Senin, 29 Desember 2014

Khotbah Kristen Januarit 2014

  
Waingapu, 26 Januari 2014
Ester .  4 : 1 – 17 

Saudara-saudara yang kekasih dalam TUHAN kita Yesus Kristus,
Nas kita dalam kebaktian ini dari Kitab Ester. Kitab Ester merupakan salah satu dari 39 kitab yang ada dalam Perjanjian Lama. Dan Kitab Ester adalah kitab sangat unik, sebab dalam kitab Ester nama Allah atau nama YHWH tidak ada tertulis. Tetapi sekalipun demikian melalui Mordekhai dan Ester, Allah menyatakan kedaulatan dan pemeliharaan-Nya. Nama Ester berasal dari nama dewa Babilonia yaitu Ishtar. Sedangkan Nama ibraninya adalah Hadasa (Ester 2:7). Dalam bahasa Persia kata Ester berarti bintang. Dan Hadasa berarti pohon Murd. Di usianya yang masih muda, Ester terpilih menjadi seorang Ratu mendampingi Raja Ahasyweros. Sebagai seorang Ratu, Ester dikelilingi oleh banyak pelayan. Sehingga apapun yang di inginkannya selalu tersedia. Ester dikenal sebagai perempuan nomor satu dalam kerajaan Ahasyweros.
Dalam pasal 4 yang menjadi nas kita dalam kebaktian ini di jelaskan tentang apa yang dilakukan Mordekhai untuk menolong orang Yahudi. Rencana Haman untuk membantai, memusnahkan dan membunuh orang-orang Yahudi diseluruh daerah kekuasaan raja Ahasyweros tinggal menunggu waktu. Sebentar lagi sakit hatinya dan dendamnya terhadap Mordekhai dan orang-orang akan segera terbalaskan. Betapa tidak surat yang berisikan perintah pembunuhan dan pemusnahan terhadap orang – orang Yahudi yang sudah di meteraikan dengan cincin meterai raja sudah di kirim dan di terima bahkan perintah itu sudah diundangkan. Itulah berarti bahwa perintah untuk membasmi orang-orang Yahudi adalah keputusan yang tidak dapat di cabut dan ditarik kembali. Perintah itu harus di laksanakan dan dilakukan. Waktu pelaksaannya sudah di tetapkan pada tanggal 13 bulan keduabelas yakni bulan Adar. Pada hari itu dan tanggal itu orang-orang Yahudi harus di bantai. Benar-benar nyawa orang-orang Yahudi terancam. Itulah kondisi yang di hadapi. Suatu keadaan yang benar-benar menyakitkan dan menyiksa. Kita bisa membayangkan jika kita yang mengalami hal semacam itu. Bilakah ada perintah dan undang-undang yang mengharuskan orang-orang Kristen di basmi atau di bantai. Saya yakin kita tidak akan mungkin tenang. Karena belum lagi ada perintah untuk membunuh dan membasmi orang – orang Kristen; kita sudah tidak tenang ketika dikatakan bahwa Syariat Islam itu harus di berlakukan.
Pertanyaannya saudara-saudara bagaimanakah sikap dan apakah yang dilakukan Mordekhai dan Ester? Apakah tindakan Mordekhai ketika mengetahui hal itu? Bagi Mordekhai itulah adalah masalah yang serius dan berat. Mengoyakkan pakaian, memakai kabung dan abu serta melolong-lolong melukiskan kesedihan dan duka yang begitu dalam yang dialami Mordekhai. Ia meraung, menangis dengan suara keras di tengah-tengah kota. Begitu dalam kepedihan; hatinya demikian tersayat dan teriris. Dan ternyata bukan hanya Mordekhai saja, juga semua orang Yahudi di segala daerah pemerintahan Ahasyweros berkabung, berpuasa dan meratap. Sebentar lagi mereka akan di bantai oleh musuh-musuhnya. Kemanakah mereka harus mengadukan perkara itu? Masih adakah orang yang bisa menolong mereka? Sungguh sulit, karena mereka berada dalam kekuasaan raja Ahasyweros. Untuk kita sekarang kita masih punya badan HAM, PBB dan badan-badan lainnya. Kita bisa mengadukan masalah-masalah tersebut kepada mereka yang di percayakan. Maalah kekerasan dalam rumah tangga kita bisa lapor ke Polisi; kekerasan terhadap anak kepada LPA dan seterusnya.
Bukan hanya berkabung dan meraung dengan suara keras, Mordekhai juga memberitahukan hal itu pada Ester. Dan mendesak Ester untuk menghadap raja menyampaikan hal itu. Sekalipun Ester mengatakan bahwa tidak mungkin ia menghadap raja, jika ia tidak di panggil. Karena sama halnya ia melawan hukum dan itu berarti hukum mati untuk dirinya. Dan jika ia tidak menghadap bangsanya berada dalam bahaya yang besar. Haruskah Ester mempertaruhkan nyawanya untuk bangsanya? Haruskah Ia melakukan sesuatu yang menuntut sebuah pengorbanan? Ini hal yang dilematis bagi Ester. Tetapi kata-kata dari Mordekhai membakar semangat Ester; membuat Ester pada akhirnya berani mengambil keputusan. Mungkin untuk hal inilah engkau menjadi ratu? Apapun terjadi Ester sudah siap. Bahkan jika karena untuk bangsanya ia harus mati ia sudah siap. Jika terpaksa aku mati, biarlah aku mati. Bukan itu saja yang di di tegaskan oleh Ester. Ester juga memerintahkan supaya orang-orang Yahudi di kota Susan berpuasa.
Saudara-saudaraku itulah Mordekhai dan Ester. Itulah yaang mereka lakukan berhadapan dengan masalah yang serius. Mordekhai berkabung, menaburkan abu atas dirinya, Ia meraung/menangis dengan suara yang nyaring di tengah-tengah kota. Begitu pedih hatinya, begitu tersayat hatinya; ia tidak kuat menghadapi kenyataan, dimana bangsanya di bantai dan di musnahkan. Karenanya Ia melakukan dan berbuat sesuatu dengan sekuat tenaga dan tidak akan berhenti sebelum mendapat respon yang baik. Sebelum ia mendapat respon dari Ester, ia tidak tenang. Ia harus memastikan Ester telah mengambil bagian dan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi. Saudara-saudaraku bukankah banyak masalah yang juga terjadi dalam hidupmu? Ketika engkau berhadapan dengan masalah; seperti apakah tindakanmu? Adakah sesuatu yang engkau lakukan? Atau jangan-jangan engkau tidak punya tindakan apa-apa! Ada masalah yang serius yang terjadi dalam negara ini; Korupsi; perselingkuhan; perampokan; kekerasan dalam Rumah tangga; kekerasan terhadap anak dan sebagainya. Adakah sesuatu yang engkau buat? Ada masalah serius yang terjadi dalam gereja TUHAN seperti penceraian; ketidaktaatan, dan banyak kejahatan lainnya. Ada masalah yang serius terjadi dalam rumah tanggamu dan pekerjaanmu. Adakah sesuatu yang engkau lakukan?. Masih adakah Mordekhai-Mordekhai hari ini, yang berkabung, dan menangis dangan suara nyaring karena kepedihan yang dialaminya? Keadaan dalam negara, dalam kelompok; organisasi, rumah tangga dan Gereja membutuhkan kehadiran Mordekhai-Mordekhai baru. Mordekhai yang tidak pernah berhenti dan Mordekhai yang benar-benar ngotot untuk terciptanya sebuah perubahan. Keadaan yang ada membutuhkan orang-orang benar-benar berpuasa dan meratap. Membutuhkan kelompok orang-orang yang benar-benar sedih dan  hancur hatinya. Perubahan dan pembaharuan dalam negara; dalam organisasi; yayasan; dalam rumah tangga dan dalam gereja tidak cukup hanya dengan sebuah semangat dan doa. Tetapi harus di sertai dengan keterlibatan kita secara langsung dengan siap/rela mempertaruhkan hidup ini. Saudara merindukan terjadi sebuah perubahan atau pembaharuan dalam hidup ini? Pertanyaannya adakah sesuatu yang engkau lakukan?     
       Selain dari itu kita belajar dari Ester. Ia seorang pribadi yang tetap dan terus belajar dari Mordekhai. Dan hasilnya ia menjadi seorang yang tegas dan berani menanggung resiko. Jika terpaksa aku mati, biarlah aku mati. Saya yakin bila saudara–saudara menjadi pribadi yang tetap dan terus belajar. Saya yakin kita akan menjadi orang-orang yang tegas dan berani. Untuk itu mari saudara-saudara kita belajar dan terus belajar dari Yesus, walau kondisinya rumit kita harus tetap tenang. Sehingga akhirnya kita menjadi orang-orang yang mampu berkata tidak pada penindasan dan ketidakadilan. Ester yakin, kematiannya tidaklah jauh lebih berharga dibanding kehendak Tuhan baginya untuk menjadi alat keselamatan bagi bangsanya.

Amin



Waingapu, 19 Januari 2013
 Peneguhan Penetua: Kolo Bunga, SE dan Stepanus Kilimandu, SE.MM
Dan Peneguhan Diaken : Philips Rido Dida

Injil Lukas.       3 : 1 – 20

Saudara-saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Dalam perikop ini di jelaskan tentang Yohanes Pemandi. Sehubungan dengan pokok tersebut ada dua hal penting yang di jelaskan, yakni:
1.        Kapan Yohanes pemandi memulai TUGASnya?
2.       Bagaimana Yohanes melakukan Tugasnya?
Dalam ayat 1-2 kita membaca bahwa Firman TUHAN datang kepada Yohanes pada tahun ke-15 masa pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah GalileaFilipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene, pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar. Dokter Lukas adalah seorang ahli sejarah. Sebagai seorang ahli sejarah, Lukas mencatat dengan baik dalam Injilnya; tentu tidak saja akan menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang ahli sejarah tetapi akan melukiskan kondisi yang sedang berlangsung. Dengan menyebut Kaisar Tiberius; Pontius Pilatus dan seterusnya; Lukas menjelaskan bahwa dunia sedang di perintah oleh Kaisar Tiberius. Dunia berada dalam kekuasaannya. Dan siapakah Tiberius? Tiberius adalah seorang Kaisar memerintah selama 23 tahun, 14-37 M. Tiberius bukan orang yang ramah, tapi seorang pribadi yang kejam, kasar dan bengis. Seorang Kaisar yang haus seks. Dia dapat berhubungan seks dengan orang dari segala usia dan jenis kelamin. Dia sangat kejam terhadap rakyatnya. Dan bertindak sewenang-wenang mengeksekusi orang. Salah satu kekejamannya adalah memberi orang minum anggur dalam jumlah besar. Kemudian ia memerintahkan orang-orangnya mengikat alat kelamin mereka dengan begitu erat sehingga mereka tidak bisa buang air kecil. Sementara itu ada banyak rumor tentang Kaisar Tiberius di Capri terlibat homoseksualitas dan kejahatan seksual dengan anak laki-laki muda, dan segala macam kekejaman yang tidak manusiawi. Kekejaman Kaisar Tiberius juga dalam hal ia melemparkan orang muda yang telah melakukan hubungan seks dengan dia dan korban tersebut dibuang ke laut. Di perkirakan sudah 1000 orang lebih yang menjadi korban! Dan karena kekejamannya rakyat tidak berdukacita karena kematiannya tetapi bersukacita. Kematian berlangsung tragis, ia di bunuh oleh Caligula dengan bekaman bantal.
Sedangkan di Israel sendiri di kaisar menempatkan Pontius Pilatus yang memerintah di Yudea sebagai Gubernur. Pontius Pilatus seorang gubernur yang kejam dan tidak adil. Ia pernah membunuh banyak orang Yahudi; mencampurkan darah mereka denga persembahan yang mereka persembahkan. Pontius Pilatus di kenal sebagai sosok yang menghina orang-orang Yahudi. Sementara di Galilea sendiri di perintah oleh Herodes Antipas; seorang raja yang kejam, yang haus akan kekausaan dan seks. Ia tidak peduli dengan kebenaran, yang penting keinginannya terpenuhi. Sebab itu ia tidak segan-segan menangkap dan memenggal kepala Yohanes pemandi. Ia menceraikan isterinya, puteri Aretas dan menikahi Herodias isteri saudaranya Herodes Filipus. Dan karena Aretas tidak menerima baik perbuatannya itu; Aretas di bunuh. Herodes adalah Seorang yang sangat ambisius dengan kekuasaan. Yesus menjuluki Herodes dengan sebutan si Serigala. Sementara di luar Israel Kaisar Romawi menempatkan Filipus di Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias di Abilene. Itulah situasi/kondisi yang ada. Itulah Sejarah dunia! Sejarah dunia begitu kelam! Dunia dipenuhi dengan kekejaman, ketidakadilan, dan seterusnya.
Dan umat Allah sendiri di perintah oleh penguasa-penguasa yang jahat, kejam dan bengis itu! Penguasa yang haus akan seks, haus akan kekuasaan dan seterusnya. Lalu bagaimanakah dengan soal kehidupan rohani umat TUHAN? Dokter Lukas menyebut bahwa yang menjadi Imam Besar adalah HANAS dan KAYAFAS. Keberadaan mereka sebagai Imam Besar di tentukan oleh pemerintah yang berkuasa. Sebab itu segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah/kebaktian di rumah harus sesuai dengan keinginan pemerintah. Karena itu mereka tidak peduli dengan soal ibadah di rumah Tuhan. Pada saat Yesus di adili menjadi jelas siapa sebenarnya Hanas dan Kayafas itu. Singkat kata kehidupan rohani umat TUHAN sudah dingin. Kemunafikan ada dimana-mana dan ketidak adilan berlangsung dimana-mana.
Dalam kondisi seperti ini Firman Tuhan datang kepada Yohanes di padang gurun. Yohanes di panggil untuk melayani. Berat dan tidak mudah melayani dalam kondisi yang seperti ini. Tetapi di panggil untuk terjun dan harus berada di medan laga. Bagaimanakah jika saudara yang di panggil untuk melayani TUHAN, memberitakan kebenaran itu dalam keadaan Negara dan gereja diambang kehancuran secara moral? Siapkah saudara untuk melayani? Jika saudara siap! Apakah Visi dan misi saudara? Apakah yang saudara harus lakukan?
Mari kita melihat apa yang dilakukan Yohanes pemandi! Bagaimana ia melakukan tugasnya atau bagaimana ia melayani?
Pertama – tama di jelaskan bahwa Yohanes pemandi adalah seorang yang punya tujuan yang jelas. Satu saja tujuannya yakni membuat umat TUHAN bertobat kepada ALLAH. Umat TUHAN harus bertobat yakni berbalik kepada TUHAN; meninggalkan kehidupan yang lama dan kembali pada jalan TUHAN. Meninggalkan kehidupan masa lalu yang mencelakakan mereka dan kembali pada jalan TUHAN. Untuk itu di butuhkan seorang pribadi yang berani, Konsekuen dan komitmen. Seorang yang berani mengambil keputusan; berani mengambil resiko dan berani mempertaruhkan hidupnya. Dibutuhkan orang yang konsekuaen yakni orang yang bertanggungjawab, berwatak teguh dan tidak menyimpang; orang konsisten yakni orang yang tidak berubah-ubah dan orang yang Komitmen yakni orang yang merasa terikat dengan panggilannya. Dan Yohanes adalah tipe orang yang seperti itu; berani, konsekuen, konsisten dan komitmen. Ia berani datang dan menyerukan supaya orang bertobat. Ia berani meminta orang untuk berubah. Ia berani mengatakan untuk berbalik kepada TUHAN.
Bagaimanakah dengan kita? Beranikah saudara akan berbuat seperti Yohanes? Keadaan dalam Gereja yang semakin dingin dalam banyak hal menuntut saudara untuk berani mengambil keputusan. Keadaan dalam rumah Tanggamu menuntut saudara untuk melakukan pembaharuan. Bahkan keadaanmu sendiri menuntut kita untuk bertobat.
Tidak cukup hanya bertobat; pertobatan harus di buktikan dalam penyerahan diri secara totalitas/keseluruhan. Dan penyerahan diri yang benar adalah datang dari kerendahan hati. Dimana kerendahan hati ada disana pasti ada penyerahan diri yang benar. Dan  dimana ada penyerahan diri yang benar disana pintu kepada kasih Karunia Allah terbuka. Kata Yohanes Allah akan mengampuni dosamu. Berilah dirimu di permandikan; hanya orang yang rendah hati, yang menyangkal dirinya yang menyerahkan dirinya.
Tidak cukup saudara mengatakan bertobat; tetapi saudara harus membuktikan itu dengan penyerahan diri kepada Allah untuk di pakai-Nya sebagai alat yang baik. Benarkah saudara sudah bertobat? Mari kita melihat apakah dalam kehidupan ini ada penyerahan diri secara totalitas kepada Allah yang saudara lakukan?
Yohanes adalah seorang yang konsekuen. Sebab itu ia tegas dalam pemberitaan dan pelayanannya. Ia tidak takut tapi menegur dengan keras tanpa berbasa basi. Ia menunjukkan kesalahan dan pelanggaran yang orang lakukan. Ia tidak menutup-nutupi perbuatan siapapun mereka yang melakukan kesalahan. Mereka yang munafik, dan berpegang pada harapan yang palsu dan kosong di tegurnya dengan keras untuk bertobat dan menghasilkan buah.
Sikap seperti Yohanes dalam menghadapi kemunafikan dan banyak dosa yang terjadi sangat-sangat di butuhkan. Bertanggungjawab dalam tugas beraarti Tegas dan tidak lemah. Sebab Allahpun tidak main-main dalam hal ini. Yohanes mengatakan Kapak sudah tersedia pada setiap pohon yang tidak berbuah. Dan alat penampi ditangan-Nya.
Yohanes adalah seorang yang konsisten yakni tidak berubah-ubah; ia tidak mengutamakan popularitas; gensi dan statusnya. Berhadapan dengan siapapun juga ia tetap Yohanes yang tegas dan berani serta tidak berubah-ubah. Bagaimana dengan kita? Bukankah ketenaran, reputasi dan kemasyuran jauh lebih utama dari sebuah tugas yang kita emban?
Yohanes adalah seorang yang komitmen dengan pelayanannya. Apapun situasinya ia tetap setia dalam tugasnya. Ia terus memberitakan Injil itu dan menasihati banyak orang dalam kebenaran,  sekalipun akhirnya ia harus ditangkap dan di penjarakan.
Saudara-saudaraku mari kita belajar bersama-sama dari kebenaran Firman TUHAN ini. Kita belajar dari keteladanan hidup seorang Yohanes pemandi. Memang berat dan tidak menyenangkan bahkan akhirnya mungkin saja kita harus seperti Yohanes. Untuk sebuah Pembaharuan kita harus membayar dengan harga yang mahal! Siapkah saudara untuk itu?

Amin   

  

Waingapu, 12 Januari 2013
Pemakluman II Peneguhan Penetua: Kolo Bunga, SE dan Stepanus Kilimandu, SE.MM
Dan Peneguhan Diaken : Philips Rido Dida
Lukas.           12 : 35 – 40

Saudara-saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Nasihat supaya berjaga-jaga adalah hal yang begitu penting. Berjaga-jaga adalah sikap mutlak yang harus melekat dalam hati dan hidup kita sebagai anak-anak TUHAN. Karena kedatangan Tuhan tidak seorang pun yang mengetahui waktu dan harinya. Kita harus dapat menjaga diri, agar hidup kita tidak sia sia dan tidak diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran sesatan. Satu hal yang dituntut Tuhan Yesus dari kita yaitu agar kita tetap berjaga-jaga, siuman dan bertahan sampai akhirnya.
Saudara-saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Dalam Injil Markus 13:33 Yesus menekankan bahwa saat kedatanganNya kembali akan merupakan kejutan dan tidak diduga-duga. Yesus pasti datang itulah yang harus menjadi pegangan kita, hanya saat dan waktu-Nya tidak ada seorang pun yang tahu kapan. Apakah kedatangan-Nya masih lama atau sudah dekat. Apakah besok, lusa atau masih lebih lama lagi? Kita tidak tahu! Dan kita sekarang berada dimasa penantian. Dan hidup dalam penantian adalah hidup yang sangat-sangat membuat kita merasa bosan, jenuh, tidak sabar dan akhirnya tidak mau lagi menunggu. Dalam perikop ini Yesus Kristus mengajar kita tentang bagaimana seharusnya sikap kita sebagai orang percaya dalam menantikan kedatanganNya yang kedua kali. Tidak mudah hidup dalam penantian! Bukan saja kita merasa bosan, jenuh, tidak sabar dan tidak mau lagi menantikan kedatangan Yesus, tetapi karena kita sebagai orang percaya selalu berhadapan dengan banyak godaan. Godaan untuk tidak taat dan setia kepada Yesus dalam mengerjakan keselamatan sambil menanti kedatangan-Nya. Godaan yang ada membuat kita terombang-ambing; membuat kita tergelincir dan tidak siap hidup menurut kebenaran itu. Godaan-godaan yang ada membuat kita goyah dan tidak kuat untuk tetap berdiri dan bertahan. Kesulitan secara Ekonomi; tekanan hidup yang semakin hari semakin berat; keinginan yang belum tercapai; rasa nyaman yang belum terpenuhi; persaingan yang demikian ketat di segala bidang; hidup yang sangat menjanjikan yang ditawarkan oleh dunia dan sebagainya dapat menjadi godaan untuk kita. 
Lalu bagaimanakah supaya kita tetap kuat dan setia menantikan kedatangan-Nya? Dalam ayat 35 Yesus mengajarkan bagaimana kita menanti kedatangan-Nya dalam ketaatan. Yesus mengatakan dua hal yang penting,
Yang pertama; "Hendaklah pinggangmu tetap terikat
Yang kedua; dan pelitamu tetap menyala".
Pinggang tetap terikat artinya tetap dalam kondisi/keadaan siap sedia untuk bertindak dan bekerja. Di Israel orang mengenakan jubah; orang Sumba dan Sabu (laki-laki) mengenakan kain dan perempuan mengenakan sarung. Sangat berbeda dengan sekarang dimana semua sudah modern; orang mengenakan pakaian yang pas, yang sesuai dengan postur tubuhnya. Pakaian tempoh dulu adalah sangat mengganggu bila tidak di kenakan ikat pinggang. Baik jubah, kain maupun sarung harus selalu di kenakan ikat pinggang. Supaya tidak menghalangi di waktu berjalan dan bekerja. Tetapi selain dari itu pinggang yang tetap berikat sangat membantu kita untuk tetap bertahan dalam melakukan aktivitas/kegiatan. Pinggang mudah sakit, mudah terganggu; dan bila pinggang sakit maka otomatis pekerjaanpun akan terganggu. Gambaran yang di berikan Paulus dalam Efesus 6:14 yang berbunyi; "berikat pinggangkan kebenaran", sebagai salah satu dari perlengkapan senjata Allah yang kita harus kenakan sebagai prajurit-prajurit Kristus. Menegaskan bahwa Nasihat Yesus yang mengatakan; Hendaklah pinggangmu tetap terikat… adalah sesuatu yang harus dan tetap kita lakukan. Karena bagaimana kita kuat dan bertahan menantikan kedatangan Tuhan jika kita tidak selalu siap dan hidup dalam kebenaran itu? Bagaimana kita bisa mengalahkan Iblis dan sekutunya jika kita tidak kuat? Kebenaran  Sabda Tuhan adalah kekuatan yang membuat kita bertahan dan tetap setia menantikan kedatangan-Nya.
Yang kedua, "Pelitamu tetap menyala", Pelita harus tetap menyala untuk menerangi dan memberi petunjuk. Dengan pelita yang tetap menyala dan menerangi; maka semua akan terlihat dengan jelas, mata menjadi awas. Kita tidak mudah tersesat dan di sesatkan. Tidak mudah untuk kita melakukan kesalahan-kesalahan. Artinya hidup kita sebagai anak-anak TUHAN laksana pelita yang harus tetap menyala dan tidak pernah padam. Bagaimana agar supaya hidup kita seperti pelita yang tetap menyala? Sabda TUHAN atau Injil itu harus terus bertumbuh. Sebab hanya Firman Tuhan yang membuat hidup kita tetap menyala. Hanya Sabda Tuhan yang membuat  semuanya terlihat dengan jelas. Hanya Sabda Tuhan yang membuat siapapun tetap di terangi. Karena itu tugas kita membuat pelita itu tetap menyala, bukan membiarkannya redup atau bahkan padam.
Sebab itu pertanyaannya bagi kita; benarkah saat ini Pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala?  
Saudara-saudara yang kekasih, berjaga-jaga adalah sikap aktif, siaga, peduli, tidak tertidur, bukan berpangku tangan dan tidak pasrah. Berjaga-jaga bukanlah sekedar membuat pertahanan diri atau memperlengkapi diri kita dengan ilmu kekebalan tubuh agar terhindar dari marabahaya. Tetapi berjaga-jaga adalah terus membentuk diri dan bertumbuh sesuai dengan kebenaran Sabda TUHAN. Artinya sebagai anak-anak TUHAN kita harus tetap memiliki hubungan yang akrab, yang dekat dengan Tuhan Yesus melalui perenungan-perenungan Sabda TUHAN di PA-PA, melalui doa dan persekutuan di Gereja pada hari Minggu.
TUHAN Yesus pasti kembali, bagi mereka yang tetap setia melakukan tanggungjawabnya; Sabda Tuhan mengatakan mereka akan di persilahkan duduk, dan Tuhan melayani mereka. Mereka akan di jamu oleh TUHAN sendiri. Berbahagialah mereka, itulah kata Frman TUHAN. Berbahagialah saudara dan saya, jika Tuhan Yesus kembali mendapatimu dalam keadaan siap sedia. Tak bisa di lukiskan kebahagiaan itu. Apakah yang ada dalam pikiran saudara jika Tuhan sendiri melayani atau menjamu saudara? Bukankah saudara merasa sangat terhormat bila bupati atau petinggi di daerah ini melayanimu? Bukankah adalah kebanggaan khusus bila kita mengalami itu? 
Saudara-saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus
Melalui Sabda TUHAN ini, kita kembali diingatkan bahwa Yesus pasti kembali. Dan untuk menantikan dan menyambut kedatangan-Nya Yesus telah mempersipakan kita bagaimana seharusnya kita hidup berjaga-jaga. Yesus mau mendapati saudara pada kedatangan-Nya yang kedua tetap bertekun dan setia serta tetap berjaga-jaga. Yesus mau saudara adalah salah seorang hamba-Nya yang akan mendapat kehormatan kelak dalam kerajaan-Nya. Sebab itu mari; kita bersama-sama mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya. Kita menantikan-Nya dengan serius, dengan sungguh-sungguh, dan dengan konsisten. Lakukanlah tugasmu dengan setia dan taat. Dan jangan sibuk dengan pelbagai urusan lainnya yang akhirnya membuat engkau terlena. Karena banyak orang Kristen hari ini yang “tertidur” – “terlelap” – “terlena” – “terbuai” – “terpesona” – “tergoda” – “terjebak” – “terpengaruh” oleh tawaran-tawaran dan kebenaran-kebenaran duniawi. Gereja harus senantiasa mawas diri; Tetap tekun berdoa; Tetap tekun membaca Firman Tuhan; Tetap tekun beribadah dengan benar. Selagi masih ada kesempatan, janganlah disia-siakan, sebab ada kalanya kesempatan itu berlalu dari kita (bd. Efesus 5: 16). Tantangan pasti kita jumpai, tapi jangan itu membuat kita jatuh. Biarlah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala hingga Yesus datang lagi atas awan-awan.

Amin
  
Waingapu, 05 Januari 2013
 1 Samuel.   7 : 1 – 6


Saudara-saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Perikop Sabda TUHAN yang menjadi Nas kita dalam kebaktian ini di jelaskan:
Yang pertama Tentang Tabut TUHAN yang di simpan di Kiryat Yearim di rumah Abinadab
Yang kedua Tentang Apa yang dilakukan Samuel terhadap orang Israel.
Saudara – saudara yang kekasih, dalam ayat 1 Nas kita disebutkan tentang Tabut TUHAN yang di pindahkan dari Bet Semes ke Kiryat Yearim di rumah Abinadab. Keberadaan sangat-sangat penting bagi orang Israel. Karena Tabut TUHAN adalah simbol dari kehadiran TUHAN di tengah-tengah umat-Nya. Karena itu Kekudusan adalah hal yang penting yang harus di perhatikan dan dimiliki oleh umat TUHAN. Sebab TUHAN akan benar-benar hadir bila umat-Nya kudus. TUHAN tidak hadir karena Tabut itu. Dia tidak dapat di paksa untuk hadir karena tabut itu. Hofni dan Pinehas, anak-anak Eli berpikir bahwa TUHAN dapat di paksa akan menolong mereka. Sebab itu mereka membawa tabut itu di medan pertempuran. Apa yang terjadi tabut itu di rampas dan Hofni dan Pinehas terbunuh.
Banyak orang percaya bahwa dengan membawa salib Tuhan akan hadir dan menghindarkan mereka dan melepaskan mereka dari bencana dan kesukaran. Karena itu tidak sedikit orang Kristen aliran Reformeerd yang mengantungkan rantai salib di lehernya. Juga orang percaya bahwa dengan membawa Alkitab dan datang di rumah Gereja mereka akan terhindar dari pelbagai kesukaran dan marabahaya. Tuhan menghendaki kekudusan Hidup dari kita semua. Tuhan menghendaki bahwa kita bertobat; berbalik kepada-Nya dan menjauhkan diri dari kejahatan. Sebab itu datang di rumah TUHAN dan memiliki  Alkitab hendaknya di sertai dan di barengi dengan kekudusan hidup kita. Atau dengan Takut akan TUHAN. Tuhan tidak dapat hadir karena sebuah benda. Tetapi Tuhan akan hadir menyertai umat-Nya bila mereka benar berbalik kepada-Nya. TUHAN berjanji menyertai Yakub…; jika Yakub tetap hidup sesuai dengan Perjanjian-Nya. Mengapa kekudusan itu sangat penting? Sabda TUHAN mengatakan Kuduslah Kamu sebab Aku Kudus. Tuhan itu Kudus sebab itu kita harus hidup. Tuhan membunuh 70 orang Bet Semes karena mereka tidak menghormati kekudusan Tuhan. Dan bagi orang Kiryat Yearim apa yang dialami orang-orang Bet Semes menjadi pelajaran yang demikian berharga bagi mereka. Karena itu ketika mereka memindahkan tabut ke Kiryat Yearim ke rumah Abinadab. Mereka lebih dulu menguduskan Eleazar untuk menjaga tabut TUHAN itu.
Saudara-saudara sudah sejauhmanakah saudara memperhatikan kekudusan hidup saudara di hadapan TUHAN? Adakah kita berusaha, berjuang untuk meninggalkan kehidupan kita yang lama? Apakah saudara berjuang untuk membuang dusta, dan pelbagai dosa lain yang menguasai saudara?
Hal yang kedua di jelaskan tentang apa yang dilakukan Samuel terhadap orang Israel. Pertaama-tama dijelaskan tentang tanggapan Samuel terhadap orang Israel yang mengeluh kepada Tuhan. Dua puluh tahun sudah mereka berada dalam tekanan orang-orang Filistin. Tuhan membiarkan mereka mengalami kesukaran. Tuhan punya maksud agar mereka kembali kepada-Nya; menyembah Dia bukan menyembah berhala. Ada hal yang menarik dan mungkin juga unik dari sikap Samuel menanggapi reaksi umat Tuhan yang hendak berbalik kepada Tuhan. Samuel mengatakan; berbalik kepada TUHAN berarti mereka harus menjauhkan para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengah mereka dan mengarahkan hati mereka kepada TUHAN dan beribadah hanya kepada TUHAN; maka TUHAN akan melepaskan mereka dari tangan orang Filistin. Menjauhkan berarti mereka harus meninggalkan, bukan malah membiarkan itu tetap ada. Para allah, berhala-berhala itu harus di singkirkan. Kepercayaan lain harus benar-benar di bersihkan. Sehingga yang ada hanya kepercayaan kepada TUHAN semata. Yang kedua berbalik berarti hati hanya tertuju kepada Allah saja. Tidak boleh bercabang. Hati harus benar-benar terarah kepada Allah saja. Dan untuk membuat hati tertuju kepada Allah semata bukan perkara yang mudah. Karena jika hati kita terikat dan terpaut; dengan kata lain kita telah jatuh cinta, untuk membuat hati kita berbalik meninggalkan sesuatu yang kita yakini benar adalah tidak mudah. Katakan saja meninggalkan pengajaran leluhur seperti mitos-mitos adalah tidak mudah. Karena tidak sedikit orang yang sesungguhnya menyakini bahwa ada kebenaran yang terkandung didalamnya. Hati adalah gudang dimana kita menyimpan semua barang; apakah itu barang yang baik dan maupun rongsokan semuanya tersimpan di gudang. Apakah yang tersimpan dihati kita saat ini? Apakah hal yang baik? Yang ketiga berbalik kepada TUHAN berarti Beribadah hanya kepada TUHAN saja. Bukan kepada allah lain; bukan kepada Asytoret; bukan kepada leluhur. Segala hormat dan kemuliaan hanya kepada TUHAN saja. Persembahan–persembahan korban hanya untuk Tuhan saja. Sebab itu mari kita memperhatikan; apakah saudara sudah menjauhkan dosa dan kejahatan yang ada dalam diri saudara? Apakah saudara sudah menjauhkan kata-kata kotor seperti kata makian, umpat, dusta dan sebagainya? Kedua kemanakah hatimu tertuju saat ini? Benarkah hatimu hanya tertuju kepada Allah saja? Benarkah hatimu tidak bercabang? Perhatikanlah jangan-jangan hatimu tertuju kepada keindahan dunia ini; kepada harta dan sebagainya. Ingatlah Yesus pernah menasihati murid-murid-Nya dalam Matius. 6: 21 karena dimana hartamu berada disitu hatimu berada. Yang ketiga benarkah engkau berbakti kepada TUHAN saja? Benarkah hanya TUHAN yang engkau sembah dan engkau puji? Yesus memperingatkan kita dalam Injil Matius; tidak seorangpun yang mengabdi kepada dua Tuan yakni kepada Allah dan kepada mamon. Benarkah tidak ada mamon dalam hidupmu yang engkau sembah? Samuel mengatakan Tuhan akan melepaskan umat-Nya dari tangan orang Filistin. Tuhan akan menyertai kita dan melapaskan kita dari kesukaran dan segala marabahaya yang mengancam hidup kita. Itulah Janji TUHAN.
Dan kita melihat nasihat Samuel itu di taati dan di dengar orang Israel. Mereka membuang segala Baal dan Asytoret, berbakti hanya kepada Tuhan saja. Mereka berpuasa dan mengaku dosanya kepada TUHAN. Tidak hanya mendengar tetapi melakukan. Tidak hanya mengiakan dengan mulut tetapi membuktikan itu dalam kehidupan ini.  Bila engkau bertobat dan engkau mengatakan hendak membuang dosa itu; Benarkah engkau sudah membuang dan meninggalkannya? Benarkah itu tidak hidup lagi dalam dirimu? Jika engkau saya hanya mau berbakti kepada TUHAN saja; benarkah engkau sudah setia berbakti kepada-Nya pada setiap hari minggu? Bagaimanakah dengan kesetiaanmu selama ini? Sudahkah engkau mengaku dosamu dan berpuasa? Tuhan berkehendak kita menunjukkan kesetiaan kita kepada-Nya. Tuhan berkehendak kita menunjukkan pertobatan kita kepada-Nya. Bukan hanya mulut kita yang mengatakan. Karena itu Yakobus mengatakan; bukan hanya mendengar tetapi melakukannya.
Saudara-saudara yang kekasih
Hal yang kedua yang dilakukan Samuel adalah berdoa untuk orang Israel. Dalam Alkitab kita selalu membaca tentang doa. Yesus sendiri juga berdoa dan secara khusus ia berdoa untuk murid-murid-Nya. Berdoa adalah mengambil persekutuan dengan Tuhan. pe-Mazmur 25 mengatakan; bergaul Karib dengan Tuhan adalah melalui doa. Begitu penting doa itu bagi kita. Dalam Katekhismus di ajarkan doa adalah bagian yang terutama dalam hal mengucap syukur. Selain dari berdoa sendiri, Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa. Samuel mendoakan orang Israel. Seorang pemimpin yang baik, nabi dan hakim yang benar adalah yang berdoa bagi mereka yang dipimpin. Samuel adalah contoh dan tipe pemimpin yang baik. Kita semua adalah baik diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Sebagai Dewan Gereja salah satu tugas kita adalah mendoakan sidang TUHAN. Sebagai orang tua tugas kita adalah mendoakan anak-anak kita. Untuk itu mari kita bersama-sama melihat sudahkah saudara sebagai Dewan Gereja mendoakan sidang TUHAN? Sudahkah saudara sebagai orang tua mendoakan anak-anak saudara? Mari kita menjadikan diri kita menjadi seorang pribadi seperti Samuel yang berdoa. Suami yang baik adalah suami yang berdoa bagi isteri. Orang tua yang baik adalah yang berdoa untuk anak-anaknya. Isteri yang baik isteri yang berdoa bagi suaminya. Anak-anak yang baik adalah anak-anak yang berdoa… Sebab itu pertanyaannya; bagaimanakah dengan kita sudahkah saudara menjadi pribadi yang berdoa dalam hidup ini. Seberapa seringkah saudara berdoa untuk Gereja TUHAN; untuk hamba-hamba-Nya; untuk anak-anakmu, untuk suamimu, isterimu pekerjaanmu dan kondisi saat ini?

Amin


       
Tahun Baru, 01 Januari 2014
 Ayub. 5 : 6 – 8 

Saudara-saudara yang kekasih dalam TUHAN kita Yesus Kristus,
Kita telah berada di awal tahun Baru 2014. Dengan penuh rasa syukur kita bersama-sama merayakannya. Tuhan berkenan untuk kita hidup dan melanjutkan tugas serta tanggungjawab kita di tahun 2014 ini. Bukan secara kebetulan, nas kita dalam kebaktian awal tahun ini yang terambil dari Ayub 5: 6–8 menuntun kita sejenak untuk melihat kepada perjalanan panjang yang kita lewati di tahun 2013. Dan sekaligus mengarahkan kita sebagai anak–anak Tuhan bagaimana kita harus mempersiapkan diri untuk hidup sebagai anak-anak Tuhan di tahun 2014.
Ayub adalah seorang pribadi yang tidak asing lagi bagi kita. Keteguhan percayanya dan keyakinannya yang tangguh dalam menghadapi penderitaan dan kepahitan dalam hidupnya adalah contoh bagi kita. Kita dapat belajar banyak dari seorang Ayub. Ayub tidak saja kehilangan harta dan anak-anaknya, juga ia sendiri mengalami sakit yang membuatnya sangat menderita. Dan secara batin Ayub sangat menderita karena isterinya, yang bukannya menghibur dan memberi penguatan kepada Ayub dalam penderitaannya malah mengatakan; Kutukilah dan matilah! Bahkan sahabat-sahabatnya bukannya datang memberi penguatan kepada Ayub tetapi sebaliknya menuduh Ayub telah melakukan dosa yang besar dihadapan Tuhan. Tetapi dalam semuanya itu Ayub tetap berpegang teguh kepada Tuhan. Ia tetap percaya kepada Tuhan dan tidak meninggalkannya.
Saudara-saudaraku, bagaimanakah dengan kita? Masihkah kita percaya kepada-Nya dan setia dikala kepahitan itu melanda kita? Dan bagaimanakah sikap kita dikala mereka yang kita harapkan meninggalkan kita? Masihkah kita memilih untuk tetap percaya kepada-Nya? Dalam nas kita saat ini Elifas, yang adalah sahabat Ayub sendiri datang kepada Ayub dan menjelaskan bahwa sekalipun Ayub adalah hamba Allah, Ayub tetap merupakan makhluk fana yang jatuh dalam dosa. Oleh karena itu, semua kesukaran Ayub itu timbul bukan dari tanah melainkan dari Ayub sendiri. Penderitaan Ayub adalah buah-buah berduri dari dosanya. Itulah menurut Elifas! Demikianlah persepsi Elifas! Dan ini menjelaskan keterbatasan Elifas dalam memaknai apa yang dialami Ayub. Kita juga harus mengakui bahwa betapa terbatasnya kita dalam mengartikan sesuatu yang dialami orang. Kita cepat mengklaim bila orang mengalami penderitaan dan kesusahan sebagai akibat dari dosa yang dilakukannya. Sangat sedikit orang yang tidak berpikir seperti itu. Penilaian Elifas terhadap Ayub tentu meleset dan tidak tepat. Karena Firman mengatakan bahwa AYUB menderita bukan karena dosanya melainkan karena kesetiaannya kepada TUHAN. Ia seorang yang hidup benar dihadapan Tuhan.
Tetapi apakah arti Firman TUHAN ini dalam kita menyambut dan memasuki tahun 2014 ini? Apa yang dikatakan Elifas itu adalah benar! Kata-katanya tepat tetapi dalam konteks Ayub tidak benar. Tanah tidak pernah menimbulkan bencana dan kesusahan melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya. Kata-kata Elifas ini benar. Dari tanah kita mendapat hasil; jagung, padi dan sebagainya. Dan itulah kenyataan yang tak dapat kita pungkiri. Sebab itu jika di tahun 2014 kita mengalami kesusahan dan bencana; yang pertama yang kita lakukan memeriksa diri apakah benar kita telah hidup setia dan taat dihadapan TUHAN? Jika kita mengalami kesusahan dan bencana sebagai akibat dari perbuatan kita maka kita harus berubah dimana mengambil sikap dan berkata; Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku. Pernyataan sikap yang menegaskan apa yang kita harus buat sangat-sangat penting. Kita harus bisa berjanji akan berubah dan hidup baru. Setia kepada-Nya, taat dan dengar-dengaran. Kesetiaan dalam kebaktian tentu harusnya kita perhatikan. Kita bukannya pasif dengan keadaan kita pada waktu yang lalu; tetapi bangkit dengan menunjukkan kesetiaan dan ketaatan kita kepada-Nya. Artinya jangan Senin Kamis datang ke Gereja. Ketekunan dalam kebaktian kepada Tuhan harus benar-benar di perhatikan. Karena jika kita tidak setia dan rajin kita sedang mendatangkan kesusahan bagi diri kita sendiri. Karena semakin renggang hubungan kita dengan TUHAN semakin terbuka kemungkinan buruk bagi keyakinan kita akan TUHAN. Kita akan menjadi lemah tidak berdaya menghadapi pergumulan yang ada di depan mata kita. Kita tidak akan kuat seperti Ayub.
Saudara-saudara; juga dikala kita berhadapan dengan banyak persoalan; kita tidak punya tempat yang tepat, yang dapat membela dan memberi kita keadilan; tidak ada tempat lain yang pas untuk kita mengadu; satu-satunya tempat yang paling tepat adalah TUHAN. Karena itu bagaimanapun juga besar dan beratnya persoalanmu, TUHAN pasti menjawabmu dengan solusi yang di berikannya. Perjalananmu dan langkahmu di tahun 2014 akan mantap. Jika engkau berpegang pada TUHAN. Jangan takut memasuki tahun 2014; karena ada Janji TUHAN bagimu. Bawa semua persoalanmu maka TUHAN akan menjawabmu. Apapun yang terjadi di tahun 2014; meski orang lain berubah setia, meski banyak orang tidak mau lagi berpegang pada kebenaran itu tetapi engkau harus tetap mengatakan; Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku.

Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar