam arti bahwa kita harus menantikan tanda-tanda itu terjadi dulu baru kita percaya. Kebenaran yang mau di tegaskan oleh Yesus kepada kita dalam Ayat ini bahwa IA menyertaimu, IA tidak membiarkanmu sendirian. Bagimu Ia adalah penjaga yang setia, yang tidak pernah mengantuk. Bd. Maz. 121. Tuhan itu menyertaimu hai sidang TUHAN Gereja Bebas WAINGAPU dari sekarang hingga Maranatha. Janji-Nya: Aku menyertai kamu hingga kesudahan Alam!

Amin.

Maudjawa, 13 April 2014

Perjamuan Malam TUHAN yang Kudus

Mazmur.  17 : 1 – 15 

Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Mazmur 17 disebut Doa Daud. Sehubungan dengan itu kita melihat ungkapan permohonan Daud dalam Doanya. Kata-kata Dengarkanlah; perhatikanlah dan berilah menjelaskan kesungguhan dan ketekunan seorang Daud dalam permohonannya. Ia sungguh-sungguh membutuhkan/memerlukan TUHAN dalam kondisi yang dialaminya. Musuh-musuh yang ingin mencabut nyawanya telah menghadangnya. Seakan-akan Daud  memaksa TUHAN dalam doanya. Karena dengarkanlah; perhatikanlah dan berilah telinga dapat berarti jangan menutup telinga-Mu; ya TUHAN, pasanglah telinga-MU, halakanlah telinga-Mu kepada permohonanku; jangan menutup mata-Mu tetapi lihatlah apa yang terjadi, yang aku alami; ungkapan doa seperti ini melukiskan hubungan Daud dengan TUHAN. Ada yang hubungan yang intim; hubungan yang karib dan mesra antara Daud dengan TUHAN. Sebab itu dengan tulus Daud  berkata periksa perkaraku yang benar; hakimi aku; dengan bibir yang tak berdalih aku datang kepada-Mu; Engkau tahu bahwa hatiku tidak jahat, tetapi bersih. Tidak ada yang tertutup. Bagi anak-anak TUHAN berkata jujur adalah harus menjadi pilihan. Bukan perkara menyombongkan diri atau berlaku angkuh dihadapan TUHAN. Daud tidak dapat di samakan dengan orang Farisi itu yang di jelaskan dalam Injil Lukas 18. Karena Daud tidak berbuat sesuatu yang baik untuk di puji orang. Kesetiaan dan ketaatan Daud tidak dapat di ragukan. Tetapi orang yang setia dan taat serta beribadah kepada TUHAN tidak berarti bebas dari masalah atau tantangan dalam hidupnya. Mereka akan selalu mengalami persoalan demi persoalan akan membentuk mereka menjadi Daud-Daud yang tetap berdoa. Tuhan Yesus dalam penderitaan-Nya ketika di tinggalkan Bapa-Nya tetap berseru kepada Bapa-Nya. Sebab itu mungkin saja saat ini saudara-saudara mengalami pergolakan dalam rumah tangga; masalah yang terjadi tak kunjung selesai, kita melihat seakan-akan TUHAN marah bahkan kita merasa seperti TUHAN meninggalkan kita. Tetaplah berdoa kepada-Nya dan katakanlah kepada-Nya; dengarkanlah aku ya TUHAN; perhatikanlah penderitaan. Jangan putus asa; jangan berkata dalam hatimu; apa gunanya lagi aku berdoa, Tuhan tidak lagi mendengarkan aku. Jangan pula menipu TUHAN dalam doamu! Karena ketulusan dan kejujuranmu tidak tersembunyi di hadapan-Nya. Apakah benar engkau mencari TUHAN dan memerlukan DIA dalam hidupmu? Atau jangan-jangan TUHAN hanya menjadi tempat pelarian sesaat saja.
Daud tidak hanya berdoa saja! Tetapi dalam kesehariannya berhadapan dengan masalah-masalah yang ada ia tetap menjaga dirinya untuk tetap hidup sesuai dengan Sabda TUHAN. Banyak orang Kristen yang hanya bisa berdoa tetapi bagaimana sikapnya dan perilakunya dalam kesehariannya dalam rumah tangga dan dalam pekerjaannya serta dalam pergaulannya tidak lagi di perhatikan apakah semuanya sudah sesuai dengan Sabda TUHAN atau tidak. Mereka berdosa dengan tangannya dengan melakukan kekerasan, dengan mulutnya yang selalu mencaci maki orang, menipu dan menfitnah orang, berdosa dengan seluruh hidupnya. Mereka tidak peduli apakah hidup mereka baik di hadapan TUHAN atau tidak. Apapun yang dihadapi Daud ia tetap memohon pertolongan TUHAN. Dalam hidupnya ia tetap bertekun akan melakukan apa yang TUHAN kehendaki daripadanya. Sebab itu ia tetap kuat dan tidak goyah. Pertanyaannya; bagaimana dengan saudara? Jangan hanya berdoa, meminta pertolongan TUHAN tetapi engkau tidak mau melakukan kehendak-Nya.
Saudara-saudara yang kekasih,
Daud berdoa dengan penuh keyakinan. Ia yakin TUHAN menjawabnya!  Sebab itu jika engkau masih ragu-ragu; lebih baik tidak berdoa! Daud berani berdoa kepada TUHAN menghalakan telinga-Nya, mendengarkan permohonannya. Daud berani meminta TUHAN untuk menunjukkan Kasih setia-Nya, untuk melindungi Daud seperti biji mata terhadap musuh-musuh; menyembunyikannya di bawah naungan Sayap TUHAN dan membalaskan kejahatan musuh-musuhnya. Karena ia tahu bahwa dirinya tidak begitu kuat; ia lemah dan tidak berdaya. Dan lebih dari itu TUHANlah yang membalas bukan dirinya. Sebab itu serumit apapun masalahmu dan sekejam apapun orang berbuat kepadamu serta sesakit apapun hatimu. Jangan pernah membalas. Berikan tempat kepada murka Allah untuk membalas kejahatan musuh-musuhmu. Belajar dari Yesus Kristus yang ketika di ludahi; di cerca; di fitnah dan sebagainya tidak membalas. Sebaliknya berdoa untuk musuh-musuh-Nya. juga Stepanus; Paulus dan banyak syahid lainnya tidak membalas. Sebab itu kita perlu belajar; Daud tidak hanya mengatakan dengan bibirnya; kenyataannya ia benar tidak membalas kejahatan musuh-musuhnya. Daud tidak membalas kejahatan Saul, yang ingin membunuhnya. Tidak membalas kejahatan Simei karena telah menfitnahnya. Jangan berperinsip daripada saya yang mati lebih dulu; lebih baik dia yang harus mati. Atau daripada saya di bikin rusak oleh kelakuannya mendingan saya sikat saja. Daud bukan seorang yang miskin strategi/taktik dalam menghadapi musuh-musuhnya. Ia tahu kapan atau saat mana musuh-musuhnya lengah (tidak siap) dan ia tahu bagaimana caranya melumpuhkan musuh-musuhnya. Tetapi ia tidak bergantung pada semua strategi itu, ia sepenuhnya bergantung pada TUHAN.
Saudara-saudara yang kekasih, mari kita merenungkan Kebenaran Sabda TUHAN ini. Jadilah seperti Daud yang terus berdoa dan belajar Yesus yang selalu berdoa. Karena hanya dengan doa engkau akan tetap kuat. Bawa persoalanmu dalam doa kepada-Nya. Dan jangan putus asa karena TUHAN ingin membentuk engkau melalui masalah-masalah yang terjadi dalam hidupmu hingga akhirnya engkau menjadi Daud yang setia dan taat! Daud yang bertekun melakukan Sabda-Nya.

Amin

Waingapu, 06 April 2014
 Syukuran Perjamuan Malam TUHAN yang Kudus

Mazmur. 16: 1 – 11.   


Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Mazmur 16 ini di sebut Miktam dari Daud.  Apa sebenarnya arti Miktam itu tidak begitu jelas. Ada penafsir yang mengatakan; Miktam itu berarti Nyanyian Emas; ada pula yang menterjemahkan Miktam dengan peringatan. Dan ada yang mengatakan Miktam adalah berarti Nyanyian. Dalam beberapa terjemahan seperti Terj. Lama; terj. Klinkert 1863 dan 1870 dan terj. Leydeker kata Miktam tidak di ketemukan. Kata itu hanya di ketemukan dalam terj. Baru. Saya setuju bila kata Miktam itu di terjemahkan dengan kata Nyanyian saja.
Saudara-saudara yang kekasih, mungkin saja kata Miktam itu penting bagi kita untuk di ketahui apa artinya. Tetapi hal yang jauh lebih penting adalah isi yang terkandung dalam Mazmur ini. Kita melihat ada Permohonan Daud kepada TUHAN untuk menjaganya atau melindunginya. Menarik! Sebab dalam keadaan nyawanya terancam atau hidupnya berada dalam bahaya maut Daud tidak mencari tempat perlindungan yang lain. Ia mencari TUHAN dan memohon kepada-Nya akan menjaganya. Juga Daud tidak mengandalkan pengikutnya dan tentaranya. Kita tahu bahwa baik sebelum ia menjadi raja maupun setelah ia menjadi raja kemahiran Daud dalam menghadapi musuh-musuhnya tidak dapat di ragukan lagi. Selain dari itu ia selalu terkawal. Sehingga kemungkinan musuh menerobosnya masuk untuk merenggut nyawanya sangat kecil sekali. Disisi lain, Daud selalu mengalami kebaikan TUHAN dimana ia selalu di lepaskan dari bahaya-bahaya yang mengancam hidupnya. Tetapi sekalipun demikian Daud tidak mengandalkan kekuatannya dan kekuatan tentaranya. Ia juga tidak mengatakan mengapa saya harus memohon lagi pertolongan TUHAN, karena toch TUHAN juga akan melepaskan saya? Betapapun penjagaan itu dilakukan berlapis-lapis; jika TUHAN mengijinkannya maka semua itu akan sia-sia. Bd. Maz.127
Saudara-saudaraku, adalah perenungan bagi kita; kemanakah kita mencari pertolongan dalam segala masalah yang kita hadapi? Kepada orang pintarkah? Kepada para dukun? Kepada para Pendeta yang punya karunia khusus? Ataukah kita harus berguru/bermeditasi di tempat-tempat keramat untuk mendapat kekuatan magis? Ketika engkau merasa terdesak apakah TUHAN yang engkau cari untuk memohon pertolongan-Nya?
Daud memohon TUHAN menjaganya karena ia betul berlindung pada-Nya. Ini berbeda dengan kebanyakan orang Kristen. Mereka meminta TUHAN menjaganya/melindunginya sementara itu mereka berlindung di tempat lain. Meminta pendeta atau hamba TUHAN mendoakannya sementara itu bergantung dan mencari kekuatan yang lain. Karena itu jika engkau memohon kepada TUHAN akan melindungimu. Pertanyaannya benarkah engkau berlindung pada TUHAN saja?
Lalu mengapa Daud memohon kepada TUHAN untuk menjaganya? Ayat 2 mengatakan;….."Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!". Sebuah pernyataan yang tegas dan pengakuan percaya yang tulus dari Daud. Benar, tidak ada tempat yang lebih baik, lebih nyaman, lebih tenang dan damai. Hanya TUHAN semata-mata yang baik. Sebaik-baiknya sahabatmu, isterimu, suamimu, tetanggamu, harus diakui bahwa mereka pernah menyakitimu, membuatmu kecewa, dan sebagainya. Apalagi jika kita melihat kepada keadaan yang ada di dunia ini; kekerasan, korupsi, ketidakadilan  dan lain-lainnya yang terjadi. Membuat kita mengambil kesimpulan dan mengaku; TUHAN tidak ada yang baik selain Engkau. Kesadaran bahwa TUHAN yang baik membuat Daud tetap berlindung pada TUHAN.
Saudara-saudaraku, selain dari pengkuan itu orang – orang Kudus adalah orang-orang mulia yang menjadi kesukaan Daud. Tentu sangat di rasakan perbedaan jika kita bergaul dengan orang-orang se-percaya dengan kita dengan orang-orang lain. Tidak ada jarak; tidak ada perbedaan; kehidupan anak-anak TUHAN selalu cocok satu sama lainnya. Betapapun tidak mereka itu telah di tebus dan oleh percaya telah menjadi satu dalam Yesus Kristus. Sebab itu hal penting yang kita perhatikan adalah bahwa hendaknya hidup kita berbeda dari mereka yang belum Yesus Kristus, bukannya malah sama. Bukannya kita malah mengikuti mereka dan hidup sesuai dengan cara hidup mereka. Kita harus berbuat kalau boleh mereka harus merasa semakin terasing dan merasa malu oleh segala tatanan hidup mereka yang tidak sesuai dengan Sabda TUHAN. Bukan malah kita membanggakan kehadiran mereka. Kita harus berbuat seperti yang dikatakan dalam ayat Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku. Kita harus tegas; tidak cukup dengan kata-kata saja tetapi hendaknya di sertai dengan sebuah tindakan nyata. Jika kita mengatakan tidak; ya harus tidak. Jangan malah mengambil bagian. Komitmen dengan keyakinanmu, jangan goyah! Sebab itu kita boleh bertanya; apakah orang-orang Kudus itu juga menjadi kesukaanmu dalam hidup ini? Bagaimanakah keseharianmu dengan sesama orang-orang Kudus itu atau yang sepercaya dengan engkau?
Pengakuan Daud tentang TUHAN tidak hanya berhenti bahwa TUHAN itu baik. Dalam ayat-ayat selanjutnya Daud menyebut TUHAN itu Warisannya/pusakanya yakni bagian yang terpenting bagi siapapun. Pusaka adalah aset yang sangat berharga. Jika bagi orang lain pisau; pedang; tombak pusaka adalah aset yang sangat berharga, yang sekaligus diyakini dapat melindungi dirinya dan keluarganya. Maka Daud disini berbeda; TUHAN adalah Penjaganya. Dialah yang paling berharga dalam hidupnya dan hidup keluarganya. TUHAN adalah Pialanya. Kebanggaan setiap pemenang bila mereka bisa merebut piala atau tropi yang di siapkan. Orang akan melakukan apa saja bila mereka dapat merebut Tropi/piala dalam sebuah pertandingan. Mereka akan melakukan pawai dan mengadakan pesta untuk merayakan kemenangan mereka. Bagi Daud hanya TUHAN semata yang menjadi kebanggaannya. Daud tidak meragukan sedikitpun apakah ia memenangkan pertandingan atau tidak. Sebab TUHAN tidak pernah memberikan yang lain kepadanya; Tuhan tidak pernah bergeser dari janji-janji-Nya. Manusia bisa berubah; namamu bisa di coret dari daftar sehingga kita tidak menerima apa-apa. Orang bisa bermain dan akhirnya yang keluar sebagai pemenang bukan engkau tetapi orang lain. Karena itu Daud melihat bahwa di luar TUHAN kita tidak dapat tidur dengan tenang dan bangun dengan penuh kelegaan. Karena seluruh malam kita akan berpikir apa saya bisa; apakah saya berhasil; apakah saya bisa menggapai impian saya? Hanya dalam TUHAN engkau tenang; apapun keadaannya ketika engkau terjaga dari tidur engkau akan melihat bahwa TUHAN berdiri disampingmu. Sebab itu sukacita dan sorak-sorai serta ketentraman menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupmu. Betapa tidak  Ayat 11 mengatakan; Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. TUHAN tidak meninggalkan engkau; karenanya engkau tidak mungkin stress dengan kegagalan yang terjadi; TUHAN menyediakan sukacita yang berlimpah-limpah. Didalam Yesus engkau akan merasakan kenikmatan abadi.


Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar