Senin, 29 Desember 2014

Efesus. 3: 1 – 13; KH Minggu 26 sj 69–71; Efesus. 3: 14 – 21; Ester. 1: 1 – 22; Ester. 2: 1 – 18 dan Matius. 24: 1 – 2

Waingapu, 30 Maret 2014
Pengakuan Percaya: Gusti Makaborang, Jakson Yunus Lay Jaga, Kahi Ananggia, Soli Lawa Naha; Arne rambu Danga, Andrias Billi Dede dan Lusiana Kanini
Permandian yang Kudus: Joshua Mario Milano Billi
Perjamuan Malam TUHAN yang Kudus

 Matius. 24 : 1 – 2

Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Rasul Matius mencatat dalam Injilnya; Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Dalam Matius. 23 Yesus mengajar di Bait Allah; Ia mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Torat, menyebut mereka kubur yang dilabur putih, keturunan ular beludak dan seterusnya. Kecaman tersebut tentunya menjadi peringatan keras pula bagi murid-murid Yesus menjadi pengajaran bagi mereka bagaimana seharusnya mereka hidup sebagaimana anak-anak Tuhan. Dan sesudah itu Yesus menyampaikan bahwa Yerusalem akan di tinggalkan dan Bait Allah akan menjadi sunyi. Perkataan itu di iringi dengan Yesus keluar dari Bait Allahm lalu pergi. Perkataan dan sikap Yesus itu sulit di mengerti oleh murid-murid Yesus. Karenanya mereka mengajak Yesus untuk melihat kembali kepada bangunan-bangunan Bait Allah itu. Tetapi yang menarik Yesus justeru membimbing dan menuntun murid-murid-Nya akan memandang jauh ke depan; IA mengatakan; Kamu melihat semuanya itu? Yang engkau lihat sekarang, nantinya tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan. Jawaban Tuhan Yesus ini tentunya sangat berseberangan dengan kebanggaan yang ada dalam hati murid-murid itu. Sulit untuk dipercaya bahwa Bait Allah akan ditinggalkan orang. Bagaimana mungkin bangunan yang begitu indah dan megah itu, bagaimana mungkin Yerusalem yang begitu ramai ditinggalkan orang?. Bukankah Bait Allah itu kokoh sekali? Tidak mungkin! Bisa saja orang mengatakan; terlalu berlebihan ungkapan Yesus itu! Bait Allah merupakan tempat tinggal Allah. Bait Allah adalah satu kesatuan dengan Yerusalem, disanalah Allah tinggal, disanalah Kota Allah. Kalau Bait Allah dan Yerusalem hancur, berarti Allah juga hancur.  Bait Allah dan Yerusalem adalah kebanggaan umat TUHAN. Mungkinkah Bait Allah dan Yerusalem akan di buat sunyi tanpa penghuni? Runtuhnya Yerusalem dan Bait Allah itu sama halnya selesai sudah kebanggaan mereka sebagai umat TUHAN.
Tahun 70 terjadilah seperti yang Tuhan Yesus katakan, dimana tidak ada satu batu dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Jenderal Titus melawan untuk menghancurkan Yerusalem. Selama 2 tahun ia mengepung Yerusalem, orang-orangnya tidak boleh keluar dari kota tersebut. Sesudah itu ia bermaksud akan menangkap orang-orangnya yang masih hidup, tetapi ternyata orang-orangnya sudah terlebih dahulu bunuh diri. Hal itu membuat Jenderal Titus dan pengikutnya marah, karena mereka hanya menemukan mayat-mayat dan bangunan-bangunan yang kosong, maka kota tersebut dibakar habis. Mereka membakar Bait Allah dan emas-emas yang menempel pada batu-batu tembok semuanya diambil.
Saudara-saudara yang kekasih; terpesona karena keindahan dan kemegahan sebuah gedung sebenarnya tidak salah. Itu adalah hal yang alami. Yang  salah adalah bila kita meletakkan pengharapan dan keyakinan kita pada kemegahan sebuah gedung. Bait Allah akan menjadi bangunan yang berkualitas bila TUHAN ada didalamnya. Tetapi bila Tuhan tidak ada didalamnya; Ia keluar dan pergi maka Bait Allah menjadi sebuah gedung yang tidak berarti apa-apa. Secara lahiriah bangunan Bait Allah kelihatan sangat rohani tetapi Allah tidak ada di dalamnya. Yesus keluar, lalu pergi; Yesus tidak merasa nyaman untuk tinggal lebih lama di Bait Allah. Bait Allah menjadi tempat berjual beli. Bait Allah menjadi tempat tranksaksi keuangan. Bait Allah menjadi tempat mencari popularitas. Bait Allah bukan lagi menjadi tempat dimana orang beribadah kepada TUHAN.
Jika itu keadaan pada masa TUHAN Yesus pertanyaannya bagaimanakah dengan keadaan dalam Gereja TUHAN saat ini?. Kita melihat bahwa secara perlahan-lahan Gereja tidak hanya menjadi tempat beribadah. Tetapi menjadi tempat dimana orang mencari Popularitas. Menjadi tempat dimana orang memproklamirkan dirinya sebagai orang hebat. Ibadah di Gereja telah menjadi kegiatan rutinitas belaka dan kegiatan yang berlangsung secara Formalitas. Akibatnya rasa nyaman menjadi sesuatu yang sulit untuk di temukan.
Bilakah Yesus keluar dan pergi dari hidupmu? Apakah yang terjadi? Jika Yesus keluar dan pergi meninggal Bait Allah yang terbuat dari Batu; ingatlah bahwa Bait Allah yang sebenarnya adalah tubuhmu! Jika Yesus tidak terikat oleh sebuah bangunan; Ia juga bisa keluar dan pergi meninggalkan engkau; Ia tidak terikat karena engkau adalah Rumah-Nya. Jika engkau menjadi rumah yang baik ia akan tinggal dan berdiam. Sebab itu buka pintu hatimu dan biarkan IA masuk. Wahyu. 3:20. Ia mau tinggal jika engkau setia dan taat kepada-Nya. Untuk itu mari kita renungkan dan bertanyakan diri kita: Adakah Yesus berdiam dalam dirimu? Apakah engkau merasakan bahwa Yesus tinggal dalam dirimu ataukah sebaliknya engkau merasa bahwa Yesus keluar, lalu pergi?
Lalu bagaimanakah dengan Yesus sendiri? Apakah Yesus terpengaruh hingga terpesona seperti murid-murid itu? Yesus sama sekali tidak tertarik oleh kemegahan gedung itu. Ia tidak terpesona karena keindahan dan kemegahan Bait Allah itu. Benar; Bait Allah adalah Lambang dari kehadiran Allah di tengah-tengah Umat-Nya. Tetapi dimana takut akan TUHAN tidak ada, maka Bait Allah menjadi symbol belaka. Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya"Tidak satu batu pun ... akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain". Yesus  marah: Jangan menjadikan Rumah BapaKu menjadi sarang penyamun. Yesus benci melihat perilaku di dalam Bait Allah karena tidak mencerminkan Rumah Tuhan melainkan lebih mencerminkan rumah penjahat. Gereja adalah pusat kerohanian, pusat dari seluruh hidup kita. Pertanyaannya Apakah Tuhan menjadi yang utama ataukah hanya jangan-jangan TUHAN hanya sekedar asesoris/hiasan belaka? Ketika engkau berada di dalam rumah Gereja; sadarkah engkau bahwa engkau telah berada di rumah TUHAN. Sadarkah engkau bahwa engkau harus memuliakan Tuhan dalam Bait-Nya?. Orang dunia tidak suka memuliakan TUHAN; mereka tidak mau memuji TUHAN dan beribadah kepada TUHAN dalam rumah-Nya. Ia mau engkau dekat dengan Tuhan, Tuhan mau IA menjadi yang utama dalam hidupmu.
Saudara-saudaraku, Banyak gereja yang punya gedung yang mewah, gedung yang dibangun selama bertahun-tahun. Tetapi sayangnya kehidupan kerohanian sidangnya keropos. Kualitas kerohanian sidang harusnya semakin bertumbuh bukannya semakin kering dan merosot. Kerohanian kita harus semakin bertumbuh; Percaya kita harus terus bertumbuh dalam semua aspek kehidupan kita. Gedung yang megah dan fasilitas yang bagus boleh kita miliki. Tetapi percaya yang bertumbuh dan keyakinan yang kokoh itu adalah yang pertama dan utama bagi setiap kita sebagai anak-anak TUHAN. Gereja bukanlah tempat untuk menjalankan ambisi kita manusia, bukanlah masalah manusia suka atau tidak suka, bukanlah tempat untuk melampiaskan semua hobby dan semua keinginan kita. Tetapi Gereja adalah tempat dimana Tuhan mau hadir dan bertahta dalam hidup kita dengan orang-orang kudus-Nya
Amin. 
Rapu, 23 Maret 2014
Perjamuan Malam TUHAN yang Kudus

Ester.    2 : 1 – 18

Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Dalam pasal 1 di jelaskan tentang bagaimana Ratu Wasti di ceraikan oleh raja Ahasyweros dan secara otomatis Wasti disingkirkan dari kedudukannya sebagai ratu. Tindakan Ahasyweros yang sewenang-wenang berbuntut dengan ia harus menceraikan Wasti. Dan dampak dari itu Ahasyweros sendiri yang mengalaminya. Betapapun seorang merasa dimalukan dan dihinakan karena perintahnya tidak di taati; hendaknya mereka tetap berpikir bijak sehingga tidak mengorbankan sesuatu yang tidak perlu.
Banyak rumah tangga Kristen yang terancam berantakan bahkan berantakan dimana suami isteri akhirnya bercerai. Ada banyak sebab yang memicu terjadinya penceraian; tidak hanya salah satunya selingkuh yakni tidak setia. Juga hal-hal kecil bisa menjadi sebab rumah tangga berantakan. Persoalan ekonomi; tidak ada ini dan itu bisa menjadi sebab hancurnya sebuah rumah tangga. Karena itu kita berwajib akan bersama-sama memelihara keutuhan rumah tangga kita sehingga tetap harmonis. Jangan membiarkan hal-hal kecil mengganggu keutuhan rumah tanggau. Karena semua itu adalah serangga-serangga yang terus menerus akan menggerogoti kedamaian dan keutuhan rumah tanggamu.
Jika Ahasyweros menceraikan isterinya karena merasa di permalukan dan dihinakan Wasti (ia di remehkan). Maka kita perlu mencatat bahwa harga diri tidak harus mengorbankan rumah tangga kita. Sebagai bangsawan (umbu nai); Raja atau yang memiliki darah biru tidak menjamin keutuhan sebuah rumah tangga. Karena apapun dampak yang terjadi bukan orang lain yang merasakan tetapi kita sendiri yang merasakannya. Kita melihat Ahasyweros dalam kesunyiannya akhirnya merasa membutuhkan Wasti. Dalam sebuah rumah tangga suami tidak dapat bekerja sendiri tanpa isteri. Dalam setiap kebijakannya suami membutuhkan pendapat isteri. Begitu juga sebaliknya. Karena itu sikap arogansi, suka menang sendiri, bahwa kitalah yang paling benar dan orang lain pada posisi yang salah. Harus di hindari dan dijauhi. Setiap permasalahan yang terjadi hendaknya di selesaikan dengan pikiran yang dingin dan hati yang di penuhi Roh Kudus.
Saudara-saudara yang kekasih, Apakah yang harus dilakukan? Nasihat para penasihat kerajaan untuk mencari pengganti ratu Wasti diterima oleh raja Ahasyweros. Untuk itu di perintahkan untuk mencari gadis-gadis yang cantik di seluruh negeri dan diperhadapkan kepada raja. Raja boleh menentukan pilihan. Dan gadis yang kepadanya raja berkenan, maka gadis itu akan dijadikan Ratu bangsa kekaisaran Persia pada waktu itu.
Dan menarik berhubung dengan itu di jelaskan bagaimana TUHAN mengendalikan segala sesuatu. Tangan-Nya yang mengatur hampir-hampir tidak kelihatan. Tetapi inilah cara TUHAN yang ajaib. Bahwa jauh sebelum hal ini terjadi, Allah telah mempersiapkan dua orang hamba-Nya untuk memenuhi dan menggenapkan rencana-Nya. Mordekhai dipakai Allah untuk merawat dan mengarahkan serta mendidik EsterSehingga Ester benar-benar menjadi seorang gadis yang tidak saja cantik secara lahiriah tetapi juga cantik dalam kelakuannya. Mordekhai mengemban tanggungjawab baik secara jasmani maupun rohani. Secara jasmani Mordekhai memenuhi semua kebutuhan makan, minum dan pakaian yang di butuhkan Ester. Dan secara Rohani Mordekhai mampu membuat Ester menjadi seorang yang taat dan berbakti. Sebagai orang tua kita perlu belajar dari Mordekhai ini bagaimana seharusnya kita menjadi orang tua yang bertanggungjawab; bukan saja secara Jasmani tetapi juga secara Rohani. Jangan kita menjadi orang tua yang hanya bisa membelikan mereka makanan dan pakaian serta menyekolahkan mereka dan akhirnya mereka menjadi “Orang”. Tetapi didik mereka bagaimana mereka seti ke Gereja, ke Sekolah Minggu, ke PA-PA. Didik mereka supaya mereka menjadi anak-anak yang mencintai Tuhan dan Gereja-Nya. Didik mereka supaya mereka mencintai persekutuan itu. Jangan biarkan air matamu mencucurkan air mata kesedihan. Tetapi biarkanlah matamu berseri dan mengeluarkan airmata sukacita karena mereka sudah menjadi Ester-Ester yang taat.
Kita melihat bahwa TUHAN membuat Wasti tersingkir dari kedudukannya sebagai ratu untuk menempatkan Ester menjadi orang nomor satu dari seluruh perempuan dalam kerajaan Ahasyweros. Allah telah mengatur hingga Ester terpilih sebagai gadis yang sangat baik. Ia tampak sederhana dan tidak berlebihan. Tetapi ia dapat menimbulkan kasih dan sayang di dalam hati mereka yang melihatnya. Ester mendapatkan perlakuan istimewa dari gadis-gadis yang di tentukanEster tidak perlu berdandan secara berlebihan. Karena TUHAN mengatur bagaimana semuanya sehingga tetap berlangsung sesuai dengan rencana-Nya.
Dari sejarah ini kita belajar bahwa tidak perlu kita mencari kehormatan dan kedudukan dengan cara-cara yang salah; seperti dengan berusaha menjatuhkan orang lain dengan berusaha merusak reputasi mereka dan dengan demikian mereka bisa di geserkan dan kita menempati kedudukan mereka. Tidak perlu cara intervensi; intimidasi; suap dan sebagainya untuk mendapat sebuah kedudukan dan kehormatan. Karena kehormatan dan kedudukan adalah TUHAN yang memberikan. Kehormatan dan kedudukan itu akan di berikan kepada orang yang TUHAN berkenan. Dia akan menyingkirkan orang yang tidak di kehendaki-Nya. Dan menempatkan hamba-hambanya-Nya. kita tidak yakin mari kita belajar dari kitab Ester ini.
Menarik untuk disimak, Mordekhai menasihati Ester agar tidak menyebutkan kebangsaannya di hadapan para petugas. Sebab jika demikian, ada kemungkinan ia akan ditolak, sebab ia adalah keturunan dari kaum tawanan. Bagaimana mungkin keturunan dari kaum budak dijadikan Ratu di kekaisaran Media Persia! Para petugas pun tidak mempertanyakan dan dalam penyelidikan tersebut. Dan TUHAN mengendalikan segala sesuatuMordekhai boleh berpikir seperti itu. Tetapi rencana TUHAN tetap berlangsung, tidak akan ada yang membatalkannya. Hal itu kita lihat ketika para gadis itu diperhadapkan kepada raja, mereka diperbolehkan untuk membawa apapun di tangan merekaAtas nasihat dari petugas yang telah menyayangi Ester, ia masuk ke Balai ruang raja, tanpa membawa sesuatu di tangannya. Dengan jalan demikian, yang ditonjolkannya adalah kecantikannya semata mata, tanpa aksesoris menyertai dia dalam beraudiensi dengan raja. Inilah providensia Allah, demikianlah Allah mengaturnya bagaimana semuanya dapat berlangsung dan semua pasrti berlangsung sesuai rencana-NyaDan karena pekerjaan Allah, maka Ester pun sampai pada puncak kejayaaannya sebagai seorang perempuan nomor 1 dalam kerajaan Ahasyweros. Ester menjadi ratu bagi kekaisaran Media Persia. Melihat kecantikan Ester – arti dari nama itu ialah: bintang – raja pun terpana dan tidak dapat berbuat lain daripada memilih Ester menjadi Ratu. Tuhan membuat hatinya terpaut pada Ester. Nas kita berkata: Ester dikasihi raja lebih dari pada semua perempuan lain. Oleh karena itu, raja menaruh mahkota kepadanya sebagai pengangkatan dia sebagai ratu bagi kekaisaran Persia.
Saudara-saudaraku, ini menjadi pembelajaran bagi kita; apapun kondisinya percayalah bahwa TUHAN yang mengatur segala sesuatu. Percayalah dan yakinlah bahwa TUHAN mengendalikan segala sesuatu dan bahwa TUHAN akan mengatur semuanya sesuai dengan kehendak-Nya
Ester dengan sengaja ditempatkan di sana dalam rangka menjadi alat di tangan Tuhan kelak, untuk membebaskan orang Yehuda dari pemusnahan. Di sanalah letak posisi dari Ester. Kedudukan yang kita miliki dapat disebut sebagai alat di tangan Allah untuk membawa keselamatan bagi setiap pribadi, keluarga, kaum keluarga, masyarakat, pun mungkin bagi satu bangsa di muka bumi ini. Tahukah saudara bahwa TUHAN punya maksud Tuhan dengan menempatkan saudara pada posisimu saat ini? Sadarkah saudara bahwa Tuhan punya tujuan tertentu dengan hidupmu? Tahukah saudara bahwa TUHAN maksud mengapa IA menyelamatkanmu? Yesus telah datang, IA rela mati diatas kayu salib itu; oleh percaya statusmu/kedudukanmu sekarang adalah anak Allah. TUHAN telah merencanakan semuanya itu IA telah mengatur bagaimana semuanya harus berlangsung? Kita terkandang tidak mengerti dengan posisi yang kita miliki saat ini. Kita bertanya; mengapa saya masih tetap dengan kedudukan dan posisi saya ini? Bukankah lebih baik saya harus menjadi kepala; pemimpin dan seterusnya? Mari kita bersama-sama belajar dari sejarah Ester ini bahwa Tuhanlah yang mengaturnya. Semua pasti berlangsung dalam Provodencia Allah. Dan Karena itu kita harus bersyukur ketika Ia mempercayakan kita untuk menjadi alat dalam tangan-Nya.

Amin


Lalindi, 23 Maret 2014
  Perjamuan Malam TUHAN yang Kudus
 Ester.    1 : 1 – 22


Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Kitab Ester adalah satu satunya kitab dalam Perjanjian Lama yang tidak memuat nama TUHAN. Umat Tuhan saat itu berada di bawa pemerintahan raja Ahasyweros yang memerintah 485-465 s.M. Orang-orang Yahudi terbuang, tertawan, dan hidup di bawah hukum dan kekuasaan Media-Persia. Di dalam pembuangan itu kehidupan mereka tidak lagi diatur berdasarkan Hukum Torat Musa yang diterima dari Allah,  dengan segala konsekuensinya mereka harus tunduk kepada hukum Media-Persia yang dibuat dengan sekehendak hati raja, yang saat bersifat mutlak, tidak dapat diganggu-gugat ataupun digagalkan. Dan ini menjadi perenungan bagi kita: mungkin kita bertanya dimanakah Allah dan apakah yang dilakukan Tuhan dalam kondisi seperti itu? Apa yang dilakukan Tuhan di balik kekuasaan, kekayaan, dan keagungan Ahasyweros yang demikian besar? Dan bagaimanakah Tuhan memelihara umat-Nya di tengah keputusan yang sewenang-wenang dan tidak dapat diganggu-gugat ataupun dibatalkan.
Pelajaran berharga yang dapat ditimba dari kitab Ester ini ialah: Tentang Pemeliharaan Allah atas umat-Nya. Allah memerintah atas segala kerajaan di muka bumi ini. Perjalanan sebuah kerajaan berada di tangan Allah. Demikian juga dengan perjalanan sebuah bangsa. Dalam pasal satu ini Allah menunjukkan bahwa Ialah yang memerintah dan mengendalikan segala sesuatu. Ialah raja atas segala Raja. Kita melihat betapapun Ahsyweros memiliki kuasa dan kemuliaan yang besar, Ahasyweros adalah manusia yang lemah dan tidak berdaya serta memiliki kekurangan; Ahasyweros adalah seorang sombong dan angkuh,  yang suka memamerkan kuasa, kejayaan dan kekayaannya; seorang raja yang bertindak sewenang-wenang dan tidak menghormati isterinya. Tindakan Ahasyweros ini dipakai Tuhan untuk mempersiapkan Ester menjadi ratu dalam kerajaan Ahasyweros. Apa yang berlangsung dan dilakukan Ahasyweros dipakai oleh TUHAN akan menunjukkan kedaulatan atau otoritas-Nya.  Ialah yang mengendalikan segala sesuatu. Ia ada dan tetap bekerja (berkarya). Kehendak-Nya dan rencana-Nya tetap berlangsung terus. Kondisi yang ada tidak dapat menggagalkan rencana-Nya. Dan inilah penghiburan bagi kita saat ini. Dalam kemelaratan, kemelut dan kesukaran apapun IA tetap memelihara kita.
Dalam Perikop ini kita melihat raja Ahasyweros yang sudah di kuasai oleh kesombongan dan keangkuhannya rela mengeluarkan biaya yang besar demi sebuah deklarasi prestise! Demi sebuah popularitas. Demi sebuah nama! Ia mengadakan pesta yang sangat besar yang berlangsung selama 6 bulan yang khusus untuk pembesar, pegawai, tentara, kaum bangsawan bahkan masih ditambah lagi dengan 7 hari untuk seluruh rakyatnya. Semua itu semata-mata demi sebuah Prestise, popularitas dan nama! Raja rela mengeluarkan dana yang begitu besar hanya untuk memamerkan kekuasaan, kejayaan dan kekayaannya. Bahkan raja rela untuk mempertontonkan kecantikan isterinya dihadapan para pembesarnya yang sudah mabuk. Dan karena Wasti menolaknya ia rela menceraikan ratu Wasti karena merasa telah dihinakan. Ia merasa harga dirinya telah di runtuhkan oleh ratu Wasti. Maka untuk sebuah kewibawaan dan harga diri dan prestise ia menceraikan ratu Wasti. Sikap dan tindakan Ahasyweros yang sewenang-wenang itu tentu merugikan dirinya sendiri.
Saudara-saudara yang kekasih, Ternyata prestise bukan sekedar tentang kenyataan atau realita, melainkan tentang kepuasan hati seseorang. Prestise, Popularitas dan nama; serta harga diri menuntut hidup dengan biaya tinggi! Menuntut harga yang mahal. Pertanyaannya bagaimanakah dengan kita saat ini? Apakah  engkau hidup demi prestise; Harga diri; Popularitas dan nama? Kita melihat bahwa hari inipun demi sebuah prestise  (Harga diri; Martabat, posisi dan reputasi) dan untuk sebuah Popularitas orang rela mengorbankan waktu, harta dan kekayaannya. Demi Posisi orang berkampanye di mana-mana, tidak peduli malam, panas terik, dingin. Tidak peduli berapa besar anggaran yang keluar. Demi sebuah harga diri orang siap memberi apa yang sisa untuk nafkah dalam hidupnya bahkan siap berhutang. Demi sebuah reputasi orang harus berusaha berangkat dan melakukan sekalipun itu adalah sesuatu yang sukar. Singkatnya demi semuanya itu tidak ada alasan untuk tidak melakukannya. Untuk semua itu selalu ada waktu, selalu ada kesempatan dan selalu ada uang. Pokoknya selalu ada demi sebuah prestise. Ahasyweros punya waktu, 6 hari untuk para pembesarnya, 7 hari untuk rakyat; punya makanan yang banyak; punya hewan yang banyak untuk di sembelih hanya untuk harga diri, reputasi atau Prestise. Orang-orang Farisi di jaman Tuhan Yesuspun mulai menunjukkan dirinya dihadapan orang banyak, berdoa di tikungan-tikungan jalan, memberi sedekah dimana ada orang banyak. Semata-mata demi sebuah harga diri dan reputasi.
Tetapi untuk pekerjaan pelayanan di Gereja; untuk kebaktian hari minggu dan PA; untuk kegiatan di Gereja selalu ada alasan sibuk; kerja ini dan itu; tidak uang, tidak waktu dan sebagainya. Mengapakah selalu tidak ada waktu, tidak ada uang dan sebagainya untuk TUHAN? Mengapakah untuk kepentingan kita selalu ada waktu, uang dan sebagainya?
Mencari pengakuan dan kebesaran secara dunia tidak akan pernah memuaskan hati, malahan merusak dan merugikan diri kita sendiri. Karena manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang ia miliki! Raja Ahasyweros rela mengorbankan ratu Wasti, menceraikannya karena mencari pengakuan orang lain karena sebuah reputasi dan kebesaran secara duniawi! Hanya karena sebuah harga diri, ia rela melakukan ituKesombongan selalu berujung pada kehnacuran!
Untuk itu saudara-saudaraku, mari kita memeriksa diri kita apakah kita sudah tidak seperti Ahasyweros lagi; yang demi sebuah prestise mengorbankan waktu, harta dan kekayaannya. Dan apakah kita selalu punya waktu dan harta untuk TUHAN. Dan kita berserah kepada TUHAN seperti pe-Mazmur. 139:23 yang mengatakan "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;" Yesus tidak mempertahankan diri-Nya; Ia tidak mempertahankan harga diri-Nya. Tetapi IA turun dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan kita. Ia siap mati di salibkan. Mengorbankan hidup-Nya demi keselamatan kita. Didalam Dialah kita belajar untuk menjadi anak-anak TUHAN; yang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama kita. Diluar Dia kita akan menjadi figur Ahasyweros; yang sombong dan angkuh, yang hanya mementingkan dirinya demi sebuah harga diri, posisi, reputasi atau prestise. Belajar dari Yesus Kristus karena IA rendah hati dan lemah lembut. Apakah saudara-saudara mau belajar dari-Nya? IA menjamin Jiwamu akan mendapat ketenangan.

Amin  










 Waingapu, 16 Maret 2014
 Efesus.   3 : 14 – 21


Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Dalam perikop ini di jelaskan tentang doa Paulus. Ada tiga hal penting yang di jelaskan sehubungan dengan pokok tersebut:
1.      Bagaimana Paulus Berdoa?
2.      Apakah doa Paulus?
3.      Paulus mengakhiri doanya dengan Pujian
Saudara-saudara yang kekasih, bagaimana Paulus berdoa?
Dalam ayat 14-15 hal ini di jelaskan. Kita membaca ada kata “sujud” yang berarti berlutut. Paulus berdoa dengan cara berlutut bukan dengan cara berdiri atau duduk. Jarang kita menemukan orang berdoa dengan cara berlutut. Umumnya kita hanya melihat orang yang berdoa dengan cara berdiri dan duduk. Berlutut adalah sikap doa yang tentunya tidak hanya mengingatkan kita kepada beberapa peristiwa penting dalam Alkitab. Dimana dikatakan ketika orang datang kepada Yesus mereka tersungkur, sujud menyembah dan seterusnya. Berlutut adalah menggambarkan kepribadian seseorang dihadapan TUHAN yang merasa dirinya tidak layak. Seperti orang kusta itu yang kembali dan sujud menyembah Yesus, Yesus ketika berdoa di taman Getsemani juga sujud dan lain-lain. Paulus berlutut ketika ia berdoa. Apa yang membuat dan mendorong Paulus sehingga ia harus berdoa dengan cara yang demikian? Bahwa Allah di dalam Yesus Kristus juga menyelamatkan orang-orang Efesus. Injil itu sudah datang kepada mereka. Oleh percaya sekarang mereka adalah ahli-ahli waris hidup yang kekal itu.
Yang kedua Paulus berdoa kepada Bapa. Allah itu adalah bapanya didalam Yesus Kristus.  Bapa yang daripadanya berasal segala sesuatu. Paulus berdoa kepada yang memiliki kedaulatan dan otoritas mutlak atas segala segala sesuatu. Paulus berdoa kepada penguasa atas Sorga dan bumi. Kita melihat, Paulus tahu menempatkan dirinya, Ia sadar bahwa ia berhadapan dengan Bapa yang mempunyai otoritas mutlak atas segala sesuatu dan atas dirinya juga. Dan bukan hanya itu. Paulus juga sadar bahwa sepenuhnya ia bergantung kepada Bapa. Sebab itu baginya doa bukanlah kegiatan rutinitasnya; tetapi doa adalah bagian dari hidupnya yang tidak dapat di pisahkan. Apapun kondisi ia akan tetap berdoa, meski ia berada dalam penjara ia akan tetap berkomunikasi dengan Allah atau berdoa kepada Allah.
Pertanyaannya bagi kita: Bagaimanakah sikap kita ketika saudara berdoa? Sadarkah kita bahwa kita sedang berhadapan dengan Bapa sebagai pemilik mutlak dan yang punya otoritas atas sesuatu bahkan atas hidup kita? Doa bukanlah kegiatan rutinitas tetapi bagian dari hidup kita yang didalam menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah. Karena itu apapun kondisinya kita harus tetap berdoa atau berkomunikasi dengan Allah. Ada banyak hal yang membuat kita untuk selalu dan tetap berkomunikasi dalam doa kepada Allah. Bukan saja dikala senang/bahagia juga dikala saudara sedih atau sebaliknya.
Lalu seperti Apakah doa Paulus? Paulus tidak berdoa supaya ia secepatnya di keluarkan dari penjara; supaya ia segera menghirup udara segar. Paulus tidak mementingkan dirinya. Tetapi ia berdoa untuk sidang Efesus. Dan inilah doa Paulus:
Pertama-tama ia meminta supaya Allah menguatkan dan meneguhkan sidang Efesus dengan Roh-Nya. Roh Kudus adalah kuat Kuasa Allah, yang menghibur, menguatkan, meneguhkan, membaharui hidup seseorang, dan seterusnya. Kehadiran Roh Kudus adalah kebutuhan mendasar orang-orang percaya. Siapapun kita membutuhkan kekuatan Roh Kudus. Dalam ketidak pastian perjalanan hidup kita di dunia ini. Dalam usaha yang kita lakukan yang terancam gagal alias gulung tikar, dalam masalah-masalah yang kita hadapi, dalam pergolakan polotik yang tidak jelas saat ini, dalam pergumulan dalam rumah tangga, dalam menghadapi penderitaan, sakit penyakit, dalam menghadapi perkembangan globalisasi, dalam menghadapi kenakalan remaja, dalam menghadapi tawaran-tawaran yang demikian menggiurkan dan menjanjikan; dalam menghadapi arus pengajaran yang ada. Semua ini dapat membuat kita goyah dan tidak teguh. Untuk itu kita membutuhkan Roh Allah yang dapat membuat kita tetap kuat dan kokoh. Kita akan tetap teguh dan tidak bergeser dari keyakinan kita pada kebenaran itu. Kita harus berakar  dan berdasar dalam kasih itu, yakni Hidup kita harus terus bertumbuh kuat laksana pohon yang tetap kokoh karena di tunjang dengan akar-akar yang kuat yang mendapat nutrisi makanan. Nutrisi makanan yang harus kita serap adalah bersumber dari Kasih Allah. Selain dari itu hidup kita harus terus di bangun diatas pondasi yang kuat sehingga tidak mudah goyah dan jatuh. Gedung pencakar langit betapapun tinggi bila didukung oleh pondasi yang kuat tidak akan mungkin rubuh begitu saja. Kasih Allah adalah pondasi yang kuat yang darinya kita harus membangun hidup ini. Dan Roh Allah akan menghibur kita dalam kegelisahan yang kita hadapi. Roh Allah akan menguatkan kita dalam ketakutan kita. Roh Allah akan meneguhkan kita dalam kebimbangan kita. Roh Allah membaharui hidup kita sehingga Kristus berdiam di dalam hati kita. Dengan Kristus berdiam di dalam hati kita maka Ia akan mengendalikan segala sesuatu; kemauan (keinginan) kita, sikap kita, perbuatan kita, perkataan kita singkatnya hidup kita seutuhnya seturut kehendak-Nya. Hati adalah pusat dari kehidupan manusia. Jika Yesus tinggal - diam – dalam pusat hidup kita dan menjadi raja yang memerintah hidup ini, maka kita akan berada dalam sebuah jalur kehidupan yang benar.
Yang kedua Paulus berdoa supaya sidang mendapat pemahaman dan pengertian yang benar Kasih Kristus itu. Walaupun pada kenyataannya kasih Kristus itu melampaui segala pengetahuan, Paulus tetap menginginkan agar sidang memahami lebar, panjang, dalam dan tinggi kasih itu.
Begitu banyak definisi paling tidak ada 4 analisa yang di beri untuk menjelaskan kasih itu. Ada Kasih Eros yakni gairah secara seksual (birahi), baik kenikmatan maupun pemuasannya. Kata ini tersirat dalam makna kasih yang terbatas pada hubungan lelaki dan perempuan dalam suatu ikatan pernikahan. Yang kedua Kasih Storge kasih dalam ikatan alami antara ibu dan anak, ayah, anak-anak, dan kerabat. Yang ketiga kasih Phileo/Filio, yaitu kasih persahabatan, kita berteman dengan orang itu karena kita senang. Kasih phileo ini adalah kasih yang terpancar dalam perhatian. Kasih jenis ini semata-mata berdasarkan atas perasaan. Yang keempat kasih Agape yakni kasihnya Allah. Kasih agape bekerja untuk memberikan kebaikan bagi orang lain tanpa memperdulikan apa yang dirasakannya sendiri.
       Tetapi apakah Kasih Kristus itu? Kasih Kristus adalah Kasih Bagaimna IA menyerahkan diri-Nya untuk menebus dosa-dosa manusia; begitu dalam kasih itu tidak dapat di duga berapa kedalamannya. Begitu lebar, panjang dan tinggi kasih itu. Tidak dapat di ukur. Kita harus mengenal Kasih Kristus itu sebab jika tidak kita tidak akan mungkin bisa berakar dan berdasar dalam kasih itu. Kita tidak akan mungkin bisa bertumbuh kuat dan membangun hidup ini diatas pondasi yang kuat bila kita tidak mengenal Kasih Kristus itu.
Yang ketiga yang di minta oleh Paulus supaya sidang Efesus dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan/kesempurnaan Allah. Ketika Kristus memenuhi seluruh hati, pikiran dan perbuatan kita, dengan Roh-Nya maka kita akan dipenuhi kekuatan. Kepenuhan Allah berdiam di dalam Kristus (Kol.1:19; 2:9). Kualitas hidup, Percaya dan kasih kita akan semakin bertambah dan nyata dalam pergaulan sehari-hari. Kasih Kristus akan mewarnai tingkah laku serta perbuatan kita sehari-hari.
Dan yang terakhir Paulus mengakhiri doanya dengan pujian. Saudara-saudara Rasul Paulus sadar meski ia telah berdoa. Mungkin bila di nilai doa Paulus begitu indah dan berbobot, namun harus di sadari bahwa ia memiliki kekurangan dan keterbatasan. Pemberian Allah tetap melebihi doanya. Walaupun Rasul Paulus sudah memikirkan dengan matang apa saja yang diperlukan oleh sidang Efesus, tetapi Allah memberikan lebih dari apa yang ada dalam pikiran Paulus.
Saudara-saudara yang kekasih mari kita belajar dari Paulus ini bagaimana kita berdoa. Kita saling mendoakan seperti Paulus mendoakan sidang TUHAN di Efesus. Kita berdoa bagi Gereja TUHAN; untuk para Pelayan; untuk sidang TUHAN; untuk Isteri; suami; anak-anak dan Negara kita. Biar kita di penuhi dengan kepenuhan Allah; yakni dengan Kasih-Nya; Roh-Nya; setia-Nya, kebaikan-Nya, kesabaran-Nya dan seterusnya supaya kita terus bertumbuh sebagai anak-anak TUHAN yang kuat.

Amin.































Waingapu, 09 Maret 2014

Roma.    6 : 1 – 14
KH Minggu 26 sj 69–71


Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Dalam kebaktian ini kita mendengar khotbah tentang Sakramen Permandian yang Kudus itu. Dan bukan baru pertama kali kita mendengar khotbah tentang pokok ini. Tetapi apa yang selalu atau kerapkali kita dengar justru itu yang banyak kali kita lupa. Apakah pesan dan apakah pengajaran yang kita peroleh dari pokok ini yakni Sakramen Permandian Kudus itu? Tentu bukan hanya bahwa dalam Sakramen Permandian itu air yang di pakai; bahwa ada permandian dewasa dan kecil; dan bahwa perumusannya adalah dalam Bapa, Putera dan Roh Kudus. Tetapi lebih daripada itu sebagaimana di jelaskan dalam Minggu 26 ini:
Pertama-tama di jelaskan bahwa Sakramen Permandian itu adalah di tetapkan oleh Kristus. Di tetapkan berarti di tentukan. Artinya sakramen Permandian ini tidak diatur dan dirancang oleh seorang maha guru Teologi yang terkenal. Juga tidak diatur dan di buat oleh Gereja. Sehingga dipandang sebatas upacara Gereja saja. Tetapi Sakramen Permandian ini di tetapkan oleh Kristus sendiri. Sakramen Permandian adalah ketetapan Kristus. Dalam Injil Matius 28:19 dikatakan; Pergilah, jadikanlah segala bangsa muridKu dan permandikanlah mereka dalam Nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Dan Injil Markus.16:16 dikatakan; Siapa yang percaya dan telah dipermandikan akan diselamatkan; tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Dari ayat-ayat itu cukup jelas bahwa Permandian Kudus itu adalah di titahkan oleh Kristus.
Sebab itu tidak ada alasan untuk tidak melakukan Sakramen ini. Sebab hanya ada satu kewajiban saja dari setiap anak-anak TUHAN yakni mematuhi dan melakukan apa yang di titahkan oleh  Kristus. Tidak ada pilihan lain daripada melakukannya. Orang percaya yang adalah pengikut-pengikut Kristus harus melakukan titah Kristus ini; dengan memberi dirinya untuk di permandikan artinya bagi mereka yang di panggil kepada percaya, yang sebelumnya adalah orang kafir. Bila mereka memutuskan untuk mengikut Yesus dan menerima Dia sebagai TUHAN dan Juruselamatnya harus memberi dirinya untuk di permandikan. Demikian juga orang tua yang telah terhisab pada janji Allah yakni orang-orang Kristen; Dimana Allah berkenan memberi anak-anak kepada mereka harus membawa anak-anaknya untuk di permandikan. Kebiasaan buruk yang mulai menular banyak orang percaya (yakni anggota-anggota Gereja) hari ini seperti menunggu Babi besar baru mempermandikan anaknya; karena mau mengadakan pesta dan menanti pendeta/pelayan yang di inginkan hendaknya di tinggalkan. Jangan pula karena pengaruh keluarga maka anak tidak di permandikan. Sebab dalam tradisi kolot orang Sumba dan Sabu bila anak perempuan mereka mendapat anak di luar nikah maka hak ada pada om atau orang tua. Karena itu, yang berhak untuk membawa anak itu untuk di permandikan adalah orang tua dari anak perempuan tadi. Orang tua merasa punya kuasa untuk membatalkan apakah anak itu di permandikan atau tidak. Secepat mungkin anak harus di permandikan sebagai wujud dari ketaatan kita kepada titah Kristus. Tanda dan meterai ini harus di beri karena tanda dan meterai ini menegaskan kepemilikan mutlak ALLAH atas diri kita dan anak-anak kita. Sebab itu jika kita menyadari anak kita adalah milik Allah maka tanda dan meterai kepemilikan itu harus berlangsung atasnya, artinya Permandian itu harus dilakukan.
Hal yang kedua melalui Sakramen Permandian ini Allah menegaskan akan Janji-Nya kepada kita yakni bahwa Ia hendak mencuci kita dengan darah dan Roh-Nya dari segala dosa kita. Kata di cuci menegaskan bahwa kita begitu kotor. Dan karena itu dalam keadaan ini kita tidak layak untuk menjadi anggota-anggota keluarga ALLAH. Tetap melalui pengorbanan Yesus diatas kayu salib itu Allah hendak mengampuni kita dari segala dosa kita. Dalam pengampunan itu Allah melayakkan kita untuk menjadi anggota-anggota keluarga Allah. Dan Allah tidak mau kita meragukan hal itu; Ia mau kita memiliki keyakinan yang teguh; Ia mau kita yakin bahwa dosa-dosa kita telah diampuni-Nya melalui Yesus Kristus. Sebab itu Ia memberi Sakramen Permandian itu; supaya sebagaimana kita yakin badan kita telah bersih dari kekotoran ketika mandi. Demikianlah kita yakin bahwa darah dan Roh Kristus telah menyucikan kita dari segala dosa kita. Dan hanya dalam keadaan ini Allah mau menerima kita kembali dalam Rahmat-Nya. Kita tidak dapat langsung bergabung begitu saja yakni dalam keadaan Kotor dengan orang-orang Kudus dalam Kerajaan Allah. Kita harus lebih dulu harus di bersihkan; kita harus di permandikan; kita harus di cuci dengan darah dan Roh Kristus.
Tetapi selain dari itu dicuci dengan darah dan Roh Kristus juga berarti Allah hendak menguduskan kita menjadi anggota-anggota Kristus. Artinya Allah mengasingkan kita dari dunia ini. Dan hal itu dilakukan-Nya dengan cara memanggil kita kepada Percaya oleh Pemberitaan Injil itu, supaya kita hidup bagi TUHAN. Dan itu berarti bahwa kita harus hidup dalam pembaharuan itu. Manusia lama kita harus mati dan kita harus bangkit dalam manusia baru. Bukannya Manusia lama itu hidup terus dalam diri kita. Bukannya kita harus mengucapkan kata-kata kotor. Bagaimanapun juga kita harus keluar dari cara hidup yang demikian. Karena mendapat permandian (dipermandikan) adalah berarti mendapat bahagian dalam Kristus, dalam ketaatan dan kesengsaraan-Nya.
Saudara-saudara yang kekasih TUHAN kita Yesus Kristus, kita semua sudah di permandikan. Pertanyaan saudara-saudara seberapa besarkah arti permandian itu bagi kita? Bagaimanakah saudara-saudara memaknai permandian itu dalam hidup ini? Mari kita lihat apa yang kita buat saat ini sebagaimana anak-anak TUHAN. Adakah sesuatu yang engkau lakukan saat ini yakni bahwa engkau berusaha keluar dari cara hidupmu yang menyakitkan hati TUHAN? Oleh Permandian dengan tegas dinyatakan bahwa kita adalah milik ALLAH, kita adalah anak-anak Allah, kita adalah anggota – anggota keluarga Allah. Tentunya kita tidak hanya sebatas bangga karena kita adalah milik Allah, telah di terima Allah sebagai anak-anak-Nya dan menjadi anggota keluarga Allah. Tetapi apakah yang kita buat sebagai Milik-Nya, sebagai anak-anak-Nya dan sebagai anggota keluarga Allah? Mari kita belajar dari Paulus yang benar-benar setelah di panggil hanya melayani TUHAN dengan seluruh hidupnya. Dalam surat Galatia  2:20 ia menagatakan; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh Percaya dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Itulah Paulus. Dan hendaknya saya dan saudara-saudara juga seperti itu!

Amin






Waingapu, 02 Maret 2014
Efesus.   3 : 1 – 13


Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Dalam ayat-ayat ini di jelaskan tentang Kemuliaan Pelayanan Paulus: Memberitakan Rahasia Kristus. Sehubungan dengan pokok itu ada tiga hal yang di beritakan kepada kita;
1.          Siapakah Paulus dalam Berita Keselamatan itu?
2.         Siapakah kita setelah mendengar Berita Keselamatan itu?
Saudara-saudara yang kekasih, berbicara tentang kemuliaan Pelayanan kita pasti membayangkan sesuatu yang luar biasa; pelayanan yang menurut ukuran kita terkenal dimana-mana; pelayanan yang berdampak luas bagi kehidupan orang lain; pelayanan yang sedikit tidaknya bisa di terima umum dan memenuhi Kriteria-kriteria yang di kehendaki banyak orang  dan pelayanan dimana orang yang melayani di hargai dan mendapat kebesaran. Mungkin seperti itulah kita membayangkan dengan kemuliaan pelayanan Paulus. Kemuliaan pelayanan Paulus di jelaskan dalam perikop ini terletak pada hal Paulus memberitakan Rahasia KristusRahasia Kristus yang di maksudkan disini adalah bahwa orang Kafir (orang-orang yang tidak mengenal Allah) oleh Percaya kepada Injil itu boleh di selamatkan. Bagaimana hal itu disebut sebagai kemuliaan? Pada waktu Paulus menulis surat ini ia di penjarakan di Roma. Sebab dari pemenjaraannya di katakannya karena Kristus Yesus dan ia melakukan itu untuk sidang Tuhan di Efesus. Paulus siap dan rela menanggung penderitaan bahkan penjara demi dan untuk orang-orang yang belum mengenal Allah. Sekalipun konsekwensinya besar yakni penderitaan dan penjara yang harus di terimanya; komitmen Paulus adalah bahwa Injil itu dapat di beritakan dan banyak orang akhirnya di selamatkan. Selain dari itu Paulus mengatakan Pemberitaan Injil itu adalah tugas yanag harus di lakukannya. Ia harus menunaikan tugas itu dengan baik. Karena untuk itulah ia di panggil, untuk memberitakan Injil Keselamatan itu kepada orang-orang yang belum mengenal ALLAH. Kebesaran dan kemuliaannya bukan karena ia adalah rasul kenamaan dan mempunyai latar belakang pendidikan Teologi dibawa bimbingan maha guru kenamaan Gamaliel. Sebab itu ia mengatakan ialah yang paling hina dari semua orang-orang kudus; dimata TUHAN ia tidak layak sebab itu ia mengatakan bahwa ia menjadi pelayan memberitakan Injil itu adalah rahmat Allah semata-mata. Paulus mengakui perbuatan jahat yang dilakukannya; apa yang di buatnya di ketahui umum dan tidak dapat di sembunyikan. Baik dihadapan Allah maupun dhadapan manusia Paulus tidak dapat memegahkan dirinya. Ia tidak dapat membusungkan dadanya sebagai orang yang paling baik dan karena itu layak untuk mengemban tugas penyelenggaraan itu yakni memberitakan Injil itu.
Kemuliaan Paulus terletak pada dan ketika ia terus memberitakan Injil itu dan banyak orang di selamatkan; meski karena Injil itu Ia di penjarakan. Dalam Matius. 5:11 Yesus mengatakan; Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bd. Luk.6:22. Dan rasul Petrus mengatakan; Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenarankamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. I Pet. 3:14. Juga dikatakan dalam 1 Pet. 4:14; Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. Lebih jelas lagi dalam Lukas. 6:21Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Dan dalam Yak. 1:12 dikatakan; Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. Kemuliaan kita tidaklah bergantung pada latar belakang pendidikan yang kita miliki; status kita dan posisi yang saat ini kita miliki. Tetapi bergantung pada ketekunan kita dalam pelayanan yang kita lakukan sesuai tugas panggilan kita masing-masing sebagai anak-anak Tuhan. Kemuliaan Paulus terletak pada ketekuanannya dalam melayani Injil Yesus Kristus. Meski ia harus menderita karena Injil itu. Itulah Paulus!
Lalu siapakah kita setelah kita percaya kepada berita Injil itu? Dalam ayat 6 Paulus mengatakan;
yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.
Inilah Rahasia Kristus yang dikatakan Paulus dalam perikop ini. Rahasia artinya seuatu yang belum terungkap dan yang belum dinyatakan. Bahwa kita oleh berita Injil itu;
-            Turut menjadi Ahli waris. Sebelumnya kita bukan ahli Waris; kita tidak punya hak pada janji-janji TUHAN. Sebab kita belum menerima Injil itu dan percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi sekarang kita turut menjadi ahli waris yakni menjadi orang yang punya hak, yang pantas dan layak menerima warisan. Oleh Percaya dan karena Injil itu status kita adalah anak bukan lagi hamba. Dan sebagai anak kita adalah ahli waris yakni berhak atas kehidupan yang kekal itu.
-            Selain dari itu kita adalah anggota-anggota tubuh dari Kristus. Kita bukan tempelan dan bukan tiruan dari salah satu anggota tubuh. Sebaliknya kita adalah anggota-anggota tubuh-Nya yang benar. Sehingga tidak mungkin Ia mengerat dan membuang salah satu anggota tubuh-Nya. Kita adalah bagian dari anggota-anggota tubuh yang tidak dapat di pisahkan. Anggota-anggota tubuh yang memiliki peranan. Dan peranan kita adalah membuat supaya malaikat-malaikat boleh bersukacita karena keselamatan yang kita miliki dalam Kristus Yesus.
-            Yang terakhir kita adalah peserta dalam janji yang di berikan Yesus. Kita ada dalam daftar tetap bukan daftar tunggu, tidak perlu lagi diragukan; apakah kita dapat, bisa duduk atau tidak. Kita bukan hanya calon; kita bukan kandidat; bukan pula cadangan. Tetapi peserta yang sudah pasti memperoleh bagian dari apa yang dijanjikan.
Itulah posisi kita saat ini! Itulah saya dan saudara-saudara! Jika saudara-saudara masih meragukan ini semua berarti saudara belum menerima secara benar Yesus itu sebagai TUHAN dan Juruselamatmu. Hal yang kedua didalam Yesus kita beroleh keberanian; kita tidak takut lagi dan tidak perlu ada lagi sesuatu yang menakutkan kita. Sebab kita semua oleh Percaya kepada Yesus telah mendapat posisi dan tempat yang layak sebagai anak-anak Allah. jalan masuk kepada Allah dengan penuh keyakinan oleh Percaya kita kepada-Nya telah terbuka. Jika dulunya jalan kepada Allah masih tertutup dimana oleh karena dosa kita tidak berkenan menemui Allah tetapi kini oleh Percaya kepada Yesus kita boleh datang kepada-Nya. Sebab itu apapun yang kita alami tidak boleh membuat kita tawar hati yakni membuat kita patah hati, membuat kita tidak bersemangat dan membuat kita kecut. Apakah itu penderitaan, kesesakan, kesulitan, kemelut, hal yang memalukan atau sebuah perjuangan yang hampir tiada akhirnya. Jangan pernah kita tawar hati karena semua itu. Sebab seperti dikatakan Paulus kepada sidang di Efesus dalam ayat 13 ….karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu. Penjara dan penderitaan yang dialami Paulus menuntun mereka untuk memperoleh Keselamatan itu.
Saudara-saudaraku, perjuanganmu dalam TUHAN, dimana engkau mungkin harus menanggung malu, di tolak di cela dan sebagainya. Semua itu adalah langkah yang engkau harus lalui untuk memperoleh Kemuliaanmu sebagai anak-anak TUHAN.


Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar