Senin, 29 Desember 2014

Khotbah Ester.7:1 – 10;1 Raja-raja. 8: 54 – 66 dan Ester. 9: 1 – 10: 3


Waingapu, 23 Februari 2014
 Ester.    9 : 1 – 10: 3


Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Dalam kebaktian ini saya lagi berkhotbah dari kitab Ester. Dan kali ini kita bersama-sama mendengar khotbah dari Ester 9 dan 10. Kedua pasal terakhir dari kitab ini di tutup dengan sebuah peristiwa yang menggembirakan. Dimana Tuhan membalas kejahatan musuh-musuh umat-Nya. Haman sudah di sulakan pada tiang gantungan yang di buatnya dan sekarang giliran musuh-musuh orang Yahudi lainnya di binasakan serta ke-10 anak Haman di sulakan pada tiang gantungan.  Sementara orang Yahudi selamat dari pembantaian dan Mordekhai semakin besar kuasanya dalam kerajaan Ahasyweros serta Ester sang ratu semakin masyur namanya. Semua ini tentu mengingatkan kita kepada kata bijak yang mengatakan bahwa “Kehidupan ini bagaikan roda pedati yang berputar”. Artinya ada saatnya bagian tertentu dari roda itu berada di bawah namun ada saatnya juga posisinya berada di atas. Itu berarti tidak selamanya orang akan mengalami keburukan hidup, ada saatnya juga orang akan mengalami kebahagiaan. Dalam Kitab Pengkhotbah mengatakan;  ada waktu untuk menangis ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk lahir dan ada waktu untuk meninggal dan seterusnya.
Kondisi hidup yang dialami oleh orang-orang Yahudi di dalam kekuasaan raja Ahasyweros, yang berhasil menjajah 127 wilayah, mulai dari India hingga Etiopia (bd. 1:1) banyak mengalami ketidak-adilan, khususnya oleh peran jahat dari tokoh kalangan istana yang sangat berpengaruh yakni Haman bin Hamedata. Rencana jahat Haman yang bermaksud untuk membunuh Mordekhai, berhasil digagalkan oleh ratu Ester. Haman di sulakan di tiang yang di buatnya untuk Mordekhai sementara Mordekhai  diangkat menjadi orang kedua setelah raja, menggantikan posisi dan jabatan Haman. Mordekhai menjadi pejabat yang paling dihormati sesudah raja Ahasyweros. Tetapi sekalipun Haman sudah mati namun rancangan jahatnya untuk membinasakan dan memusnakan orang-orang Yahudi masih berpengaruh. Dalam pasal 8 di jelaskan  bahwa telah di keluarkan surat yang berisi dimana orang-orang Yahudi boleh mempertahankan dirinya terhadap musuh-musuhnya. Surat itu di tulis atas peran Ester dan Perintah Mordekhai. Orang-orang Yahudi boleh melakukan perlawanan kepada musuh mereka di seluruh daerah wilayah penjajahan Kerajaan Ahasyweros. Suasana/keadaan berubah secara total. Mereka yang dulunya hidup dalam ketakutan dan kesedihan kini berubah menjadi girang dan penuh sukacita. Sebab sekarang keselamatan mereka dijamin. Dulunya mereka sangat takut kepada musuh-musuh mereka, sekarang justru mereka sangat ditakuti oleh musuh-musuh yang merancangkan kejahatan  bagi mereka. Bahkan bukan itu saja, para pembesar yang dulunya melakukan penindasan terhadap mereka, kini mau tidak mau berbalik arah dan mendukung penuh perjuangan mereka. Hal ini terlihat jelas dalam ayat 3. Para pembesar Kerajaan sekarang melindungi orang-orang Yahudi dan memberikan dukungan penuh atas segala kebutuhan orang Yahudi.
Saudara-saudara yang kekasih, ada beberapa hal penting, yang disampaikan dari Ester 9-10 ini:
Yang pertama;  Tuhan tidak pernah membiarkan umat-Nya terus menderita.
Pe-Mazmur 37 mengatakan; tidak selamanya orang benar itu dibiarkan goyah sebab Tuhan menopang tangannya. Maz. 37: 23-24. Kita belajar untuk memahami bahwa ada saat untuk menderita namun ada saat pula untuk kita bahagia; ada masa dimana kita berduka namun juga kita saatnya nanti kita akan menjalani masa penuh sukacita. Tetapi yang sangat penting dalam hal ini adalah bahwa Tuhan itu adil. Dan bahwa TUHAN akan membalas setiap perbuatan jahat musuh-musuh kita. Tidak mungkin Tuhan membiarkan umatNya. Tugas kita adalah, belajar untuk bersabar menunggu waktu penyelamatan, seperti yang di berikan Tuhan kepada orang Yahudi.  
Sebab itu di saat kita mengalami penderitaan, ketidakadilan dan penindasan dari orang lain, jangan Mengapa Tuhan belum bertindak; mengapa TUHAN membiarkan saya mengalami ini? Keadilan macam apakah yang Tuhan berikan ini? Yakinlah bahwa TUHAN akan menjawab kita!
Yang kedua belajar dari Ester dan Mordekhai
Ester dan Mordekhai bersedia dipakai Tuhan untuk melaksanakan rencana-Nya. Ester dan Mordekhai dengan posisi penting di Kerajaan Ahasyweros peduli dengan penderitaan sebangsanya. Mereka berjuang hingga akhirnya orang-orang Yahudi boleh menikmati sukacita dan kelegaan.
Kita di panggil bukan untuk hidup untuk diri kita sendiri. Tetapi kita di panggil untuk melakukan sesuatu dalam hidup ini. Paling tidak seperti yang di buat oleh Ester dan Mordekhai. Di manapun kita berada, di level apapun posisi kita dalam pemerintahan, dalam perusahan ataupun di tengah masyarakat, kita dipanggil untuk menjadi seperti Ester dan Mordekhai modern yang setia dan rela mempertaruhkan hidupnya demi menyelamatkan bangsanya. Kita semua diajak melalui Kebenaran Firman ini untuk mampu memperjuangkan keadilan dan mengutamakan pembekaan kepada mereka yang menjadi korban. Sudah saatnya kita orang keluar dari sona nyaman dan siap mampertaruhkan hidup kita demi membebaskan orang lain dari ancaman ketidakadilan dan perlakuan buruk. Sebagai orang percaya sudah seharusnya kita berani melakukannya, sebab Tuhan menempatkan saudara di posisi itu karena ada maksud dan tujuan serta bukan suatu kebetulan.
Karena itu, mari kita melakukan Firman ini dalam hidup kita, dengan memulainya di dalam keluarga. Ajarkan anak-anak kita, ingatkan suami atau Istri kita bahwa apapun yang kita alami dalam hidup ini, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kejahatan, ketidakadilan, kelaliman, penindasan dan sebagainya tidak harus menjadi sebab kita tidak sabar. Kita harus membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebab Tuhan pasti membalas kejahatan musuh-musuh kita. Sebaliknya seperti yang Yesus katakan mengasihi musuh kita dan memberkati orang yang menganiaya kita. Apa yang disampaikan dalam kitab Ester ini perlu kita garis bawahi; bahwa tepat pada waktunya TUHAN pasti menjawab umat-Nya. Jika melalui Ester dan Mordekhai TUHAN menyatakan Keselamatan kepada umat-Nya. Maka bagi kita hari ini Keselamatan itu telah di nyatakan melalui Yesus Kristus. Dan apa yang dilakukan Allah ini hendaknya menjadi  dasar yang kokoh bagi kita selama hidup kita di dunia ini. Allah mau lewat apa yang kita alami saat ini membentuk saudara dan saya menjadi anak-anak TUHAN yang berani dan rela menjadi alat di tangan Tuhan untuk membela kebenaran dan berpihak kepada mereka yang mengalami ketidak-adilan. Ia mau supaya kita tetap bersabar menantikan kepulangan-Nya yang kedua kali. Saat mana kita tidak pernah lagi mengalami ketidakadilan dan kelaliman. Saat itulah benar-benar kita mengalami sukacita penuh.

AMIN.





Waingapu, 16 Februari 2014

 1 Raja-raja.     8 : 54 – 66          

Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Dalam hidup ini siapapun kita selalu menikmati yang namanya berkat TUHAN. Apakah itu pemberian yang kita terima secara langsung maupun yang kita terima secara tidak langsung kita mengaku bahwa itu adalah berkat TUHAN. Apapun bentuknya material atau non material, pasti kita mengakui itu sebagai berkat TUHAN. Juga ketika kita sukses (berhasil); bisnis kita, jualan kita dan studi kita berjalan lancar. Rencana dan program kerja dapat berjalan dengan baik; penyertaan dan pimpinan TUHAN semuanya adalah berkat TUHAN. Kita mengaku sebagai pemberian TUHAN bagi kita dalam hidup ini.
Salomo juga menyadari bahwa apakah itu kebesaran, kekuasaan, kekayaan, kemenangan terhadap musuh, kedamaian, selesaainya pembangunan rumah TUHAN dan seterusnya adalah berkat TUHAN yang di berikan kepadanya. Menarik sekali saudara-saudara, pengakuan Salomo bahwa semua itu adalah berkat TUHAN bersumber dari sebuah kesadaran. Dan itu kelihatan dimana doa Salomo di warnai dengan pengakuan bahwa apa yang terjadi adalah  berkat TUHAN bagi umat-Nya. Persoalannya dalam hal ini bahwa tidak semua anak-anak TUHAN menyadari apa yang di berikan TUHAN sebagai berkat TUHAN bagi mereka. Mereka cenderung melihat itu sebagai hasil dari usaha dan kerja keras mereka. Hanya sebahagian kecil orang Kristen yang menyadari akan berkat TUHAN. Saudara-saudaraku jika banyak orang Kristen yang belum menyadari akan kesuksesan, keberhasilan, kedamaian, kesenangan, kelepasan bahkan ketidak beruntungan sebagai berkat TUHAN. Bagaimanakah dengan saya dan saudara-saudara? Yakinkah saudara bahwa saudara adalah orang yang menyadari bahwa kebahagiaan, kesuksesan dan seterusnya adalah berkat TUHAN bagi saudara? Jika benar kita menyadari itu sebagai berkat TUHAN. Maka kita pasti akan membuktikan itu dalam untkapan syukur kita seperti yang dilakukan Salomo.
Salomo tidak hanya mengaku tetapi bersyukur kepada TUHAN lewat doanya. Ia menaikkan pujian kepada Allah atas kesetiaan dan kasih karunia-Nya kepada umat-Nya. Salomo mengucap syukur kepada TUHAN lewat doanya. Jadi yang pertama yang kita lakukan berdoa kepada TUHAN; bersyukur karena TUHAN telah memberikan sehingga kita berhasil. Berdoa bersama-sama dalam rumah tangga. Datang di gereja supaya kita berdoa bersama-sama, bersyukur kepada TUHAN. Seperti yang di buat Salomo di sini ia berdoa bersama-sama dengan umat TUHAN. Kita harus melatih diri, melatih anak-anak kita sehingga mereka sudah tahu bersyukur lewat doa-doanya. Mari kita renungkan apakah kita selalu bersyukur kepada TUHAN; menaikkan puji-pujian atas segala berkat-Nya dalam hidup kita? Pernahkah saudara masuk kamar atau mengambil saat teduh untuk mensyukuri berkat TUHAN dalam hidup ini?
Hal yang berikut  Salomo tidak hanya bersyukur, menaikkan puji-pujian kepada TUHAN. Tetapi ia juga meminta agar TUHAN memberkati umat-Nya yakni selalu mencondongkan hati bangsa Israel hanya kepada TUHAN. Salomo berdoa kepada TUHAN agar umat TUHAN tetap hidup menurut perjanjian yang telah dibuat antara Allah dengan nenek moyang mereka dan supaya kasih karunia Allah tetap menyertai mereka. Berkat ALLAH sangat penting bagi umat TUHAN. Inilah yang akan memampukan umat Allah untuk membedakan siapa mereka di hadapan Allah dan dunia ini. Mereka adalah umat kesayangan Allah dan umat yang kudus. Ketaatan dan kesetiaan mereka sebagai umat TUHAN akan memimpin dan membuat mereka menjadi berkat bagi orang lain.
Saudara-saudaraku kita tidak hanya bersyukur karena TUHAN memberkati kita. Tetapi juga memohon agar Allah memberkati pekerjaan kita, anak-anak kita, isteri kita, suami kita, rencana kita dan seterusnya. Sudahkah saudara melakukannya? Jika saudara merasa anak saudara tidak di berkati sudahkah saudara memohonnya dengan sungguh kepada TUHAN? Dikala saudara merasa merasa denominasi di mana saudara bergereja tidak di berkati pernahkah saudara memohon berkat kepada TUHAN untuk Gereja-Nya? Salomo bersyukur karena Tuhan sudah memberi segala sesuatu yang perlu untuk pembangunan rumah TUHAN itu sehingga rumah itu dapat selesai di bangun. Tetapi selain dari itu ia memohon agar TUHAN memberkati umat-Nya yakni dengan memberi ketaatan dan kesetiaan bahkan memberi kepadanya keadilan. Berkat Tuhan ini, kita harus minta untuk diri kita, anak kita dan untuk sidang TUHAN. Sudahkah engkau meminta supaya dirimu setia dan taat? Sudahkah engkau meminta supaya anak-anakmu taat dan setia? Sudahkah engkau memohon supaya suami dan isterimu setia dan taat?
Hal yang terakhir yang kita belajar dari Sabda TUHAN ini Salomo tidak hanya bersyukur lewat doanya, tidak hanya memohon berkat TUHAN bagi dirinya dan umat Israel. Tetapi lebih dari itu ia membuktikan rasa syukurnya lewat persembahan-persembahan, ada dua puluh dua ribu ekor lembu sapi dan seratus dua puluh ribu ekor kambing domba yang di persembahkan kepada TUHAN. Persembahan yang jumlahnya cukup besar. Tetapi persembahan yang bernilai bukan karena kuantitasnya, melainkan kualitas hatinya, yang mau dan rela mempersembahkannya dengan segenap hati bagi Tuhan. Salomo merasakan begitu agung dan mulia TUHAN itu baginya. Karena itu layaklah jika ia dan umat TUHAN mempersembahkan persembahan-persembahan itu. Layaklah jika ia memberikan banyak-banyak. Bahkan dengan itupun Salomo belum dapat membalas kebaikan TUHAN dalam hidupnya.
Sama seperti Salomo kitapun mengalami berkat TUHAN dalam hidup ini. Kita menyadari TUHAN telah memberkati kita dengan cara yang luar biasa. Tetapi apakah yang telah engkau buat saat ini? Cukupkah dengan engkau mengatakan bahwa TUHAN memberkati saya dengan cara yang luar biasa? Atau haruskah ada sesuatu yang engkau buat untuk membukti rasa syukurmu itu? Engkau di beri dan terus di beri; engkau di berkati dan di berkati; engkau di beri usia satu tahun; engkau mendapat kenaikan pangkat, tetapi dimanakah persepuluhanmu? Engkau mendapat banyak rejeki; berapakah yang engkau persembahkan kepada-Nya? Bukankah seharusnya hatimu mengatakan: bagaimana kubalaskan TUHAN segala kebaikan-Nya kepadaku? Yang terbaik bukanlah karena banyak atau sedikit yang engkau berikan. Tetapi apakah saat ini engkau telah menyadari akan kebaikan TUHAN itu dalam hidupmu atau tidak. Karena setiap persembahan yang terbaik bersumber dari hati yang insaf akan kebaikan TUHAN itu. Karena itu biarlah dengan segenap hati, kita mengungkapkan rasa syukur kita atas segala apa yang telah Tuhan perbuat dalam hidup kita, dengan mempersembahkan yang terbaik dari apa yang kita punya, baik itu waktu, tenaga, materi dan apa pun yang ada bagi kemuliaan-Nya.

Amin
Waingapu, 09 Februari 2014
Ester.  7 : 1 – 10

Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Bagaimanakah perasaanmu jika orang memusuhi dan membencimu? Jika orang selalu berusaha memotong dan menggunting serta mengambil apa yang seharusnya adalah milikmu? Jika orang selalu menghalangi kariermu dan usahamu? Sakitnya tentunya tidak ada duanya! Saya yakin berat untuk memberikan maaf kepada orang yang demikian. Lalu bagaimanakah jika mereka yang membenci dan memusuhi mengalami pembalasan alias hukuman? Tentu kita bahagia dan senang, bukan?  Karena sakit hati kita telah terbalaskan.
Apa yang dialami oleh saya yakin belum seberapa dari apa yang dialami Mordekhai; Ester dan bangsa Yahudi. Kita mungkin hanya di tuduh; di fitnah dan di cela. Kita mungkin hanya mengalami dimana orang selalu memotong segala pergerakan kita. Sebagai pegawai kita mungkin hanya mengalami dimana kita di potong dan di gunting dari posisi yang seharusnya kita terima. Sakit hati tidak dapat kita hindari! Keinginan kita untuk membalaskan sakit hati kita pasti kuat dan besar. Mordekhai, Ester dan bangsa Yahudi hendak di musnahkan. Tanggal dan waktu sudah di tetapkan. Haman sudah mendirikan tiang yang kurang lebih panjangnya 20 meter lebih untuk menyulakan Mordekhai. Yang menarik bahwa bukan upaya pembalasan dendam yang ada pada Mordekhai dan Ester. Tetapi Mordekhai dan Ester mencari dan terus mencari, berjuang dan terus berjuang untuk mendapatkan solusi dan jalan keluar. Sekalipun adalah sudah tidak mungkin lagi. Karena tidak mungkin merubah surat keputusan yang sudah di Meterai raja dan sudah di undangkan. Tidak mungkin mengalahkan seorang Haman yang kurang lebih menjabat kedudukan sebagai perdana menteri. Tidak mungkin ada orang yang dapat menggagalkan apa yang di rencanakan oleh seorang Haman yang menjadi orang kedua dalam Kerajaan Ahasyweros. Dan inilah di takuti oleh siapapun kita sesuatu sudah di undangkan; maka tidak mungkin ada orang yang melawan undang-undang yang ada. Dan kalaupun ada maka hukuman pasti akan dilakukan.
Inilah yang kita belajar dari Sabda TUHAN ini dikala semuanya sudah alias tidak ada jalan keluar lagi. Tidak seharusnya kita putus asa. Tidak seharus saudara mengatakan tidak ada guna saya berjuang karena semuanya sudah pasti dan jelas. Saya tidak mungkin lagi merubah keadaan. Jangan berkata; “sudah takdirku.” Karma sudah berjalan! Lakukan sesuatu; karena itulah kewajiban kita sebagai anak-anak TUHAN. Jangan Pasrah dan jangan pula mudah menyerah! Kita belajar dari Mordekhai dan Ester. Bukan beruhasa membalaskan kejahatan dengan Kejahatan. Mordekhai berduka; melolong-lolong di tengah-tengah kota Susan, menyuruh Ester menghadap Raja. Dan Ester meminta untuk berpuasa dan ia juga sendiri berpuasa dan siap mengambil resiko sekalipun nyawa adalah taruhannya. Ester mengundang raja dan Haman untuk datang ke pesta yang diadakannya. Dan ketika tepat waktunya ia menyampaikan keinginannya kepada raja Ahsayweros. Pertanyaan saudara-saudara; apakah yang engkau lakukan dikala masalah menimpa dirimu? Adakah upaya yang engkau lakukan? Dan jika benar ada! Seperti apakah upaya-upaya yang engkau lakukan? Pernahkah engkau bertekun dalam doa? Adakah komitmen yang tulus dalam dirimu? Ester bertekun dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Baginya bukan apakah ia akan berhasil tetapi melakukan sesuatu sebagai tanggungjawabnya sebagai seorang ratu. Dan kita melihat bukan kesenangan diri yang di kejarnya, dan bukan kepentingan pribadi yang ingin di milikinya. Tetapi yang di inginkannya adalah Keselamatannya dan keselamatan bangsanya. Hidup aman yakni bebas dari ancaman pembantaian seperti yang telah di rancang oleh Haman itulah yang di inginkannya. Dan inilah keteladanan yang kita belajar dari Ester. Jangan Gegabah dan jangan pula termakan Emosi. Tetapi bertindaklah dengan penuh bijaksana. Kuasai dirimu dan tetap tenang!
Mengapa saya mengatakan kebuntuan bukanlah keadaan yang seharusnya membuat kita putus asa dan pasrah. Karena TUHAN selalu ada bagi anak-anak-Nya. Ia selalu membuat segala sesuatu indah pada waktunya! TUHAN selalu datang dengan pertolongan-Nya tepat pada waktunya. TUHAN tidak pernah terlambat untuk menolong anak-anak-Nya. Kita melihat dalam kitab Ester ini bahwa benar TUHAN tidak terlambat. Haman sudah siap tiang untuk menyulakan Mordekhai; dan paginya dia menghadap raja untuk meminta menyulakan Mordekhai. Tetapi TUHAN berbuat lain, maksudnya tidak tercapai lagi. Karena ia harus memberikan saran, pendapat dan petunjuk bagaimana orang yang kepadanya raja berkenan menghormati dan memberikan kebesaran. Belum lagi Haman menyampaikan rencananya, ia harus mengarakkan Mordekhai lebih dari dirinya. TUHAN mengubah dan membalikkan rencana jahat Haman tadi menjadi seuatu yang sangat berharga bagi Mordekhai. Bileam yang harus datang mengutuk bangsa Israel malah dihadapan Balak ia memberkati orang Israel. TUHAN berkuasa akan mengubah apa yang tidak mungkin bagi kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar