Waingapu, 26 Januari 2014
Ester . 4 : 1 – 17
Saudara-saudara yang kekasih dalam TUHAN kita Yesus
Kristus,
Nas kita dalam kebaktian ini
dari Kitab Ester. Kitab Ester merupakan salah satu dari 39 kitab yang ada dalam
Perjanjian Lama. Dan Kitab Ester adalah kitab sangat unik, sebab dalam
kitab Ester nama Allah atau nama YHWH tidak ada tertulis. Tetapi sekalipun
demikian melalui Mordekhai dan Ester, Allah menyatakan kedaulatan dan
pemeliharaan-Nya. Nama Ester berasal dari nama dewa Babilonia yaitu Ishtar.
Sedangkan Nama ibraninya adalah Hadasa (Ester 2:7). Dalam bahasa Persia kata
Ester berarti bintang. Dan Hadasa berarti pohon Murd. Di usianya yang
masih muda, Ester terpilih menjadi seorang Ratu mendampingi Raja
Ahasyweros. Sebagai seorang Ratu, Ester dikelilingi oleh banyak pelayan.
Sehingga apapun yang di inginkannya selalu tersedia. Ester dikenal sebagai
perempuan nomor satu dalam kerajaan Ahasyweros.
Dalam pasal 4 yang menjadi nas
kita dalam kebaktian ini di jelaskan tentang apa yang dilakukan Mordekhai untuk
menolong orang Yahudi. Rencana Haman untuk membantai, memusnahkan dan membunuh
orang-orang Yahudi diseluruh daerah kekuasaan raja Ahasyweros tinggal menunggu
waktu. Sebentar lagi sakit hatinya dan dendamnya terhadap Mordekhai dan
orang-orang akan segera terbalaskan. Betapa tidak surat yang berisikan perintah
pembunuhan dan pemusnahan terhadap orang – orang Yahudi yang sudah di
meteraikan dengan cincin meterai raja sudah di kirim dan di terima bahkan
perintah itu sudah diundangkan. Itulah berarti bahwa perintah untuk membasmi
orang-orang Yahudi adalah keputusan yang tidak dapat di cabut dan ditarik
kembali. Perintah itu harus di laksanakan dan dilakukan. Waktu pelaksaannya
sudah di tetapkan pada tanggal 13 bulan keduabelas yakni bulan Adar. Pada hari
itu dan tanggal itu orang-orang Yahudi harus di bantai. Benar-benar nyawa
orang-orang Yahudi terancam. Itulah kondisi yang di hadapi. Suatu keadaan yang
benar-benar menyakitkan dan menyiksa. Kita bisa membayangkan jika kita yang
mengalami hal semacam itu. Bilakah ada perintah dan undang-undang yang
mengharuskan orang-orang Kristen di basmi atau di bantai. Saya yakin kita tidak
akan mungkin tenang. Karena belum lagi ada perintah untuk membunuh dan membasmi
orang – orang Kristen; kita sudah tidak tenang ketika dikatakan bahwa Syariat
Islam itu harus di berlakukan.
Pertanyaannya saudara-saudara
bagaimanakah sikap dan apakah yang dilakukan Mordekhai dan Ester? Apakah
tindakan Mordekhai ketika mengetahui hal itu? Bagi Mordekhai itulah adalah masalah
yang serius dan berat. Mengoyakkan pakaian, memakai kabung dan abu serta
melolong-lolong melukiskan kesedihan dan duka yang begitu dalam yang dialami
Mordekhai. Ia meraung, menangis dengan suara keras di tengah-tengah kota.
Begitu dalam kepedihan; hatinya demikian tersayat dan teriris. Dan ternyata
bukan hanya Mordekhai saja, juga semua orang Yahudi di segala daerah
pemerintahan Ahasyweros berkabung, berpuasa dan meratap. Sebentar lagi mereka
akan di bantai oleh musuh-musuhnya. Kemanakah mereka harus mengadukan perkara
itu? Masih adakah orang yang bisa menolong mereka? Sungguh sulit, karena mereka
berada dalam kekuasaan raja Ahasyweros. Untuk kita sekarang kita masih punya
badan HAM, PBB dan badan-badan lainnya. Kita bisa mengadukan masalah-masalah tersebut
kepada mereka yang di percayakan. Maalah kekerasan dalam rumah tangga kita bisa
lapor ke Polisi; kekerasan terhadap anak kepada LPA dan seterusnya.
Bukan hanya berkabung dan
meraung dengan suara keras, Mordekhai juga memberitahukan hal itu pada Ester.
Dan mendesak Ester untuk menghadap raja menyampaikan hal itu. Sekalipun Ester
mengatakan bahwa tidak mungkin ia menghadap raja, jika ia tidak di panggil.
Karena sama halnya ia melawan hukum dan itu berarti hukum mati untuk dirinya.
Dan jika ia tidak menghadap bangsanya berada dalam bahaya yang besar. Haruskah
Ester mempertaruhkan nyawanya untuk bangsanya? Haruskah Ia melakukan sesuatu
yang menuntut sebuah pengorbanan? Ini hal yang dilematis bagi Ester. Tetapi
kata-kata dari Mordekhai membakar semangat Ester; membuat Ester pada akhirnya
berani mengambil keputusan. Mungkin untuk hal inilah engkau menjadi ratu?
Apapun terjadi Ester sudah siap. Bahkan jika karena untuk bangsanya ia harus
mati ia sudah siap. Jika terpaksa aku mati, biarlah aku mati. Bukan itu saja
yang di di tegaskan oleh Ester. Ester juga memerintahkan supaya orang-orang
Yahudi di kota Susan berpuasa.
Saudara-saudaraku itulah
Mordekhai dan Ester. Itulah yaang mereka lakukan berhadapan dengan masalah yang
serius. Mordekhai berkabung, menaburkan abu atas dirinya, Ia meraung/menangis
dengan suara yang nyaring di tengah-tengah kota. Begitu pedih hatinya, begitu
tersayat hatinya; ia tidak kuat menghadapi kenyataan, dimana bangsanya di
bantai dan di musnahkan. Karenanya Ia melakukan dan berbuat sesuatu dengan
sekuat tenaga dan tidak akan berhenti sebelum mendapat respon yang baik.
Sebelum ia mendapat respon dari Ester, ia tidak tenang. Ia harus memastikan
Ester telah mengambil bagian dan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan
orang-orang Yahudi. Saudara-saudaraku bukankah banyak masalah yang juga terjadi
dalam hidupmu? Ketika engkau berhadapan dengan masalah; seperti apakah
tindakanmu? Adakah sesuatu yang engkau lakukan? Atau jangan-jangan engkau tidak
punya tindakan apa-apa! Ada masalah yang serius yang terjadi dalam negara ini;
Korupsi; perselingkuhan; perampokan; kekerasan dalam Rumah tangga; kekerasan
terhadap anak dan sebagainya. Adakah sesuatu yang engkau buat? Ada masalah
serius yang terjadi dalam gereja TUHAN seperti penceraian; ketidaktaatan, dan
banyak kejahatan lainnya. Ada masalah yang serius terjadi dalam rumah tanggamu
dan pekerjaanmu. Adakah sesuatu yang engkau lakukan?. Masih adakah
Mordekhai-Mordekhai hari ini, yang berkabung, dan menangis dangan suara nyaring
karena kepedihan yang dialaminya? Keadaan dalam negara, dalam kelompok;
organisasi, rumah tangga dan Gereja membutuhkan kehadiran Mordekhai-Mordekhai
baru. Mordekhai yang tidak pernah berhenti dan Mordekhai yang benar-benar
ngotot untuk terciptanya sebuah perubahan. Keadaan yang ada membutuhkan
orang-orang benar-benar berpuasa dan meratap. Membutuhkan kelompok orang-orang
yang benar-benar sedih dan hancur hatinya. Perubahan dan pembaharuan
dalam negara; dalam organisasi; yayasan; dalam rumah tangga dan dalam gereja
tidak cukup hanya dengan sebuah semangat dan doa. Tetapi harus di sertai dengan
keterlibatan kita secara langsung dengan siap/rela mempertaruhkan hidup ini.
Saudara merindukan terjadi sebuah perubahan atau pembaharuan dalam hidup ini?
Pertanyaannya adakah sesuatu yang engkau lakukan?
Selain dari itu
kita belajar dari Ester. Ia seorang pribadi yang tetap dan terus belajar dari
Mordekhai. Dan hasilnya ia menjadi seorang yang tegas dan berani menanggung
resiko. Jika terpaksa aku mati, biarlah aku mati. Saya yakin bila
saudara–saudara menjadi pribadi yang tetap dan terus belajar. Saya yakin kita
akan menjadi orang-orang yang tegas dan berani. Untuk itu mari saudara-saudara
kita belajar dan terus belajar dari Yesus, walau kondisinya rumit kita harus
tetap tenang. Sehingga akhirnya kita menjadi orang-orang yang mampu berkata
tidak pada penindasan dan ketidakadilan. Ester yakin, kematiannya tidaklah jauh
lebih berharga dibanding kehendak Tuhan baginya untuk menjadi alat keselamatan
bagi bangsanya.
Amin
Waingapu, 19 Januari 2013
Peneguhan
Penetua: Kolo Bunga, SE dan Stepanus Kilimandu, SE.MM
Dan Peneguhan Diaken : Philips
Rido Dida
Injil Lukas.
3 : 1 – 20
Saudara-saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus
Kristus,
Dalam perikop ini di jelaskan tentang Yohanes Pemandi. Sehubungan dengan
pokok tersebut ada dua hal penting yang di jelaskan, yakni:
1. Kapan
Yohanes pemandi memulai TUGASnya?
2. Bagaimana
Yohanes melakukan Tugasnya?
Dalam ayat 1-2 kita membaca
bahwa Firman TUHAN datang kepada Yohanes pada tahun ke-15 masa pemerintahan
Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi
wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya,
raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja
wilayah Abilene, pada waktu Hanas dan
Kayafas menjadi Imam Besar. Dokter Lukas adalah
seorang ahli sejarah. Sebagai seorang ahli sejarah, Lukas mencatat dengan baik
dalam Injilnya; tentu tidak saja akan menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang ahli sejarah tetapi akan melukiskan kondisi yang sedang berlangsung.
Dengan menyebut Kaisar Tiberius; Pontius Pilatus dan seterusnya; Lukas
menjelaskan bahwa dunia sedang di perintah oleh Kaisar Tiberius. Dunia berada
dalam kekuasaannya. Dan siapakah Tiberius? Tiberius adalah seorang Kaisar memerintah selama 23 tahun, 14-37 M.
Tiberius bukan orang yang ramah, tapi seorang pribadi yang kejam, kasar dan
bengis. Seorang Kaisar yang haus seks. Dia dapat berhubungan seks dengan orang
dari segala usia dan jenis kelamin. Dia sangat kejam terhadap rakyatnya. Dan
bertindak sewenang-wenang mengeksekusi orang. Salah satu kekejamannya adalah
memberi orang minum anggur dalam jumlah besar. Kemudian ia memerintahkan
orang-orangnya mengikat alat kelamin mereka dengan begitu erat sehingga mereka
tidak bisa buang air kecil. Sementara
itu ada banyak rumor tentang Kaisar Tiberius di Capri terlibat homoseksualitas
dan kejahatan seksual dengan anak laki-laki muda, dan segala macam kekejaman
yang tidak manusiawi. Kekejaman Kaisar Tiberius juga dalam hal
ia melemparkan orang muda yang telah
melakukan hubungan seks dengan dia dan korban tersebut dibuang ke laut. Di
perkirakan sudah 1000 orang lebih yang menjadi korban! Dan karena kekejamannya
rakyat tidak berdukacita karena kematiannya tetapi bersukacita. Kematian
berlangsung tragis, ia di bunuh oleh Caligula dengan bekaman bantal.
Sedangkan di Israel sendiri di
kaisar menempatkan Pontius Pilatus yang memerintah di Yudea sebagai Gubernur.
Pontius Pilatus seorang gubernur yang kejam dan tidak adil. Ia pernah membunuh
banyak orang Yahudi; mencampurkan darah mereka denga persembahan yang mereka
persembahkan. Pontius Pilatus di kenal sebagai sosok yang menghina orang-orang
Yahudi. Sementara di Galilea sendiri di perintah oleh Herodes Antipas; seorang
raja yang kejam, yang haus akan kekausaan dan seks. Ia tidak peduli dengan
kebenaran, yang penting keinginannya terpenuhi. Sebab itu ia tidak segan-segan
menangkap dan memenggal kepala Yohanes pemandi. Ia menceraikan isterinya,
puteri Aretas dan menikahi Herodias isteri saudaranya Herodes Filipus. Dan
karena Aretas tidak menerima baik perbuatannya itu; Aretas di bunuh. Herodes
adalah Seorang yang sangat ambisius dengan kekuasaan. Yesus menjuluki Herodes
dengan sebutan si Serigala. Sementara di luar Israel Kaisar Romawi menempatkan
Filipus di Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias di
Abilene. Itulah situasi/kondisi yang ada. Itulah Sejarah dunia! Sejarah dunia
begitu kelam! Dunia dipenuhi dengan kekejaman, ketidakadilan, dan seterusnya.
Dan umat Allah sendiri di
perintah oleh penguasa-penguasa yang jahat, kejam dan bengis itu! Penguasa yang
haus akan seks, haus akan kekuasaan dan seterusnya. Lalu bagaimanakah dengan
soal kehidupan rohani umat TUHAN? Dokter Lukas menyebut bahwa yang menjadi Imam
Besar adalah HANAS dan KAYAFAS. Keberadaan mereka sebagai Imam Besar di
tentukan oleh pemerintah yang berkuasa. Sebab itu segala sesuatu yang
berhubungan dengan ibadah/kebaktian di rumah harus sesuai dengan keinginan
pemerintah. Karena itu mereka tidak peduli dengan soal ibadah di rumah Tuhan.
Pada saat Yesus di adili menjadi jelas siapa sebenarnya Hanas dan Kayafas itu.
Singkat kata kehidupan rohani umat TUHAN sudah dingin. Kemunafikan ada
dimana-mana dan ketidak adilan berlangsung dimana-mana.
Dalam kondisi seperti ini
Firman Tuhan datang kepada Yohanes di padang gurun. Yohanes di panggil untuk
melayani. Berat dan tidak mudah melayani dalam kondisi yang seperti ini. Tetapi
di panggil untuk terjun dan harus berada di medan laga. Bagaimanakah jika
saudara yang di panggil untuk melayani TUHAN, memberitakan kebenaran itu dalam
keadaan Negara dan gereja diambang kehancuran secara moral? Siapkah saudara
untuk melayani? Jika saudara siap! Apakah Visi dan misi saudara? Apakah yang
saudara harus lakukan?
Mari kita melihat apa yang
dilakukan Yohanes pemandi! Bagaimana ia melakukan tugasnya atau bagaimana ia
melayani?
Pertama – tama di jelaskan
bahwa Yohanes pemandi adalah seorang yang punya tujuan yang jelas. Satu saja
tujuannya yakni membuat umat TUHAN bertobat kepada ALLAH. Umat TUHAN harus
bertobat yakni berbalik kepada TUHAN; meninggalkan kehidupan yang lama dan kembali
pada jalan TUHAN. Meninggalkan kehidupan masa lalu yang mencelakakan mereka dan
kembali pada jalan TUHAN. Untuk itu di butuhkan seorang pribadi yang berani,
Konsekuen dan komitmen. Seorang yang berani mengambil keputusan; berani
mengambil resiko dan berani mempertaruhkan hidupnya. Dibutuhkan orang yang
konsekuaen yakni orang yang bertanggungjawab, berwatak teguh dan tidak
menyimpang; orang konsisten yakni orang yang tidak berubah-ubah dan orang yang
Komitmen yakni orang yang merasa terikat dengan panggilannya. Dan Yohanes
adalah tipe orang yang seperti itu; berani, konsekuen, konsisten dan komitmen.
Ia berani datang dan menyerukan supaya orang bertobat. Ia berani meminta orang
untuk berubah. Ia berani mengatakan untuk berbalik kepada TUHAN.
Bagaimanakah dengan kita?
Beranikah saudara akan berbuat seperti Yohanes? Keadaan dalam Gereja yang
semakin dingin dalam banyak hal menuntut saudara untuk berani mengambil
keputusan. Keadaan dalam rumah Tanggamu menuntut saudara untuk melakukan
pembaharuan. Bahkan keadaanmu sendiri menuntut kita untuk bertobat.
Tidak cukup hanya bertobat;
pertobatan harus di buktikan dalam penyerahan diri secara
totalitas/keseluruhan. Dan penyerahan diri yang benar adalah datang dari
kerendahan hati. Dimana kerendahan hati ada disana pasti ada penyerahan diri
yang benar. Dan dimana ada penyerahan diri yang benar disana pintu kepada
kasih Karunia Allah terbuka. Kata Yohanes Allah akan mengampuni dosamu. Berilah
dirimu di permandikan; hanya orang yang rendah hati, yang menyangkal dirinya
yang menyerahkan dirinya.
Tidak cukup saudara mengatakan
bertobat; tetapi saudara harus membuktikan itu dengan penyerahan diri kepada
Allah untuk di pakai-Nya sebagai alat yang baik. Benarkah saudara sudah
bertobat? Mari kita melihat apakah dalam kehidupan ini ada penyerahan diri
secara totalitas kepada Allah yang saudara lakukan?
Yohanes adalah seorang yang
konsekuen. Sebab itu ia tegas dalam pemberitaan dan pelayanannya. Ia tidak
takut tapi menegur dengan keras tanpa berbasa basi. Ia menunjukkan kesalahan
dan pelanggaran yang orang lakukan. Ia tidak menutup-nutupi perbuatan siapapun
mereka yang melakukan kesalahan. Mereka yang munafik, dan berpegang pada
harapan yang palsu dan kosong di tegurnya dengan keras untuk bertobat dan
menghasilkan buah.
Sikap seperti Yohanes dalam
menghadapi kemunafikan dan banyak dosa yang terjadi sangat-sangat di butuhkan.
Bertanggungjawab dalam tugas beraarti Tegas dan tidak lemah. Sebab Allahpun
tidak main-main dalam hal ini. Yohanes mengatakan Kapak sudah tersedia pada
setiap pohon yang tidak berbuah. Dan alat penampi ditangan-Nya.
Yohanes adalah seorang yang
konsisten yakni tidak berubah-ubah; ia tidak mengutamakan popularitas; gensi
dan statusnya. Berhadapan dengan siapapun juga ia tetap Yohanes yang tegas dan
berani serta tidak berubah-ubah. Bagaimana dengan kita? Bukankah ketenaran,
reputasi dan kemasyuran jauh lebih utama dari sebuah tugas yang kita emban?
Yohanes adalah seorang yang
komitmen dengan pelayanannya. Apapun situasinya ia tetap setia dalam tugasnya.
Ia terus memberitakan Injil itu dan menasihati banyak orang dalam
kebenaran, sekalipun akhirnya ia harus ditangkap dan di penjarakan.
Saudara-saudaraku mari kita
belajar bersama-sama dari kebenaran Firman TUHAN ini. Kita belajar dari
keteladanan hidup seorang Yohanes pemandi. Memang berat dan tidak menyenangkan
bahkan akhirnya mungkin saja kita harus seperti Yohanes. Untuk sebuah
Pembaharuan kita harus membayar dengan harga yang mahal! Siapkah saudara untuk
itu?
Amin
Waingapu, 12 Januari 2013
Pemakluman II Peneguhan
Penetua: Kolo Bunga, SE dan Stepanus Kilimandu, SE.MM
Dan Peneguhan
Diaken : Philips Rido Dida
Lukas.
12 : 35 – 40
Saudara-saudara yang kekasih
dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Nasihat supaya berjaga-jaga
adalah hal yang begitu penting. Berjaga-jaga adalah sikap mutlak yang harus
melekat dalam hati dan hidup kita sebagai anak-anak TUHAN. Karena kedatangan
Tuhan tidak seorang pun yang mengetahui waktu dan harinya. Kita harus dapat
menjaga diri, agar hidup kita tidak sia sia dan tidak diombang-ambingkan oleh
rupa-rupa pengajaran sesatan. Satu hal yang dituntut Tuhan Yesus dari kita
yaitu agar kita tetap berjaga-jaga, siuman dan bertahan sampai akhirnya.
Saudara-saudara yang kekasih
dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Dalam Injil Markus 13:33 Yesus
menekankan bahwa saat kedatanganNya kembali akan merupakan kejutan dan tidak
diduga-duga. Yesus pasti datang itulah yang harus menjadi pegangan kita, hanya
saat dan waktu-Nya tidak ada seorang pun yang tahu kapan. Apakah kedatangan-Nya
masih lama atau sudah dekat. Apakah besok, lusa atau masih lebih lama lagi?
Kita tidak tahu! Dan kita sekarang berada dimasa penantian. Dan hidup dalam
penantian adalah hidup yang sangat-sangat membuat kita merasa bosan, jenuh,
tidak sabar dan akhirnya tidak mau lagi menunggu. Dalam perikop ini Yesus
Kristus mengajar kita tentang bagaimana seharusnya sikap kita sebagai orang
percaya dalam menantikan kedatanganNya yang kedua kali. Tidak mudah hidup dalam
penantian! Bukan saja kita merasa bosan, jenuh, tidak sabar dan tidak mau lagi
menantikan kedatangan Yesus, tetapi karena kita sebagai orang percaya selalu
berhadapan dengan banyak godaan. Godaan untuk tidak taat dan setia kepada Yesus
dalam mengerjakan keselamatan sambil menanti kedatangan-Nya. Godaan yang ada
membuat kita terombang-ambing; membuat kita tergelincir dan tidak siap hidup
menurut kebenaran itu. Godaan-godaan yang ada membuat kita goyah dan tidak kuat
untuk tetap berdiri dan bertahan. Kesulitan secara Ekonomi; tekanan hidup yang
semakin hari semakin berat; keinginan yang belum tercapai; rasa nyaman yang
belum terpenuhi; persaingan yang demikian ketat di segala bidang; hidup yang
sangat menjanjikan yang ditawarkan oleh dunia dan sebagainya dapat menjadi
godaan untuk kita.
Lalu bagaimanakah supaya kita
tetap kuat dan setia menantikan kedatangan-Nya? Dalam ayat 35 Yesus mengajarkan
bagaimana kita menanti kedatangan-Nya dalam ketaatan. Yesus mengatakan dua hal
yang penting,
Yang pertama; "Hendaklah pinggangmu tetap terikat
Yang kedua; dan pelitamu tetap menyala".
Pinggang tetap terikat artinya
tetap dalam kondisi/keadaan siap sedia untuk bertindak dan bekerja. Di Israel
orang mengenakan jubah; orang Sumba dan Sabu (laki-laki) mengenakan kain dan
perempuan mengenakan sarung. Sangat berbeda dengan sekarang dimana semua sudah
modern; orang mengenakan pakaian yang pas, yang sesuai dengan postur tubuhnya.
Pakaian tempoh dulu adalah sangat mengganggu bila tidak di kenakan ikat
pinggang. Baik jubah, kain maupun sarung harus selalu di kenakan ikat pinggang.
Supaya tidak menghalangi di waktu berjalan dan bekerja. Tetapi selain dari itu
pinggang yang tetap berikat sangat membantu kita untuk tetap bertahan dalam
melakukan aktivitas/kegiatan. Pinggang mudah sakit, mudah terganggu; dan bila
pinggang sakit maka otomatis pekerjaanpun akan terganggu. Gambaran yang di
berikan Paulus dalam Efesus 6:14 yang berbunyi; "berikat pinggangkan
kebenaran", sebagai salah satu dari perlengkapan senjata Allah yang kita
harus kenakan sebagai prajurit-prajurit Kristus. Menegaskan bahwa Nasihat Yesus
yang mengatakan; Hendaklah pinggangmu tetap terikat… adalah sesuatu yang harus
dan tetap kita lakukan. Karena bagaimana kita kuat dan bertahan menantikan
kedatangan Tuhan jika kita tidak selalu siap dan hidup dalam kebenaran itu?
Bagaimana kita bisa mengalahkan Iblis dan sekutunya jika kita tidak kuat?
Kebenaran Sabda Tuhan adalah kekuatan yang membuat kita bertahan dan
tetap setia menantikan kedatangan-Nya.
Yang kedua, "Pelitamu
tetap menyala", Pelita harus tetap menyala untuk menerangi dan memberi
petunjuk. Dengan pelita yang tetap menyala dan menerangi; maka semua akan
terlihat dengan jelas, mata menjadi awas. Kita tidak mudah tersesat dan di
sesatkan. Tidak mudah untuk kita melakukan kesalahan-kesalahan. Artinya hidup
kita sebagai anak-anak TUHAN laksana pelita yang harus tetap menyala dan tidak
pernah padam. Bagaimana agar supaya hidup kita seperti pelita yang tetap
menyala? Sabda TUHAN atau Injil itu harus terus bertumbuh. Sebab hanya Firman
Tuhan yang membuat hidup kita tetap menyala. Hanya Sabda Tuhan yang
membuat semuanya terlihat dengan jelas. Hanya Sabda Tuhan yang membuat
siapapun tetap di terangi. Karena itu tugas kita membuat pelita itu tetap
menyala, bukan membiarkannya redup atau bahkan padam.
Sebab itu
pertanyaannya bagi kita; benarkah saat ini Pinggangmu tetap berikat dan
pelitamu tetap menyala?
Saudara-saudara yang kekasih,
berjaga-jaga adalah sikap aktif, siaga, peduli, tidak tertidur, bukan berpangku
tangan dan tidak pasrah. Berjaga-jaga bukanlah sekedar membuat pertahanan diri
atau memperlengkapi diri kita dengan ilmu kekebalan tubuh agar terhindar dari
marabahaya. Tetapi berjaga-jaga adalah terus membentuk diri dan
bertumbuh sesuai dengan kebenaran Sabda TUHAN. Artinya sebagai anak-anak
TUHAN kita harus tetap memiliki hubungan yang akrab, yang dekat dengan Tuhan
Yesus melalui perenungan-perenungan Sabda TUHAN di PA-PA, melalui doa dan
persekutuan di Gereja pada hari Minggu.
TUHAN Yesus pasti kembali,
bagi mereka yang tetap setia melakukan tanggungjawabnya; Sabda Tuhan mengatakan
mereka akan di persilahkan duduk, dan Tuhan melayani mereka. Mereka akan di
jamu oleh TUHAN sendiri. Berbahagialah mereka, itulah kata Frman TUHAN.
Berbahagialah saudara dan saya, jika Tuhan Yesus kembali mendapatimu dalam
keadaan siap sedia. Tak bisa di lukiskan kebahagiaan itu. Apakah yang ada dalam
pikiran saudara jika Tuhan sendiri melayani atau menjamu saudara? Bukankah
saudara merasa sangat terhormat bila bupati atau petinggi di daerah ini
melayanimu? Bukankah adalah kebanggaan khusus bila kita mengalami itu?
Saudara-saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus
Melalui Sabda TUHAN ini, kita
kembali diingatkan bahwa Yesus pasti kembali. Dan untuk menantikan dan
menyambut kedatangan-Nya Yesus telah mempersipakan kita bagaimana seharusnya
kita hidup berjaga-jaga. Yesus mau mendapati saudara pada kedatangan-Nya yang
kedua tetap bertekun dan setia serta tetap berjaga-jaga. Yesus mau saudara
adalah salah seorang hamba-Nya yang akan mendapat kehormatan kelak dalam
kerajaan-Nya. Sebab itu mari; kita bersama-sama mempersiapkan diri menyambut
kedatangan-Nya. Kita menantikan-Nya dengan serius, dengan sungguh-sungguh, dan
dengan konsisten. Lakukanlah tugasmu dengan setia dan taat. Dan jangan sibuk
dengan pelbagai urusan lainnya yang akhirnya membuat engkau terlena. Karena
banyak orang Kristen hari ini yang “tertidur” – “terlelap” – “terlena” –
“terbuai” – “terpesona” – “tergoda” – “terjebak” – “terpengaruh” oleh
tawaran-tawaran dan kebenaran-kebenaran duniawi. Gereja harus senantiasa mawas
diri; Tetap tekun berdoa; Tetap tekun membaca Firman Tuhan; Tetap tekun
beribadah dengan benar. Selagi masih ada kesempatan, janganlah disia-siakan,
sebab ada kalanya kesempatan itu berlalu dari kita (bd. Efesus 5: 16).
Tantangan pasti kita jumpai, tapi jangan itu membuat kita jatuh. Biarlah
pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala hingga Yesus datang lagi
atas awan-awan.
Amin
Waingapu, 05 Januari 2013
1 Samuel. 7 : 1 – 6
Saudara-saudara yang kekasih
dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Perikop Sabda TUHAN yang menjadi Nas kita dalam
kebaktian ini di jelaskan:
Yang pertama Tentang Tabut TUHAN yang di simpan di
Kiryat Yearim di rumah Abinadab
Yang kedua Tentang Apa yang dilakukan Samuel terhadap
orang Israel.
Saudara – saudara yang
kekasih, dalam ayat 1 Nas kita disebutkan tentang Tabut TUHAN yang di pindahkan
dari Bet Semes ke Kiryat Yearim di rumah Abinadab. Keberadaan sangat-sangat
penting bagi orang Israel. Karena Tabut TUHAN adalah simbol dari kehadiran
TUHAN di tengah-tengah umat-Nya. Karena itu Kekudusan adalah hal yang penting
yang harus di perhatikan dan dimiliki oleh umat TUHAN. Sebab TUHAN akan
benar-benar hadir bila umat-Nya kudus. TUHAN tidak hadir karena Tabut itu. Dia
tidak dapat di paksa untuk hadir karena tabut itu. Hofni dan Pinehas, anak-anak
Eli berpikir bahwa TUHAN dapat di paksa akan menolong mereka. Sebab itu mereka
membawa tabut itu di medan pertempuran. Apa yang terjadi tabut itu di rampas
dan Hofni dan Pinehas terbunuh.
Banyak orang percaya bahwa
dengan membawa salib Tuhan akan hadir dan menghindarkan mereka dan melepaskan
mereka dari bencana dan kesukaran. Karena itu tidak sedikit orang Kristen
aliran Reformeerd yang mengantungkan rantai salib di lehernya. Juga orang
percaya bahwa dengan membawa Alkitab dan datang di rumah Gereja mereka akan
terhindar dari pelbagai kesukaran dan marabahaya. Tuhan menghendaki kekudusan
Hidup dari kita semua. Tuhan menghendaki bahwa kita bertobat; berbalik
kepada-Nya dan menjauhkan diri dari kejahatan. Sebab itu datang di rumah TUHAN
dan memiliki Alkitab hendaknya di sertai dan di barengi dengan kekudusan
hidup kita. Atau dengan Takut akan TUHAN. Tuhan tidak dapat hadir karena sebuah
benda. Tetapi Tuhan akan hadir menyertai umat-Nya bila mereka benar berbalik
kepada-Nya. TUHAN berjanji menyertai Yakub…; jika Yakub tetap hidup sesuai
dengan Perjanjian-Nya. Mengapa kekudusan itu sangat penting? Sabda TUHAN
mengatakan Kuduslah Kamu sebab Aku Kudus. Tuhan itu Kudus sebab itu kita harus
hidup. Tuhan membunuh 70 orang Bet Semes karena mereka tidak menghormati
kekudusan Tuhan. Dan bagi orang Kiryat Yearim apa yang dialami orang-orang Bet
Semes menjadi pelajaran yang demikian berharga bagi mereka. Karena itu ketika
mereka memindahkan tabut ke Kiryat Yearim ke rumah Abinadab. Mereka lebih dulu
menguduskan Eleazar untuk menjaga tabut TUHAN itu.
Saudara-saudara sudah sejauhmanakah
saudara memperhatikan kekudusan hidup saudara di hadapan TUHAN? Adakah kita
berusaha, berjuang untuk meninggalkan kehidupan kita yang lama? Apakah saudara
berjuang untuk membuang dusta, dan pelbagai dosa lain yang menguasai saudara?
Hal yang kedua di jelaskan
tentang apa yang dilakukan Samuel terhadap orang Israel. Pertaama-tama
dijelaskan tentang tanggapan Samuel terhadap orang Israel yang mengeluh kepada
Tuhan. Dua puluh tahun sudah mereka berada dalam tekanan orang-orang Filistin.
Tuhan membiarkan mereka mengalami kesukaran. Tuhan punya maksud agar mereka
kembali kepada-Nya; menyembah Dia bukan menyembah berhala. Ada hal yang menarik
dan mungkin juga unik dari sikap Samuel menanggapi reaksi umat Tuhan yang
hendak berbalik kepada Tuhan. Samuel mengatakan; berbalik kepada TUHAN berarti
mereka harus menjauhkan para allah asing
dan para Asytoret dari tengah-tengah mereka dan mengarahkan hati mereka kepada TUHAN dan beribadah hanya kepada TUHAN; maka TUHAN
akan melepaskan mereka dari tangan orang Filistin. Menjauhkan berarti mereka
harus meninggalkan, bukan malah membiarkan itu tetap ada. Para allah,
berhala-berhala itu harus di singkirkan. Kepercayaan lain harus benar-benar di
bersihkan. Sehingga yang ada hanya kepercayaan kepada TUHAN semata. Yang kedua
berbalik berarti hati hanya tertuju kepada Allah saja. Tidak boleh bercabang.
Hati harus benar-benar terarah kepada Allah saja. Dan untuk membuat hati
tertuju kepada Allah semata bukan perkara yang mudah. Karena jika hati kita
terikat dan terpaut; dengan kata lain kita telah jatuh cinta, untuk membuat
hati kita berbalik meninggalkan sesuatu yang kita yakini benar adalah tidak
mudah. Katakan saja meninggalkan pengajaran leluhur seperti mitos-mitos adalah
tidak mudah. Karena tidak sedikit orang yang sesungguhnya menyakini bahwa ada
kebenaran yang terkandung didalamnya. Hati adalah gudang dimana kita menyimpan
semua barang; apakah itu barang yang baik dan maupun rongsokan semuanya
tersimpan di gudang. Apakah yang tersimpan dihati kita saat ini? Apakah hal yang
baik? Yang ketiga berbalik kepada TUHAN berarti Beribadah hanya kepada TUHAN
saja. Bukan kepada allah lain; bukan kepada Asytoret; bukan kepada leluhur.
Segala hormat dan kemuliaan hanya kepada TUHAN saja. Persembahan–persembahan
korban hanya untuk Tuhan saja. Sebab itu mari kita memperhatikan; apakah
saudara sudah menjauhkan dosa dan kejahatan yang ada dalam diri saudara? Apakah
saudara sudah menjauhkan kata-kata kotor seperti kata makian, umpat, dusta dan
sebagainya? Kedua kemanakah hatimu tertuju saat ini? Benarkah hatimu hanya
tertuju kepada Allah saja? Benarkah hatimu tidak bercabang? Perhatikanlah
jangan-jangan hatimu tertuju kepada keindahan dunia ini; kepada harta dan
sebagainya. Ingatlah Yesus pernah menasihati murid-murid-Nya dalam Matius. 6: 21
karena dimana hartamu berada disitu hatimu berada. Yang ketiga benarkah engkau
berbakti kepada TUHAN saja? Benarkah hanya TUHAN yang engkau sembah dan engkau
puji? Yesus memperingatkan kita dalam Injil Matius; tidak seorangpun yang
mengabdi kepada dua Tuan yakni kepada Allah dan kepada mamon. Benarkah tidak
ada mamon dalam hidupmu yang engkau sembah? Samuel mengatakan Tuhan akan
melepaskan umat-Nya dari tangan orang Filistin. Tuhan akan menyertai kita dan
melapaskan kita dari kesukaran dan segala marabahaya yang mengancam hidup kita.
Itulah Janji TUHAN.
Dan kita melihat nasihat
Samuel itu di taati dan di dengar orang Israel. Mereka membuang segala Baal dan
Asytoret, berbakti hanya kepada Tuhan saja. Mereka berpuasa dan mengaku dosanya
kepada TUHAN. Tidak hanya mendengar tetapi melakukan. Tidak hanya mengiakan
dengan mulut tetapi membuktikan itu dalam kehidupan ini. Bila engkau
bertobat dan engkau mengatakan hendak membuang dosa itu; Benarkah engkau sudah
membuang dan meninggalkannya? Benarkah itu tidak hidup lagi dalam dirimu? Jika
engkau saya hanya mau berbakti kepada TUHAN saja; benarkah engkau sudah setia
berbakti kepada-Nya pada setiap hari minggu? Bagaimanakah dengan kesetiaanmu
selama ini? Sudahkah engkau mengaku dosamu dan berpuasa? Tuhan berkehendak kita
menunjukkan kesetiaan kita kepada-Nya. Tuhan berkehendak kita menunjukkan
pertobatan kita kepada-Nya. Bukan hanya mulut kita yang mengatakan. Karena itu
Yakobus mengatakan; bukan hanya mendengar tetapi melakukannya.
Saudara-saudara yang kekasih
Hal yang kedua yang dilakukan
Samuel adalah berdoa untuk orang Israel. Dalam Alkitab kita selalu membaca
tentang doa. Yesus sendiri juga berdoa dan secara khusus ia berdoa untuk
murid-murid-Nya. Berdoa adalah mengambil persekutuan dengan Tuhan. pe-Mazmur 25
mengatakan; bergaul Karib dengan Tuhan adalah melalui doa. Begitu penting doa
itu bagi kita. Dalam Katekhismus di ajarkan doa adalah bagian yang terutama
dalam hal mengucap syukur. Selain dari berdoa sendiri, Yesus mengajar
murid-murid-Nya untuk berdoa. Samuel mendoakan orang Israel. Seorang pemimpin
yang baik, nabi dan hakim yang benar adalah yang berdoa bagi mereka yang
dipimpin. Samuel adalah contoh dan tipe pemimpin yang baik. Kita semua adalah
baik diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Sebagai Dewan Gereja salah satu
tugas kita adalah mendoakan sidang TUHAN. Sebagai orang tua tugas kita adalah
mendoakan anak-anak kita. Untuk itu mari kita bersama-sama melihat sudahkah
saudara sebagai Dewan Gereja mendoakan sidang TUHAN? Sudahkah saudara sebagai
orang tua mendoakan anak-anak saudara? Mari kita menjadikan diri kita menjadi
seorang pribadi seperti Samuel yang berdoa. Suami yang baik adalah suami yang
berdoa bagi isteri. Orang tua yang baik adalah yang berdoa untuk anak-anaknya.
Isteri yang baik isteri yang berdoa bagi suaminya. Anak-anak yang baik adalah anak-anak
yang berdoa… Sebab itu pertanyaannya; bagaimanakah dengan kita sudahkah saudara
menjadi pribadi yang berdoa dalam hidup ini. Seberapa seringkah saudara berdoa
untuk Gereja TUHAN; untuk hamba-hamba-Nya; untuk anak-anakmu, untuk suamimu,
isterimu pekerjaanmu dan kondisi saat ini?
Amin
Tahun Baru, 01 Januari 2014
Ayub. 5 : 6 – 8
Saudara-saudara yang kekasih dalam TUHAN kita Yesus
Kristus,
Kita telah berada di awal
tahun Baru 2014. Dengan penuh rasa syukur kita bersama-sama merayakannya. Tuhan
berkenan untuk kita hidup dan melanjutkan tugas serta tanggungjawab kita di
tahun 2014 ini. Bukan secara kebetulan, nas kita dalam kebaktian awal tahun ini
yang terambil dari Ayub 5: 6–8 menuntun kita sejenak untuk melihat kepada
perjalanan panjang yang kita lewati di tahun 2013. Dan sekaligus mengarahkan
kita sebagai anak–anak Tuhan bagaimana kita harus mempersiapkan diri untuk
hidup sebagai anak-anak Tuhan di tahun 2014.
Ayub adalah seorang pribadi
yang tidak asing lagi bagi kita. Keteguhan percayanya dan keyakinannya yang
tangguh dalam menghadapi penderitaan dan kepahitan dalam hidupnya adalah contoh
bagi kita. Kita dapat belajar banyak dari seorang Ayub. Ayub tidak saja
kehilangan harta dan anak-anaknya, juga ia sendiri mengalami sakit yang
membuatnya sangat menderita. Dan secara batin Ayub sangat menderita karena
isterinya, yang bukannya menghibur dan memberi penguatan kepada Ayub dalam
penderitaannya malah mengatakan; Kutukilah dan matilah! Bahkan
sahabat-sahabatnya bukannya datang memberi penguatan kepada Ayub tetapi
sebaliknya menuduh Ayub telah melakukan dosa yang besar dihadapan Tuhan. Tetapi
dalam semuanya itu Ayub tetap berpegang teguh kepada Tuhan. Ia tetap percaya
kepada Tuhan dan tidak meninggalkannya.
Saudara-saudaraku,
bagaimanakah dengan kita? Masihkah kita percaya kepada-Nya dan setia dikala
kepahitan itu melanda kita? Dan bagaimanakah sikap kita dikala mereka yang kita
harapkan meninggalkan kita? Masihkah kita memilih untuk tetap percaya
kepada-Nya? Dalam nas kita saat ini Elifas, yang adalah sahabat Ayub sendiri
datang kepada Ayub dan menjelaskan bahwa sekalipun Ayub adalah hamba Allah,
Ayub tetap merupakan makhluk fana yang jatuh dalam dosa. Oleh karena itu, semua
kesukaran Ayub itu timbul bukan dari tanah melainkan dari Ayub
sendiri. Penderitaan Ayub adalah buah-buah berduri dari dosanya. Itulah menurut
Elifas! Demikianlah persepsi Elifas! Dan ini menjelaskan keterbatasan Elifas
dalam memaknai apa yang dialami Ayub. Kita juga harus mengakui bahwa betapa
terbatasnya kita dalam mengartikan sesuatu yang dialami orang. Kita cepat
mengklaim bila orang mengalami penderitaan dan kesusahan sebagai akibat dari
dosa yang dilakukannya. Sangat sedikit orang yang tidak berpikir seperti itu.
Penilaian Elifas terhadap Ayub tentu meleset dan tidak tepat. Karena Firman
mengatakan bahwa AYUB menderita bukan karena dosanya melainkan karena
kesetiaannya kepada TUHAN. Ia seorang yang hidup benar dihadapan Tuhan.
Tetapi apakah arti Firman
TUHAN ini dalam kita menyambut dan memasuki tahun 2014 ini? Apa yang dikatakan
Elifas itu adalah benar! Kata-katanya tepat tetapi dalam konteks Ayub tidak
benar. Tanah tidak pernah menimbulkan bencana dan kesusahan melainkan manusia
menimbulkan kesusahan bagi dirinya. Kata-kata Elifas ini benar. Dari tanah kita
mendapat hasil; jagung, padi dan sebagainya. Dan itulah kenyataan yang tak
dapat kita pungkiri. Sebab itu jika di tahun 2014 kita mengalami kesusahan dan
bencana; yang pertama yang kita lakukan memeriksa diri apakah benar kita telah
hidup setia dan taat dihadapan TUHAN? Jika kita mengalami kesusahan dan bencana
sebagai akibat dari perbuatan kita maka kita harus berubah dimana mengambil
sikap dan berkata; Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah
aku akan mengadukan perkaraku. Pernyataan sikap yang menegaskan apa yang kita
harus buat sangat-sangat penting. Kita harus bisa berjanji akan berubah dan
hidup baru. Setia kepada-Nya, taat dan dengar-dengaran. Kesetiaan dalam
kebaktian tentu harusnya kita perhatikan. Kita bukannya pasif dengan keadaan
kita pada waktu yang lalu; tetapi bangkit dengan menunjukkan kesetiaan dan
ketaatan kita kepada-Nya. Artinya jangan Senin Kamis datang ke Gereja.
Ketekunan dalam kebaktian kepada Tuhan harus benar-benar di perhatikan. Karena
jika kita tidak setia dan rajin kita sedang mendatangkan kesusahan bagi diri
kita sendiri. Karena semakin renggang hubungan kita dengan TUHAN semakin
terbuka kemungkinan buruk bagi keyakinan kita akan TUHAN. Kita akan menjadi
lemah tidak berdaya menghadapi pergumulan yang ada di depan mata kita. Kita
tidak akan kuat seperti Ayub.
Saudara-saudara; juga dikala
kita berhadapan dengan banyak persoalan; kita tidak punya tempat yang tepat,
yang dapat membela dan memberi kita keadilan; tidak ada tempat lain yang pas
untuk kita mengadu; satu-satunya tempat yang paling tepat adalah TUHAN. Karena
itu bagaimanapun juga besar dan beratnya persoalanmu, TUHAN pasti menjawabmu
dengan solusi yang di berikannya. Perjalananmu dan langkahmu di tahun 2014 akan
mantap. Jika engkau berpegang pada TUHAN. Jangan takut memasuki tahun 2014;
karena ada Janji TUHAN bagimu. Bawa semua persoalanmu maka TUHAN akan
menjawabmu. Apapun yang terjadi di tahun 2014; meski orang lain berubah setia,
meski banyak orang tidak mau lagi berpegang pada kebenaran itu tetapi engkau
harus tetap mengatakan; Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah,
dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku.
Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar