Waingapu, 23 Februari 2014
Ester.
9 : 1 – 10: 3
Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus
Kristus,
Dalam kebaktian ini saya lagi
berkhotbah dari kitab Ester. Dan kali ini kita bersama-sama mendengar khotbah
dari Ester 9 dan 10. Kedua pasal terakhir dari kitab ini di tutup dengan
sebuah peristiwa yang menggembirakan. Dimana Tuhan membalas kejahatan
musuh-musuh umat-Nya. Haman sudah di sulakan pada tiang gantungan yang di
buatnya dan sekarang giliran musuh-musuh orang Yahudi lainnya di binasakan
serta ke-10 anak Haman di sulakan pada tiang gantungan. Sementara orang
Yahudi selamat dari pembantaian dan Mordekhai semakin besar kuasanya dalam
kerajaan Ahasyweros serta Ester sang ratu semakin masyur namanya. Semua ini
tentu mengingatkan kita kepada kata bijak yang mengatakan bahwa “Kehidupan
ini bagaikan roda pedati yang berputar”. Artinya ada saatnya bagian
tertentu dari roda itu berada di bawah namun ada saatnya juga posisinya berada
di atas. Itu berarti tidak selamanya orang akan mengalami keburukan hidup, ada
saatnya juga orang akan mengalami kebahagiaan. Dalam Kitab Pengkhotbah
mengatakan; ada waktu untuk menangis ada waktu untuk tertawa; ada waktu
untuk lahir dan ada waktu untuk meninggal dan seterusnya.
Kondisi hidup yang dialami
oleh orang-orang Yahudi di dalam kekuasaan raja Ahasyweros, yang berhasil
menjajah 127 wilayah, mulai dari India hingga Etiopia (bd. 1:1) banyak
mengalami ketidak-adilan, khususnya oleh peran jahat dari tokoh kalangan istana
yang sangat berpengaruh yakni Haman bin Hamedata. Rencana jahat Haman yang
bermaksud untuk membunuh Mordekhai, berhasil digagalkan oleh ratu Ester. Haman
di sulakan di tiang yang di buatnya untuk Mordekhai sementara Mordekhai
diangkat menjadi orang kedua setelah raja, menggantikan posisi dan jabatan
Haman. Mordekhai menjadi pejabat yang paling dihormati sesudah raja Ahasyweros.
Tetapi sekalipun Haman sudah mati namun rancangan jahatnya untuk membinasakan
dan memusnakan orang-orang Yahudi masih berpengaruh. Dalam pasal 8 di jelaskan
bahwa telah di keluarkan surat yang berisi dimana orang-orang Yahudi boleh
mempertahankan dirinya terhadap musuh-musuhnya. Surat itu di tulis atas peran
Ester dan Perintah Mordekhai. Orang-orang Yahudi boleh melakukan perlawanan
kepada musuh mereka di seluruh daerah wilayah penjajahan Kerajaan Ahasyweros.
Suasana/keadaan berubah secara total. Mereka yang dulunya hidup dalam ketakutan
dan kesedihan kini berubah menjadi girang dan penuh sukacita. Sebab sekarang
keselamatan mereka dijamin. Dulunya mereka sangat takut kepada musuh-musuh
mereka, sekarang justru mereka sangat ditakuti oleh musuh-musuh yang
merancangkan kejahatan bagi mereka. Bahkan bukan itu saja, para pembesar
yang dulunya melakukan penindasan terhadap mereka, kini mau tidak mau berbalik
arah dan mendukung penuh perjuangan mereka. Hal ini terlihat jelas dalam ayat
3. Para pembesar Kerajaan sekarang melindungi
orang-orang Yahudi dan memberikan dukungan penuh atas segala
kebutuhan orang Yahudi.
Saudara-saudara yang
kekasih, ada beberapa hal penting, yang disampaikan dari Ester 9-10
ini:
Yang pertama; Tuhan tidak pernah membiarkan
umat-Nya terus menderita.
Pe-Mazmur 37 mengatakan; tidak
selamanya orang benar itu dibiarkan goyah sebab Tuhan menopang tangannya. Maz.
37: 23-24. Kita belajar untuk memahami bahwa ada saat untuk menderita namun ada
saat pula untuk kita bahagia; ada masa dimana kita berduka namun juga kita
saatnya nanti kita akan menjalani masa penuh sukacita. Tetapi yang sangat
penting dalam hal ini adalah bahwa Tuhan itu adil. Dan bahwa TUHAN akan
membalas setiap perbuatan jahat musuh-musuh kita. Tidak mungkin Tuhan
membiarkan umatNya. Tugas kita adalah, belajar untuk bersabar menunggu waktu
penyelamatan, seperti yang di berikan Tuhan kepada orang Yahudi.
Sebab itu di saat kita
mengalami penderitaan, ketidakadilan dan penindasan dari orang lain, jangan
Mengapa Tuhan belum bertindak; mengapa TUHAN membiarkan saya mengalami ini?
Keadilan macam apakah yang Tuhan berikan ini? Yakinlah bahwa TUHAN akan
menjawab kita!
Yang kedua belajar dari Ester dan Mordekhai
Ester dan Mordekhai bersedia
dipakai Tuhan untuk melaksanakan rencana-Nya. Ester dan Mordekhai dengan posisi
penting di Kerajaan Ahasyweros peduli dengan penderitaan sebangsanya. Mereka
berjuang hingga akhirnya orang-orang Yahudi boleh menikmati sukacita dan
kelegaan.
Kita di panggil bukan untuk
hidup untuk diri kita sendiri. Tetapi kita di panggil untuk melakukan sesuatu
dalam hidup ini. Paling tidak seperti yang di buat oleh Ester dan Mordekhai. Di
manapun kita berada, di level apapun posisi kita dalam pemerintahan, dalam
perusahan ataupun di tengah masyarakat, kita dipanggil untuk menjadi seperti
Ester dan Mordekhai modern yang setia dan rela mempertaruhkan hidupnya demi
menyelamatkan bangsanya. Kita semua diajak melalui Kebenaran Firman ini untuk
mampu memperjuangkan keadilan dan mengutamakan pembekaan kepada mereka yang
menjadi korban. Sudah saatnya kita orang keluar dari sona nyaman dan siap
mampertaruhkan hidup kita demi membebaskan orang lain dari ancaman
ketidakadilan dan perlakuan buruk. Sebagai orang percaya sudah seharusnya kita
berani melakukannya, sebab Tuhan menempatkan saudara di posisi itu karena ada
maksud dan tujuan serta bukan suatu kebetulan.
Karena
itu, mari kita melakukan Firman ini dalam hidup kita,
dengan memulainya di dalam keluarga. Ajarkan anak-anak kita, ingatkan suami
atau Istri kita bahwa apapun yang kita alami dalam hidup ini, Tuhan
tidak pernah meninggalkan kita. Kejahatan, ketidakadilan, kelaliman, penindasan
dan sebagainya tidak harus menjadi sebab kita tidak sabar. Kita harus membalas
kejahatan dengan kejahatan. Sebab Tuhan pasti membalas kejahatan musuh-musuh
kita. Sebaliknya seperti yang Yesus katakan mengasihi musuh kita dan memberkati
orang yang menganiaya kita. Apa yang disampaikan dalam kitab Ester ini perlu
kita garis bawahi; bahwa tepat pada waktunya TUHAN pasti menjawab umat-Nya.
Jika melalui Ester dan Mordekhai TUHAN menyatakan Keselamatan kepada umat-Nya.
Maka bagi kita hari ini Keselamatan itu telah di nyatakan melalui Yesus
Kristus. Dan apa yang dilakukan Allah ini hendaknya menjadi dasar yang
kokoh bagi kita selama hidup kita di dunia ini. Allah mau lewat apa yang kita
alami saat ini membentuk saudara dan saya menjadi anak-anak TUHAN yang berani
dan rela menjadi alat di tangan Tuhan untuk membela kebenaran dan berpihak
kepada mereka yang mengalami ketidak-adilan. Ia mau supaya kita tetap
bersabar menantikan kepulangan-Nya yang kedua kali. Saat mana kita tidak pernah
lagi mengalami ketidakadilan dan kelaliman. Saat itulah benar-benar kita
mengalami sukacita penuh.
AMIN.
Waingapu, 16 Februari 2014
1 Raja-raja. 8 : 54 – 66
Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus
Kristus,
Dalam hidup ini siapapun kita
selalu menikmati yang namanya berkat TUHAN. Apakah itu pemberian yang kita
terima secara langsung maupun yang kita terima secara tidak langsung kita
mengaku bahwa itu adalah berkat TUHAN. Apapun bentuknya material atau non
material, pasti kita mengakui itu sebagai berkat TUHAN. Juga ketika kita sukses
(berhasil); bisnis kita, jualan kita dan studi kita berjalan lancar. Rencana
dan program kerja dapat berjalan dengan baik; penyertaan dan pimpinan TUHAN
semuanya adalah berkat TUHAN. Kita mengaku sebagai pemberian TUHAN bagi kita
dalam hidup ini.
Salomo juga menyadari bahwa
apakah itu kebesaran, kekuasaan, kekayaan, kemenangan terhadap musuh,
kedamaian, selesaainya pembangunan rumah TUHAN dan seterusnya adalah berkat
TUHAN yang di berikan kepadanya. Menarik sekali saudara-saudara, pengakuan
Salomo bahwa semua itu adalah berkat TUHAN bersumber dari sebuah kesadaran. Dan
itu kelihatan dimana doa Salomo di warnai dengan pengakuan bahwa apa yang
terjadi adalah berkat TUHAN bagi umat-Nya. Persoalannya dalam hal ini
bahwa tidak semua anak-anak TUHAN menyadari apa yang di berikan TUHAN sebagai
berkat TUHAN bagi mereka. Mereka cenderung melihat itu sebagai hasil dari usaha
dan kerja keras mereka. Hanya sebahagian kecil orang Kristen yang menyadari
akan berkat TUHAN. Saudara-saudaraku jika banyak orang Kristen yang belum
menyadari akan kesuksesan, keberhasilan, kedamaian, kesenangan, kelepasan
bahkan ketidak beruntungan sebagai berkat TUHAN. Bagaimanakah dengan saya dan
saudara-saudara? Yakinkah saudara bahwa saudara adalah orang yang menyadari
bahwa kebahagiaan, kesuksesan dan seterusnya adalah berkat TUHAN bagi saudara?
Jika benar kita menyadari itu sebagai berkat TUHAN. Maka kita pasti akan
membuktikan itu dalam untkapan syukur kita seperti yang dilakukan Salomo.
Salomo tidak hanya mengaku
tetapi bersyukur kepada TUHAN lewat doanya. Ia menaikkan pujian kepada Allah
atas kesetiaan dan kasih karunia-Nya kepada umat-Nya. Salomo mengucap syukur
kepada TUHAN lewat doanya. Jadi yang pertama yang kita lakukan berdoa kepada
TUHAN; bersyukur karena TUHAN telah memberikan sehingga kita berhasil. Berdoa
bersama-sama dalam rumah tangga. Datang di gereja supaya kita berdoa
bersama-sama, bersyukur kepada TUHAN. Seperti yang di buat Salomo di sini ia
berdoa bersama-sama dengan umat TUHAN. Kita harus melatih diri, melatih
anak-anak kita sehingga mereka sudah tahu bersyukur lewat doa-doanya. Mari kita
renungkan apakah kita selalu bersyukur kepada TUHAN; menaikkan puji-pujian atas
segala berkat-Nya dalam hidup kita? Pernahkah saudara masuk kamar atau
mengambil saat teduh untuk mensyukuri berkat TUHAN dalam hidup ini?
Hal yang berikut Salomo
tidak hanya bersyukur, menaikkan puji-pujian kepada TUHAN. Tetapi ia juga
meminta agar TUHAN memberkati umat-Nya yakni selalu mencondongkan hati bangsa
Israel hanya kepada TUHAN. Salomo berdoa kepada TUHAN agar umat TUHAN tetap
hidup menurut perjanjian yang telah dibuat antara Allah dengan nenek moyang
mereka dan supaya kasih karunia Allah tetap menyertai mereka. Berkat ALLAH
sangat penting bagi umat TUHAN. Inilah yang akan memampukan umat Allah untuk
membedakan siapa mereka di hadapan Allah dan dunia ini. Mereka adalah umat
kesayangan Allah dan umat yang kudus. Ketaatan dan kesetiaan mereka sebagai
umat TUHAN akan memimpin dan membuat mereka menjadi berkat bagi orang lain.
Saudara-saudaraku kita tidak
hanya bersyukur karena TUHAN memberkati kita. Tetapi juga memohon agar Allah
memberkati pekerjaan kita, anak-anak kita, isteri kita, suami kita, rencana
kita dan seterusnya. Sudahkah saudara melakukannya? Jika saudara merasa anak
saudara tidak di berkati sudahkah saudara memohonnya dengan sungguh kepada
TUHAN? Dikala saudara merasa merasa denominasi di mana saudara bergereja tidak
di berkati pernahkah saudara memohon berkat kepada TUHAN untuk Gereja-Nya?
Salomo bersyukur karena Tuhan sudah memberi segala sesuatu yang perlu untuk
pembangunan rumah TUHAN itu sehingga rumah itu dapat selesai di bangun. Tetapi
selain dari itu ia memohon agar TUHAN memberkati umat-Nya yakni dengan memberi
ketaatan dan kesetiaan bahkan memberi kepadanya keadilan. Berkat Tuhan ini,
kita harus minta untuk diri kita, anak kita dan untuk sidang TUHAN. Sudahkah
engkau meminta supaya dirimu setia dan taat? Sudahkah engkau meminta supaya
anak-anakmu taat dan setia? Sudahkah engkau memohon supaya suami dan isterimu
setia dan taat?
Hal yang terakhir yang kita
belajar dari Sabda TUHAN ini Salomo tidak hanya bersyukur lewat doanya, tidak
hanya memohon berkat TUHAN bagi dirinya dan umat Israel. Tetapi lebih dari itu
ia membuktikan rasa syukurnya lewat persembahan-persembahan, ada dua puluh dua
ribu ekor lembu sapi dan seratus dua puluh ribu ekor kambing domba yang di
persembahkan kepada TUHAN. Persembahan yang jumlahnya cukup besar. Tetapi
persembahan yang bernilai bukan karena kuantitasnya, melainkan kualitas
hatinya, yang mau dan rela mempersembahkannya dengan segenap hati bagi Tuhan.
Salomo merasakan begitu agung dan mulia TUHAN itu baginya. Karena itu layaklah
jika ia dan umat TUHAN mempersembahkan persembahan-persembahan itu. Layaklah
jika ia memberikan banyak-banyak. Bahkan dengan itupun Salomo belum dapat
membalas kebaikan TUHAN dalam hidupnya.
Sama seperti Salomo kitapun
mengalami berkat TUHAN dalam hidup ini. Kita menyadari TUHAN telah memberkati
kita dengan cara yang luar biasa. Tetapi apakah yang telah engkau buat saat
ini? Cukupkah dengan engkau mengatakan bahwa TUHAN memberkati saya dengan cara
yang luar biasa? Atau haruskah ada sesuatu yang engkau buat untuk membukti rasa
syukurmu itu? Engkau di beri dan terus di beri; engkau di berkati dan di
berkati; engkau di beri usia satu tahun; engkau mendapat kenaikan pangkat,
tetapi dimanakah persepuluhanmu? Engkau mendapat banyak rejeki; berapakah yang
engkau persembahkan kepada-Nya? Bukankah seharusnya hatimu mengatakan:
bagaimana kubalaskan TUHAN segala kebaikan-Nya kepadaku? Yang terbaik bukanlah
karena banyak atau sedikit yang engkau berikan. Tetapi apakah saat ini engkau
telah menyadari akan kebaikan TUHAN itu dalam hidupmu atau tidak. Karena setiap
persembahan yang terbaik bersumber dari hati yang insaf akan kebaikan TUHAN
itu. Karena itu biarlah dengan segenap hati, kita mengungkapkan rasa syukur
kita atas segala apa yang telah Tuhan perbuat dalam hidup kita, dengan
mempersembahkan yang terbaik dari apa yang kita punya, baik itu waktu, tenaga,
materi dan apa pun yang ada bagi kemuliaan-Nya.
Amin
Waingapu, 09 Februari 2014
Ester. 7 : 1 – 10
Saudara – saudara
yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Bagaimanakah perasaanmu jika
orang memusuhi dan membencimu? Jika orang selalu berusaha memotong dan
menggunting serta mengambil apa yang seharusnya adalah milikmu? Jika orang
selalu menghalangi kariermu dan usahamu? Sakitnya tentunya tidak ada duanya!
Saya yakin berat untuk memberikan maaf kepada orang yang demikian. Lalu
bagaimanakah jika mereka yang membenci dan memusuhi mengalami pembalasan alias
hukuman? Tentu kita bahagia dan senang, bukan? Karena sakit hati kita
telah terbalaskan.
Apa yang dialami oleh saya
yakin belum seberapa dari apa yang dialami Mordekhai; Ester dan bangsa Yahudi.
Kita mungkin hanya di tuduh; di fitnah dan di cela. Kita mungkin hanya
mengalami dimana orang selalu memotong segala pergerakan kita. Sebagai pegawai
kita mungkin hanya mengalami dimana kita di potong dan di gunting dari posisi
yang seharusnya kita terima. Sakit hati tidak dapat kita hindari! Keinginan
kita untuk membalaskan sakit hati kita pasti kuat dan besar. Mordekhai,
Ester dan bangsa Yahudi hendak di musnahkan. Tanggal dan waktu sudah di
tetapkan. Haman sudah mendirikan tiang yang kurang lebih panjangnya 20 meter
lebih untuk menyulakan Mordekhai. Yang menarik bahwa bukan upaya pembalasan
dendam yang ada pada Mordekhai dan Ester. Tetapi Mordekhai dan Ester mencari
dan terus mencari, berjuang dan terus berjuang untuk mendapatkan solusi dan
jalan keluar. Sekalipun adalah sudah tidak mungkin lagi. Karena tidak mungkin
merubah surat keputusan yang sudah di Meterai raja dan sudah di undangkan.
Tidak mungkin mengalahkan seorang Haman yang kurang lebih menjabat kedudukan
sebagai perdana menteri. Tidak mungkin ada orang yang dapat menggagalkan apa
yang di rencanakan oleh seorang Haman yang menjadi orang kedua dalam Kerajaan
Ahasyweros. Dan inilah di takuti oleh siapapun kita sesuatu sudah di undangkan;
maka tidak mungkin ada orang yang melawan undang-undang yang ada. Dan kalaupun
ada maka hukuman pasti akan dilakukan.
Inilah yang kita belajar dari
Sabda TUHAN ini dikala semuanya sudah alias tidak ada jalan keluar lagi. Tidak
seharusnya kita putus asa. Tidak seharus saudara mengatakan tidak ada guna saya
berjuang karena semuanya sudah pasti dan jelas. Saya tidak mungkin lagi merubah
keadaan. Jangan berkata; “sudah takdirku.” Karma sudah berjalan! Lakukan
sesuatu; karena itulah kewajiban kita sebagai anak-anak TUHAN. Jangan Pasrah
dan jangan pula mudah menyerah! Kita belajar dari Mordekhai dan Ester. Bukan
beruhasa membalaskan kejahatan dengan Kejahatan. Mordekhai berduka;
melolong-lolong di tengah-tengah kota Susan, menyuruh Ester menghadap Raja. Dan
Ester meminta untuk berpuasa dan ia juga sendiri berpuasa dan siap mengambil
resiko sekalipun nyawa adalah taruhannya. Ester mengundang raja dan Haman untuk
datang ke pesta yang diadakannya. Dan ketika tepat waktunya ia menyampaikan
keinginannya kepada raja Ahsayweros. Pertanyaan saudara-saudara; apakah yang
engkau lakukan dikala masalah menimpa dirimu? Adakah upaya yang engkau lakukan?
Dan jika benar ada! Seperti apakah upaya-upaya yang engkau lakukan? Pernahkah
engkau bertekun dalam doa? Adakah komitmen yang tulus dalam dirimu? Ester
bertekun dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Baginya bukan apakah ia
akan berhasil tetapi melakukan sesuatu sebagai tanggungjawabnya sebagai seorang
ratu. Dan kita melihat bukan kesenangan diri yang di kejarnya, dan bukan
kepentingan pribadi yang ingin di milikinya. Tetapi yang di inginkannya adalah
Keselamatannya dan keselamatan bangsanya. Hidup aman yakni bebas dari ancaman
pembantaian seperti yang telah di rancang oleh Haman itulah yang di
inginkannya. Dan inilah keteladanan yang kita belajar dari Ester. Jangan
Gegabah dan jangan pula termakan Emosi. Tetapi bertindaklah dengan penuh bijaksana.
Kuasai dirimu dan tetap tenang!
Mengapa saya mengatakan
kebuntuan bukanlah keadaan yang seharusnya membuat kita putus asa dan pasrah.
Karena TUHAN selalu ada bagi anak-anak-Nya. Ia selalu membuat segala sesuatu
indah pada waktunya! TUHAN selalu datang dengan pertolongan-Nya tepat pada
waktunya. TUHAN tidak pernah terlambat untuk menolong anak-anak-Nya. Kita
melihat dalam kitab Ester ini bahwa benar TUHAN tidak terlambat. Haman sudah
siap tiang untuk menyulakan Mordekhai; dan paginya dia menghadap raja untuk
meminta menyulakan Mordekhai. Tetapi TUHAN berbuat lain, maksudnya tidak
tercapai lagi. Karena ia harus memberikan saran, pendapat dan petunjuk
bagaimana orang yang kepadanya raja berkenan menghormati dan memberikan
kebesaran. Belum lagi Haman menyampaikan rencananya, ia harus mengarakkan
Mordekhai lebih dari dirinya. TUHAN mengubah dan membalikkan rencana jahat
Haman tadi menjadi seuatu yang sangat berharga bagi Mordekhai. Bileam yang
harus datang mengutuk bangsa Israel malah dihadapan Balak ia memberkati orang
Israel. TUHAN berkuasa akan mengubah apa yang tidak mungkin bagi kita.
Hal yang berikut yang di
jelaskan adalah bagaimana seorang Haman yang tadinya begitu membenci Mordekhai
dan ingin menyulakan Mordekhai serta membantai semua orang Yahudi. Sekarang
harus menanggung akibat dari perbuatannya Benarlah apa yang dikatakan Amsal.
22:8 Orang yang
menabur kecurangan akan menuai bencana. Haman harus digantung diatas tiang yang
disiapkannya untuk Mordekhai. Tidak apa ampun dan maaf bagi seorang Haman.
Walau ia mengemiskan nyawanya, berlutut dihadapan Ester. Ahasyweros tidak
mengampuninya sebaliknya memerintahkan untuk menyulakan Haman pada tiang yang
sudah di siapkannya untuk Mordekhai. Itulah cara TUHAN membalaskan kejahatan
mereka yang membenci dan memusuhi umat-Nya. Jika beberapa saat yang lalu
Mordekhai, Ester dan seluruh orang Yahudi yang harus memakai kain kabung,
menangis dan siap mempertaruhkan nyawanya. Kini TUHAN membuat Haman merasakan
kepedihan itu bahkan lebih dari itu, Haman harus menutup mukanya dan sekarang
orang menutup mukanya karena ia menanti hukuman mati. Haman di
gantung. Siapa menggali lobang akan jatuh kedalamnya, dan siapa
menggelindingkan batu, batu itu akan kembali menimpa dia" Ams 26:27. Tidak ada rancangan orang jahat yang tidak
dipatahkan TUHAN. Walau padamulanya kelihatan mulus. Kelihatannya seperti
mereka aman-aman, mereka tidak akan pernah sukses. Karena tepat pada waktunya
TUHAN akan membongkar rencana mereka dan pelakunya akan dihukumnya. TUHAN akan
membalas kejahatan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar