Waingapu,
30 Maret 2014
Pengakuan Percaya: Gusti Makaborang, Jakson Yunus Lay
Jaga, Kahi Ananggia, Soli Lawa Naha; Arne rambu Danga, Andrias Billi Dede dan
Lusiana Kanini
Permandian yang Kudus: Joshua Mario Milano
Billi
Perjamuan Malam TUHAN yang Kudus
Matius. 24 : 1 – 2
Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus
Kristus,
Rasul Matius mencatat dalam
Injilnya; Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi.
Dalam Matius. 23 Yesus mengajar di Bait Allah; Ia mengecam orang-orang Farisi
dan ahli-ahli Torat, menyebut mereka kubur yang dilabur putih, keturunan ular
beludak dan seterusnya. Kecaman tersebut tentunya menjadi peringatan keras pula
bagi murid-murid Yesus menjadi pengajaran bagi mereka bagaimana seharusnya
mereka hidup sebagaimana anak-anak Tuhan. Dan sesudah itu Yesus menyampaikan
bahwa Yerusalem akan di tinggalkan dan Bait Allah akan menjadi sunyi. Perkataan
itu di iringi dengan Yesus keluar dari Bait Allahm lalu pergi. Perkataan dan
sikap Yesus itu sulit di mengerti oleh murid-murid Yesus. Karenanya mereka
mengajak Yesus untuk melihat kembali kepada bangunan-bangunan Bait Allah itu.
Tetapi yang menarik Yesus justeru membimbing dan menuntun murid-murid-Nya akan
memandang jauh ke depan; IA mengatakan; Kamu melihat semuanya itu? Yang engkau
lihat sekarang, nantinya tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas
batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan. Jawaban Tuhan Yesus ini tentunya
sangat berseberangan dengan kebanggaan yang ada dalam hati murid-murid itu.
Sulit untuk dipercaya bahwa Bait Allah akan ditinggalkan orang. Bagaimana
mungkin bangunan yang begitu indah dan megah itu, bagaimana mungkin Yerusalem
yang begitu ramai ditinggalkan orang?. Bukankah Bait Allah itu kokoh sekali?
Tidak mungkin! Bisa saja orang mengatakan; terlalu berlebihan ungkapan Yesus
itu! Bait Allah merupakan tempat tinggal Allah. Bait Allah adalah satu
kesatuan dengan Yerusalem, disanalah Allah tinggal, disanalah Kota Allah. Kalau
Bait Allah dan Yerusalem hancur, berarti Allah juga hancur. Bait Allah
dan Yerusalem adalah kebanggaan umat TUHAN. Mungkinkah Bait Allah dan Yerusalem
akan di buat sunyi tanpa penghuni? Runtuhnya Yerusalem dan Bait Allah itu sama
halnya selesai sudah kebanggaan mereka sebagai umat TUHAN.
Tahun 70 terjadilah seperti
yang Tuhan Yesus katakan, dimana tidak ada satu batu dibiarkan terletak di atas
batu yang lain. Jenderal Titus melawan untuk menghancurkan Yerusalem.
Selama 2 tahun ia mengepung Yerusalem, orang-orangnya tidak boleh keluar dari
kota tersebut. Sesudah itu ia bermaksud akan menangkap orang-orangnya yang
masih hidup, tetapi ternyata orang-orangnya sudah terlebih dahulu bunuh diri.
Hal itu membuat Jenderal Titus dan pengikutnya marah, karena mereka hanya
menemukan mayat-mayat dan bangunan-bangunan yang kosong, maka kota tersebut
dibakar habis. Mereka membakar Bait Allah dan emas-emas yang menempel pada
batu-batu tembok semuanya diambil.
Saudara-saudara yang kekasih;
terpesona karena keindahan dan kemegahan sebuah gedung sebenarnya tidak salah.
Itu adalah hal yang alami. Yang salah adalah bila kita meletakkan
pengharapan dan keyakinan kita pada kemegahan sebuah gedung. Bait Allah akan
menjadi bangunan yang berkualitas bila TUHAN ada didalamnya. Tetapi bila Tuhan
tidak ada didalamnya; Ia keluar dan pergi maka Bait Allah menjadi sebuah gedung
yang tidak berarti apa-apa. Secara lahiriah bangunan Bait Allah kelihatan
sangat rohani tetapi Allah tidak ada di dalamnya. Yesus keluar, lalu pergi;
Yesus tidak merasa nyaman untuk tinggal lebih lama di Bait Allah. Bait Allah
menjadi tempat berjual beli. Bait Allah menjadi tempat tranksaksi keuangan.
Bait Allah menjadi tempat mencari popularitas. Bait Allah bukan lagi menjadi
tempat dimana orang beribadah kepada TUHAN.
Jika itu keadaan pada masa
TUHAN Yesus pertanyaannya bagaimanakah dengan keadaan dalam Gereja TUHAN saat
ini?. Kita melihat bahwa secara perlahan-lahan Gereja tidak hanya menjadi
tempat beribadah. Tetapi menjadi tempat dimana orang mencari Popularitas.
Menjadi tempat dimana orang memproklamirkan dirinya sebagai orang hebat. Ibadah
di Gereja telah menjadi kegiatan rutinitas belaka dan kegiatan yang berlangsung
secara Formalitas. Akibatnya rasa nyaman menjadi sesuatu yang sulit untuk di
temukan.
Bilakah Yesus keluar dan pergi
dari hidupmu? Apakah yang terjadi? Jika Yesus keluar dan pergi meninggal Bait
Allah yang terbuat dari Batu; ingatlah bahwa Bait Allah yang sebenarnya adalah
tubuhmu! Jika Yesus tidak terikat oleh sebuah bangunan; Ia juga bisa keluar dan
pergi meninggalkan engkau; Ia tidak terikat karena engkau adalah Rumah-Nya.
Jika engkau menjadi rumah yang baik ia akan tinggal dan berdiam. Sebab itu buka
pintu hatimu dan biarkan IA masuk. Wahyu. 3:20. Ia mau tinggal jika engkau
setia dan taat kepada-Nya. Untuk itu mari kita renungkan dan bertanyakan diri
kita: Adakah Yesus berdiam dalam dirimu? Apakah engkau merasakan bahwa Yesus
tinggal dalam dirimu ataukah sebaliknya engkau merasa bahwa Yesus keluar, lalu
pergi?
Lalu bagaimanakah dengan Yesus
sendiri? Apakah Yesus terpengaruh hingga terpesona seperti murid-murid itu?
Yesus sama sekali tidak tertarik oleh kemegahan gedung itu. Ia tidak terpesona
karena keindahan dan kemegahan Bait Allah itu. Benar; Bait Allah adalah Lambang
dari kehadiran Allah di tengah-tengah Umat-Nya. Tetapi dimana takut akan TUHAN
tidak ada, maka Bait Allah menjadi symbol belaka. Yesus mengatakan kepada
murid-murid-Nya"Tidak satu batu pun ... akan dibiarkan terletak di
atas batu yang lain". Yesus marah: Jangan menjadikan Rumah
BapaKu menjadi sarang penyamun. Yesus benci melihat perilaku di dalam Bait Allah
karena tidak mencerminkan Rumah Tuhan melainkan lebih mencerminkan rumah
penjahat. Gereja adalah pusat kerohanian, pusat dari seluruh hidup kita.
Pertanyaannya Apakah Tuhan menjadi yang utama ataukah hanya jangan-jangan TUHAN
hanya sekedar asesoris/hiasan belaka? Ketika engkau berada di dalam rumah
Gereja; sadarkah engkau bahwa engkau telah berada di rumah TUHAN. Sadarkah
engkau bahwa engkau harus memuliakan Tuhan dalam Bait-Nya?. Orang dunia tidak
suka memuliakan TUHAN; mereka tidak mau memuji TUHAN dan beribadah kepada TUHAN
dalam rumah-Nya. Ia mau engkau dekat dengan Tuhan, Tuhan mau IA menjadi yang
utama dalam hidupmu.
Saudara-saudaraku, Banyak
gereja yang punya gedung yang mewah, gedung yang dibangun selama
bertahun-tahun. Tetapi sayangnya kehidupan kerohanian sidangnya keropos.
Kualitas kerohanian sidang harusnya semakin bertumbuh bukannya semakin kering
dan merosot. Kerohanian kita harus semakin bertumbuh; Percaya kita harus terus
bertumbuh dalam semua aspek kehidupan kita. Gedung yang megah dan fasilitas
yang bagus boleh kita miliki. Tetapi percaya yang bertumbuh dan keyakinan yang
kokoh itu adalah yang pertama dan utama bagi setiap kita sebagai anak-anak
TUHAN. Gereja bukanlah tempat untuk menjalankan ambisi kita manusia, bukanlah
masalah manusia suka atau tidak suka, bukanlah tempat untuk melampiaskan semua
hobby dan semua keinginan kita. Tetapi Gereja adalah tempat dimana Tuhan mau
hadir dan bertahta dalam hidup kita dengan orang-orang kudus-Nya
Amin.
Rapu, 23 Maret 2014
Perjamuan Malam TUHAN yang Kudus
Ester. 2 : 1 – 18
Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus
Kristus,
Dalam pasal 1 di jelaskan
tentang bagaimana Ratu Wasti di ceraikan oleh raja
Ahasyweros dan secara otomatis Wasti disingkirkan
dari kedudukannya sebagai ratu. Tindakan Ahasyweros yang sewenang-wenang berbuntut
dengan ia harus menceraikan Wasti. Dan dampak dari itu Ahasyweros sendiri yang
mengalaminya. Betapapun seorang merasa dimalukan dan dihinakan karena
perintahnya tidak di taati; hendaknya mereka tetap berpikir bijak sehingga
tidak mengorbankan sesuatu yang tidak perlu.
Banyak rumah tangga Kristen
yang terancam berantakan bahkan berantakan dimana suami isteri akhirnya
bercerai. Ada banyak sebab yang memicu terjadinya penceraian; tidak hanya salah
satunya selingkuh yakni tidak setia. Juga hal-hal kecil bisa menjadi sebab
rumah tangga berantakan. Persoalan ekonomi; tidak ada ini dan itu bisa menjadi
sebab hancurnya sebuah rumah tangga. Karena itu kita berwajib akan bersama-sama
memelihara keutuhan rumah tangga kita sehingga tetap harmonis. Jangan
membiarkan hal-hal kecil mengganggu keutuhan rumah tanggau. Karena semua itu
adalah serangga-serangga yang terus menerus akan menggerogoti kedamaian dan
keutuhan rumah tanggamu.
Jika Ahasyweros menceraikan
isterinya karena merasa di permalukan dan dihinakan Wasti (ia di remehkan).
Maka kita perlu mencatat bahwa harga diri tidak harus mengorbankan rumah tangga
kita. Sebagai bangsawan (umbu nai); Raja atau yang memiliki darah biru tidak
menjamin keutuhan sebuah rumah tangga. Karena apapun dampak yang terjadi bukan
orang lain yang merasakan tetapi kita sendiri yang merasakannya. Kita melihat
Ahasyweros dalam kesunyiannya akhirnya merasa membutuhkan Wasti. Dalam sebuah
rumah tangga suami tidak dapat bekerja sendiri tanpa isteri. Dalam setiap
kebijakannya suami membutuhkan pendapat isteri. Begitu juga sebaliknya. Karena
itu sikap arogansi, suka menang sendiri, bahwa kitalah yang paling benar dan
orang lain pada posisi yang salah. Harus di hindari dan dijauhi. Setiap
permasalahan yang terjadi hendaknya di selesaikan dengan pikiran yang dingin
dan hati yang di penuhi Roh Kudus.
Saudara-saudara yang kekasih,
Apakah yang harus dilakukan? Nasihat para penasihat kerajaan untuk mencari
pengganti ratu Wasti diterima oleh raja Ahasyweros. Untuk itu di perintahkan untuk
mencari gadis-gadis yang cantik
di seluruh negeri dan diperhadapkan kepada raja. Raja boleh menentukan pilihan.
Dan gadis yang kepadanya raja berkenan, maka gadis itu akan dijadikan Ratu bangsa kekaisaran Persia
pada waktu itu.
Dan menarik berhubung dengan
itu di jelaskan bagaimana TUHAN mengendalikan segala sesuatu. Tangan-Nya yang
mengatur hampir-hampir tidak kelihatan. Tetapi inilah cara TUHAN yang ajaib.
Bahwa jauh sebelum hal ini terjadi, Allah telah mempersiapkan dua orang
hamba-Nya untuk memenuhi dan menggenapkan rencana-Nya.
Mordekhai dipakai Allah untuk merawat dan mengarahkan serta mendidik Ester. Sehingga Ester benar-benar menjadi seorang gadis yang
tidak saja cantik secara lahiriah tetapi juga cantik dalam kelakuannya. Mordekhai
mengemban tanggungjawab baik secara jasmani maupun rohani. Secara jasmani
Mordekhai memenuhi semua kebutuhan makan, minum dan pakaian yang di butuhkan
Ester. Dan secara Rohani Mordekhai mampu membuat Ester menjadi seorang yang
taat dan berbakti. Sebagai orang tua kita perlu belajar dari Mordekhai ini
bagaimana seharusnya kita menjadi orang tua yang bertanggungjawab; bukan saja
secara Jasmani tetapi juga secara Rohani. Jangan kita menjadi orang tua yang
hanya bisa membelikan mereka makanan dan pakaian serta menyekolahkan mereka dan
akhirnya mereka menjadi “Orang”. Tetapi didik mereka bagaimana mereka seti ke
Gereja, ke Sekolah Minggu, ke PA-PA. Didik mereka supaya mereka menjadi
anak-anak yang mencintai Tuhan dan Gereja-Nya. Didik mereka supaya mereka
mencintai persekutuan itu. Jangan biarkan air matamu mencucurkan air mata
kesedihan. Tetapi biarkanlah matamu berseri dan mengeluarkan airmata sukacita
karena mereka sudah menjadi Ester-Ester yang taat.
Kita melihat bahwa TUHAN
membuat Wasti tersingkir dari kedudukannya sebagai ratu untuk menempatkan Ester
menjadi orang nomor satu dari seluruh perempuan dalam kerajaan
Ahasyweros. Allah telah mengatur hingga Ester terpilih sebagai gadis
yang sangat baik. Ia tampak sederhana dan
tidak berlebihan. Tetapi ia dapat menimbulkan
kasih dan sayang di dalam hati mereka yang melihatnya. Ester mendapatkan perlakuan istimewa dari gadis-gadis yang di
tentukan. Ester tidak perlu berdandan
secara berlebihan. Karena TUHAN mengatur bagaimana semuanya sehingga tetap berlangsung
sesuai dengan rencana-Nya.
Dari sejarah ini kita belajar
bahwa tidak perlu kita mencari kehormatan dan kedudukan dengan cara-cara yang
salah; seperti dengan berusaha menjatuhkan orang lain dengan berusaha merusak
reputasi mereka dan dengan demikian mereka bisa di geserkan dan kita menempati
kedudukan mereka. Tidak perlu cara intervensi; intimidasi; suap dan sebagainya
untuk mendapat sebuah kedudukan dan kehormatan. Karena kehormatan dan kedudukan
adalah TUHAN yang memberikan. Kehormatan dan kedudukan itu akan di berikan
kepada orang yang TUHAN berkenan. Dia akan menyingkirkan orang yang tidak di
kehendaki-Nya. Dan menempatkan hamba-hambanya-Nya. kita tidak yakin mari kita
belajar dari kitab Ester ini.
Menarik
untuk disimak, Mordekhai menasihati Ester agar tidak menyebutkan kebangsaannya
di hadapan para petugas. Sebab jika demikian, ada kemungkinan ia akan ditolak,
sebab ia adalah keturunan dari kaum tawanan. Bagaimana mungkin keturunan dari
kaum budak dijadikan Ratu di kekaisaran Media Persia! Para petugas pun tidak
mempertanyakan dan dalam penyelidikan
tersebut. Dan TUHAN
mengendalikan segala sesuatu. Mordekhai boleh berpikir
seperti itu. Tetapi rencana TUHAN tetap berlangsung, tidak akan ada yang
membatalkannya. Hal itu kita lihat ketika
para gadis itu diperhadapkan kepada raja, mereka diperbolehkan untuk membawa
apapun di tangan mereka. Atas
nasihat dari petugas yang telah menyayangi Ester, ia masuk ke Balai ruang raja, tanpa membawa sesuatu di tangannya. Dengan jalan demikian, yang
ditonjolkannya adalah kecantikannya semata mata, tanpa aksesoris menyertai dia
dalam beraudiensi dengan raja. Inilah providensia
Allah, demikianlah
Allah mengaturnya bagaimana semuanya dapat berlangsung dan semua pasrti
berlangsung sesuai rencana-Nya. Dan karena pekerjaan Allah,
maka Ester pun sampai pada puncak kejayaaannya sebagai seorang perempuan nomor 1 dalam kerajaan
Ahasyweros. Ester menjadi ratu bagi kekaisaran Media Persia. Melihat kecantikan
Ester – arti dari nama itu ialah: bintang – raja pun terpana dan tidak dapat berbuat
lain daripada memilih Ester menjadi Ratu. Tuhan membuat hatinya
terpaut pada Ester. Nas kita berkata: Ester dikasihi
raja lebih dari pada semua perempuan lain. Oleh karena itu, raja menaruh
mahkota kepadanya sebagai pengangkatan dia sebagai ratu bagi kekaisaran Persia.
Saudara-saudaraku, ini menjadi
pembelajaran bagi kita; apapun kondisinya percayalah bahwa TUHAN yang mengatur
segala sesuatu. Percayalah dan yakinlah bahwa TUHAN mengendalikan segala
sesuatu dan bahwa TUHAN akan mengatur semuanya sesuai dengan kehendak-Nya
Ester dengan sengaja ditempatkan di sana dalam rangka menjadi alat di
tangan Tuhan kelak, untuk membebaskan orang Yehuda dari pemusnahan. Di sanalah
letak posisi dari Ester. Kedudukan yang kita miliki dapat disebut sebagai alat
di tangan Allah untuk membawa keselamatan bagi setiap pribadi, keluarga, kaum keluarga, masyarakat,
pun mungkin bagi satu bangsa di muka bumi ini. Tahukah saudara bahwa TUHAN
punya maksud Tuhan dengan menempatkan saudara pada posisimu saat
ini? Sadarkah saudara bahwa Tuhan punya tujuan tertentu dengan hidupmu?
Tahukah saudara bahwa TUHAN maksud mengapa IA menyelamatkanmu? Yesus telah
datang, IA rela mati diatas kayu salib itu; oleh percaya statusmu/kedudukanmu
sekarang adalah anak Allah. TUHAN telah merencanakan semuanya itu IA telah
mengatur bagaimana semuanya harus berlangsung? Kita terkandang tidak mengerti
dengan posisi yang kita miliki saat ini. Kita bertanya; mengapa saya masih
tetap dengan kedudukan dan posisi saya ini? Bukankah lebih baik saya harus menjadi
kepala; pemimpin dan seterusnya? Mari kita bersama-sama belajar dari sejarah
Ester ini bahwa Tuhanlah yang mengaturnya. Semua pasti berlangsung dalam
Provodencia Allah. Dan Karena itu kita harus bersyukur ketika Ia mempercayakan
kita untuk menjadi alat dalam tangan-Nya.
Amin
Lalindi, 23 Maret 2014
Perjamuan Malam TUHAN yang Kudus
Ester.
1 : 1 – 22
Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus
Kristus,
Kitab
Ester adalah satu satunya kitab dalam Perjanjian Lama yang tidak memuat nama
TUHAN. Umat Tuhan saat itu berada di bawa pemerintahan raja Ahasyweros
yang memerintah 485-465 s.M. Orang-orang Yahudi terbuang, tertawan, dan hidup
di bawah hukum dan kekuasaan Media-Persia. Di dalam pembuangan itu kehidupan
mereka tidak lagi diatur berdasarkan Hukum Torat Musa yang diterima dari Allah,
dengan segala konsekuensinya mereka harus tunduk kepada hukum
Media-Persia yang dibuat dengan sekehendak hati raja, yang saat bersifat
mutlak, tidak dapat diganggu-gugat ataupun digagalkan. Dan ini menjadi
perenungan bagi kita: mungkin kita bertanya dimanakah Allah dan apakah yang
dilakukan Tuhan dalam kondisi seperti itu? Apa yang dilakukan Tuhan di balik
kekuasaan, kekayaan, dan keagungan Ahasyweros yang demikian besar? Dan
bagaimanakah Tuhan memelihara umat-Nya di tengah keputusan yang sewenang-wenang
dan tidak dapat diganggu-gugat ataupun dibatalkan.
Pelajaran
berharga yang dapat ditimba dari kitab Ester ini ialah: Tentang
Pemeliharaan Allah atas umat-Nya. Allah memerintah atas segala
kerajaan di muka bumi ini. Perjalanan sebuah kerajaan berada di tangan Allah.
Demikian juga dengan perjalanan sebuah bangsa. Dalam pasal satu ini Allah
menunjukkan bahwa Ialah yang memerintah dan mengendalikan segala sesuatu. Ialah
raja atas segala Raja. Kita melihat betapapun Ahsyweros memiliki kuasa dan
kemuliaan yang besar, Ahasyweros adalah manusia yang lemah dan tidak berdaya
serta memiliki kekurangan; Ahasyweros adalah seorang sombong dan angkuh,
yang suka memamerkan kuasa, kejayaan dan kekayaannya; seorang raja yang
bertindak sewenang-wenang dan tidak menghormati isterinya. Tindakan Ahasyweros
ini dipakai Tuhan untuk mempersiapkan Ester menjadi ratu dalam kerajaan
Ahasyweros. Apa yang berlangsung dan dilakukan Ahasyweros dipakai oleh TUHAN
akan menunjukkan kedaulatan atau otoritas-Nya. Ialah yang mengendalikan
segala sesuatu. Ia ada dan tetap bekerja (berkarya). Kehendak-Nya dan
rencana-Nya tetap berlangsung terus. Kondisi yang ada tidak dapat menggagalkan
rencana-Nya. Dan inilah penghiburan bagi kita saat ini. Dalam kemelaratan,
kemelut dan kesukaran apapun IA tetap memelihara kita.
Dalam
Perikop ini kita melihat raja Ahasyweros yang sudah di kuasai oleh kesombongan
dan keangkuhannya rela mengeluarkan biaya yang besar demi sebuah deklarasi
prestise! Demi sebuah popularitas. Demi sebuah nama! Ia mengadakan pesta yang
sangat besar yang berlangsung selama 6 bulan yang khusus untuk pembesar,
pegawai, tentara, kaum bangsawan bahkan masih ditambah lagi dengan 7 hari untuk
seluruh rakyatnya. Semua itu semata-mata demi sebuah Prestise, popularitas dan
nama! Raja rela mengeluarkan dana yang begitu besar hanya untuk memamerkan
kekuasaan, kejayaan dan kekayaannya. Bahkan raja rela untuk mempertontonkan
kecantikan isterinya dihadapan para pembesarnya yang sudah mabuk. Dan karena
Wasti menolaknya ia rela menceraikan ratu Wasti karena merasa telah dihinakan.
Ia merasa harga dirinya telah di runtuhkan oleh ratu Wasti. Maka untuk sebuah
kewibawaan dan harga diri dan prestise ia menceraikan ratu Wasti. Sikap dan
tindakan Ahasyweros yang sewenang-wenang itu tentu merugikan dirinya sendiri.
Saudara-saudara
yang kekasih, Ternyata prestise bukan sekedar tentang kenyataan atau realita,
melainkan tentang kepuasan hati seseorang. Prestise, Popularitas dan nama; serta
harga diri menuntut hidup dengan biaya tinggi! Menuntut harga yang mahal.
Pertanyaannya bagaimanakah dengan kita saat ini? Apakah engkau hidup demi
prestise; Harga diri; Popularitas dan nama? Kita melihat bahwa hari inipun demi
sebuah prestise (Harga diri; Martabat, posisi dan reputasi) dan untuk
sebuah Popularitas orang rela mengorbankan waktu, harta dan kekayaannya. Demi
Posisi orang berkampanye di mana-mana, tidak peduli malam, panas terik, dingin.
Tidak peduli berapa besar anggaran yang keluar. Demi sebuah harga diri orang
siap memberi apa yang sisa untuk nafkah dalam hidupnya bahkan siap berhutang.
Demi sebuah reputasi orang harus berusaha berangkat dan melakukan sekalipun itu
adalah sesuatu yang sukar. Singkatnya demi semuanya itu tidak ada alasan untuk
tidak melakukannya. Untuk semua itu selalu ada waktu, selalu ada kesempatan dan
selalu ada uang. Pokoknya selalu ada demi sebuah prestise. Ahasyweros punya
waktu, 6 hari untuk para pembesarnya, 7 hari untuk rakyat; punya makanan yang
banyak; punya hewan yang banyak untuk di sembelih hanya untuk harga diri,
reputasi atau Prestise. Orang-orang Farisi di jaman Tuhan Yesuspun mulai
menunjukkan dirinya dihadapan orang banyak, berdoa di tikungan-tikungan jalan,
memberi sedekah dimana ada orang banyak. Semata-mata demi sebuah harga diri dan
reputasi.
Tetapi
untuk pekerjaan pelayanan di Gereja; untuk kebaktian hari minggu dan PA; untuk
kegiatan di Gereja selalu ada alasan sibuk; kerja ini dan itu; tidak uang,
tidak waktu dan sebagainya. Mengapakah selalu tidak ada waktu, tidak ada uang
dan sebagainya untuk TUHAN? Mengapakah untuk kepentingan kita selalu ada waktu,
uang dan sebagainya?
Mencari
pengakuan dan kebesaran secara dunia tidak akan pernah memuaskan hati, malahan
merusak dan merugikan diri kita sendiri. Karena manusia tidak akan pernah puas
dengan apa yang ia miliki! Raja Ahasyweros rela mengorbankan ratu Wasti,
menceraikannya karena mencari pengakuan orang lain karena sebuah reputasi dan
kebesaran secara duniawi! Hanya karena sebuah harga diri, ia rela melakukan itu. Kesombongan
selalu berujung pada kehnacuran!
Untuk itu
saudara-saudaraku, mari kita memeriksa diri kita apakah kita sudah tidak
seperti Ahasyweros lagi; yang demi sebuah prestise mengorbankan waktu, harta
dan kekayaannya. Dan apakah kita selalu punya waktu dan harta untuk TUHAN. Dan
kita berserah kepada TUHAN seperti pe-Mazmur. 139:23 yang mengatakan "Selidikilah
aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;"
Yesus tidak mempertahankan diri-Nya; Ia tidak mempertahankan harga diri-Nya.
Tetapi IA turun dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan kita.
Ia siap mati di salibkan. Mengorbankan hidup-Nya demi keselamatan kita. Didalam
Dialah kita belajar untuk menjadi anak-anak TUHAN; yang mengasihi Tuhan dan
mengasihi sesama kita. Diluar Dia kita akan menjadi figur Ahasyweros; yang
sombong dan angkuh, yang hanya mementingkan dirinya demi sebuah harga diri,
posisi, reputasi atau prestise. Belajar dari Yesus Kristus karena IA rendah
hati dan lemah lembut. Apakah saudara-saudara mau belajar dari-Nya? IA menjamin
Jiwamu akan mendapat ketenangan.
Amin
Waingapu, 16 Maret 2014
Efesus. 3 :
14 – 21
Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus
Kristus,
Dalam perikop ini di jelaskan
tentang doa Paulus. Ada tiga hal penting yang di jelaskan sehubungan dengan
pokok tersebut:
1. Bagaimana
Paulus Berdoa?
2. Apakah
doa Paulus?
3. Paulus
mengakhiri doanya dengan Pujian
Saudara-saudara yang kekasih, bagaimana Paulus berdoa?
Dalam ayat 14-15 hal ini di
jelaskan. Kita membaca ada kata “sujud” yang berarti berlutut. Paulus berdoa
dengan cara berlutut bukan dengan cara berdiri atau duduk. Jarang kita
menemukan orang berdoa dengan cara berlutut. Umumnya kita hanya melihat orang yang
berdoa dengan cara berdiri dan duduk. Berlutut adalah sikap doa yang tentunya
tidak hanya mengingatkan kita kepada beberapa peristiwa penting dalam Alkitab.
Dimana dikatakan ketika orang datang kepada Yesus mereka tersungkur, sujud
menyembah dan seterusnya. Berlutut adalah menggambarkan kepribadian seseorang
dihadapan TUHAN yang merasa dirinya tidak layak. Seperti orang kusta itu yang
kembali dan sujud menyembah Yesus, Yesus ketika berdoa di taman Getsemani juga
sujud dan lain-lain. Paulus berlutut ketika ia berdoa. Apa yang membuat dan
mendorong Paulus sehingga ia harus berdoa dengan cara yang demikian? Bahwa
Allah di dalam Yesus Kristus juga menyelamatkan orang-orang Efesus. Injil itu
sudah datang kepada mereka. Oleh percaya sekarang mereka adalah ahli-ahli waris
hidup yang kekal itu.
Yang kedua Paulus berdoa
kepada Bapa. Allah itu adalah bapanya didalam Yesus Kristus. Bapa yang
daripadanya berasal segala sesuatu. Paulus berdoa kepada yang memiliki
kedaulatan dan otoritas mutlak atas segala segala sesuatu. Paulus berdoa kepada
penguasa atas Sorga dan bumi. Kita melihat, Paulus tahu menempatkan dirinya, Ia
sadar bahwa ia berhadapan dengan Bapa yang mempunyai otoritas mutlak atas
segala sesuatu dan atas dirinya juga. Dan bukan hanya itu. Paulus juga sadar
bahwa sepenuhnya ia bergantung kepada Bapa. Sebab itu baginya doa bukanlah
kegiatan rutinitasnya; tetapi doa adalah bagian dari hidupnya yang
tidak dapat di pisahkan. Apapun kondisi ia akan tetap berdoa, meski ia
berada dalam penjara ia akan tetap berkomunikasi dengan Allah atau berdoa
kepada Allah.
Pertanyaannya bagi kita: Bagaimanakah sikap kita
ketika saudara berdoa? Sadarkah kita bahwa kita sedang berhadapan dengan Bapa
sebagai pemilik mutlak dan yang punya otoritas atas sesuatu bahkan atas hidup
kita? Doa bukanlah kegiatan rutinitas tetapi bagian dari hidup kita yang
didalam menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah. Karena itu apapun
kondisinya kita harus tetap berdoa atau berkomunikasi dengan Allah. Ada banyak
hal yang membuat kita untuk selalu dan tetap berkomunikasi dalam doa kepada
Allah. Bukan saja dikala senang/bahagia juga dikala saudara sedih atau
sebaliknya.
Lalu seperti Apakah
doa Paulus? Paulus tidak berdoa supaya ia secepatnya di keluarkan dari
penjara; supaya ia segera menghirup udara segar. Paulus tidak mementingkan
dirinya. Tetapi ia berdoa untuk sidang Efesus. Dan inilah doa Paulus:
Pertama-tama ia meminta supaya
Allah menguatkan dan meneguhkan sidang Efesus dengan Roh-Nya. Roh Kudus adalah
kuat Kuasa Allah, yang menghibur, menguatkan, meneguhkan, membaharui hidup
seseorang, dan seterusnya. Kehadiran Roh Kudus adalah kebutuhan mendasar
orang-orang percaya. Siapapun kita membutuhkan kekuatan Roh Kudus. Dalam
ketidak pastian perjalanan hidup kita di dunia ini. Dalam usaha yang kita lakukan
yang terancam gagal alias gulung tikar, dalam masalah-masalah yang kita hadapi,
dalam pergolakan polotik yang tidak jelas saat ini, dalam pergumulan dalam
rumah tangga, dalam menghadapi penderitaan, sakit penyakit, dalam menghadapi
perkembangan globalisasi, dalam menghadapi kenakalan remaja, dalam menghadapi
tawaran-tawaran yang demikian menggiurkan dan menjanjikan; dalam menghadapi
arus pengajaran yang ada. Semua ini dapat membuat kita goyah dan tidak teguh.
Untuk itu kita membutuhkan Roh Allah yang dapat membuat kita tetap kuat dan
kokoh. Kita akan tetap teguh dan tidak bergeser dari keyakinan kita pada
kebenaran itu. Kita harus berakar dan berdasar dalam kasih itu, yakni
Hidup kita harus terus bertumbuh kuat laksana pohon yang tetap kokoh karena di
tunjang dengan akar-akar yang kuat yang mendapat nutrisi makanan. Nutrisi
makanan yang harus kita serap adalah bersumber dari Kasih Allah. Selain dari
itu hidup kita harus terus di bangun diatas pondasi yang kuat sehingga tidak
mudah goyah dan jatuh. Gedung pencakar langit betapapun tinggi bila didukung
oleh pondasi yang kuat tidak akan mungkin rubuh begitu saja. Kasih Allah adalah
pondasi yang kuat yang darinya kita harus membangun hidup ini. Dan Roh Allah
akan menghibur kita dalam kegelisahan yang kita hadapi. Roh Allah akan
menguatkan kita dalam ketakutan kita. Roh Allah akan meneguhkan kita dalam
kebimbangan kita. Roh Allah membaharui hidup kita sehingga Kristus berdiam di
dalam hati kita. Dengan Kristus berdiam di dalam hati kita maka Ia akan
mengendalikan segala sesuatu; kemauan (keinginan) kita, sikap kita, perbuatan
kita, perkataan kita singkatnya hidup kita seutuhnya seturut kehendak-Nya. Hati
adalah pusat dari kehidupan manusia. Jika Yesus tinggal - diam – dalam pusat
hidup kita dan menjadi raja yang memerintah hidup ini, maka kita akan berada
dalam sebuah jalur kehidupan yang benar.
Yang kedua Paulus berdoa
supaya sidang mendapat pemahaman dan pengertian yang benar Kasih Kristus itu.
Walaupun pada kenyataannya kasih Kristus itu melampaui segala pengetahuan,
Paulus tetap menginginkan agar sidang memahami lebar, panjang, dalam dan tinggi
kasih itu.
Begitu banyak definisi paling
tidak ada 4 analisa yang di beri untuk menjelaskan kasih itu. Ada Kasih Eros yakni gairah secara
seksual (birahi), baik kenikmatan maupun pemuasannya. Kata ini tersirat dalam
makna kasih yang terbatas pada hubungan lelaki dan perempuan dalam suatu ikatan
pernikahan. Yang kedua Kasih Storge kasih dalam ikatan alami
antara ibu dan anak, ayah, anak-anak, dan kerabat. Yang ketiga kasih Phileo/Filio, yaitu kasih persahabatan,
kita berteman dengan orang itu karena kita senang. Kasih phileo ini adalah
kasih yang terpancar dalam perhatian. Kasih jenis ini semata-mata berdasarkan
atas perasaan. Yang keempat kasih Agape yakni kasihnya Allah.
Kasih agape bekerja untuk memberikan kebaikan bagi orang lain tanpa
memperdulikan apa yang dirasakannya sendiri.
Tetapi apakah Kasih Kristus
itu? Kasih Kristus adalah Kasih Bagaimna IA menyerahkan diri-Nya untuk menebus
dosa-dosa manusia; begitu dalam kasih itu tidak dapat di duga berapa
kedalamannya. Begitu lebar, panjang dan tinggi kasih itu. Tidak dapat di ukur.
Kita harus mengenal Kasih Kristus itu sebab jika tidak kita tidak akan mungkin
bisa berakar dan berdasar dalam kasih itu. Kita tidak akan mungkin bisa
bertumbuh kuat dan membangun hidup ini diatas pondasi yang kuat bila kita tidak
mengenal Kasih Kristus itu.
Yang ketiga yang di minta oleh
Paulus supaya sidang Efesus dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan/kesempurnaan
Allah. Ketika Kristus
memenuhi seluruh hati, pikiran dan perbuatan kita, dengan Roh-Nya maka kita
akan dipenuhi kekuatan. Kepenuhan Allah berdiam di dalam Kristus (Kol.1:19;
2:9). Kualitas hidup, Percaya dan kasih kita akan semakin bertambah dan nyata
dalam pergaulan sehari-hari. Kasih Kristus akan mewarnai tingkah laku serta
perbuatan kita sehari-hari.
Dan yang terakhir Paulus mengakhiri doanya dengan
pujian. Saudara-saudara Rasul Paulus sadar meski ia telah berdoa. Mungkin
bila di nilai doa Paulus begitu indah dan berbobot, namun harus di sadari bahwa
ia memiliki kekurangan dan keterbatasan. Pemberian Allah tetap melebihi doanya.
Walaupun Rasul Paulus sudah memikirkan dengan matang apa saja yang
diperlukan oleh sidang Efesus, tetapi Allah memberikan lebih dari apa yang ada
dalam pikiran Paulus.
Saudara-saudara yang kekasih
mari kita belajar dari Paulus ini bagaimana kita berdoa. Kita saling mendoakan
seperti Paulus mendoakan sidang TUHAN di Efesus. Kita berdoa bagi Gereja TUHAN;
untuk para Pelayan; untuk sidang TUHAN; untuk Isteri; suami; anak-anak dan
Negara kita. Biar kita di penuhi dengan kepenuhan Allah; yakni dengan
Kasih-Nya; Roh-Nya; setia-Nya, kebaikan-Nya, kesabaran-Nya dan seterusnya
supaya kita terus bertumbuh sebagai anak-anak TUHAN yang kuat.
Amin.
Waingapu, 09 Maret 2014
Roma. 6 : 1 – 14
KH Minggu 26 sj 69–71
Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus
Kristus,
Dalam kebaktian ini kita mendengar
khotbah tentang Sakramen Permandian yang Kudus itu. Dan bukan baru pertama kali
kita mendengar khotbah tentang pokok ini. Tetapi apa yang selalu atau kerapkali
kita dengar justru itu yang banyak kali kita lupa. Apakah pesan dan apakah
pengajaran yang kita peroleh dari pokok ini yakni Sakramen Permandian Kudus
itu? Tentu bukan hanya bahwa dalam Sakramen Permandian itu air yang di pakai;
bahwa ada permandian dewasa dan kecil; dan bahwa perumusannya adalah dalam
Bapa, Putera dan Roh Kudus. Tetapi lebih daripada itu sebagaimana di jelaskan
dalam Minggu 26 ini:
Pertama-tama di jelaskan bahwa
Sakramen Permandian itu adalah di tetapkan oleh Kristus. Di tetapkan berarti di
tentukan. Artinya sakramen Permandian ini tidak diatur dan dirancang oleh
seorang maha guru Teologi yang terkenal. Juga tidak diatur dan di buat oleh
Gereja. Sehingga dipandang sebatas upacara Gereja saja. Tetapi Sakramen
Permandian ini di tetapkan oleh Kristus sendiri. Sakramen Permandian adalah
ketetapan Kristus. Dalam Injil Matius 28:19 dikatakan; Pergilah,
jadikanlah segala bangsa muridKu dan permandikanlah mereka dalam
Nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Dan Injil Markus.16:16 dikatakan; Siapa
yang percaya dan telah dipermandikan akan diselamatkan; tetapi
siapa yang tidak percaya akan dihukum. Dari ayat-ayat itu cukup jelas
bahwa Permandian Kudus itu adalah di titahkan oleh Kristus.
Sebab itu tidak ada alasan
untuk tidak melakukan Sakramen ini. Sebab hanya ada satu kewajiban saja dari
setiap anak-anak TUHAN yakni mematuhi dan melakukan apa yang
di titahkan oleh Kristus. Tidak ada pilihan lain daripada melakukannya.
Orang percaya yang adalah pengikut-pengikut Kristus harus melakukan titah
Kristus ini; dengan memberi dirinya untuk di permandikan artinya bagi mereka
yang di panggil kepada percaya, yang sebelumnya adalah orang kafir. Bila mereka
memutuskan untuk mengikut Yesus dan menerima Dia sebagai TUHAN dan
Juruselamatnya harus memberi dirinya untuk di permandikan. Demikian juga orang
tua yang telah terhisab pada janji Allah yakni orang-orang Kristen; Dimana
Allah berkenan memberi anak-anak kepada mereka harus membawa anak-anaknya untuk
di permandikan. Kebiasaan buruk yang mulai menular banyak orang percaya (yakni
anggota-anggota Gereja) hari ini seperti menunggu Babi besar baru
mempermandikan anaknya; karena mau mengadakan pesta dan menanti pendeta/pelayan
yang di inginkan hendaknya di tinggalkan. Jangan pula karena pengaruh keluarga
maka anak tidak di permandikan. Sebab dalam tradisi kolot orang Sumba dan Sabu
bila anak perempuan mereka mendapat anak di luar nikah maka hak ada pada om
atau orang tua. Karena itu, yang berhak untuk membawa anak itu untuk di
permandikan adalah orang tua dari anak perempuan tadi. Orang tua merasa punya
kuasa untuk membatalkan apakah anak itu di permandikan atau tidak. Secepat
mungkin anak harus di permandikan sebagai wujud dari ketaatan kita kepada titah
Kristus. Tanda dan meterai ini harus di beri karena tanda dan meterai ini
menegaskan kepemilikan mutlak ALLAH atas diri kita dan anak-anak kita. Sebab
itu jika kita menyadari anak kita adalah milik Allah maka tanda dan meterai
kepemilikan itu harus berlangsung atasnya, artinya Permandian itu harus
dilakukan.
Hal yang kedua melalui
Sakramen Permandian ini Allah menegaskan akan Janji-Nya kepada kita yakni bahwa
Ia hendak mencuci kita dengan darah dan Roh-Nya dari segala dosa kita. Kata di
cuci menegaskan bahwa kita begitu kotor. Dan karena itu dalam keadaan ini kita
tidak layak untuk menjadi anggota-anggota keluarga ALLAH. Tetap melalui
pengorbanan Yesus diatas kayu salib itu Allah hendak mengampuni kita dari
segala dosa kita. Dalam pengampunan itu Allah melayakkan kita untuk menjadi
anggota-anggota keluarga Allah. Dan Allah tidak mau kita meragukan hal itu; Ia
mau kita memiliki keyakinan yang teguh; Ia mau kita yakin bahwa dosa-dosa kita
telah diampuni-Nya melalui Yesus Kristus. Sebab itu Ia memberi Sakramen
Permandian itu; supaya sebagaimana kita yakin badan kita telah bersih dari
kekotoran ketika mandi. Demikianlah kita yakin bahwa darah dan Roh Kristus
telah menyucikan kita dari segala dosa kita. Dan hanya dalam keadaan ini Allah
mau menerima kita kembali dalam Rahmat-Nya. Kita tidak dapat langsung bergabung
begitu saja yakni dalam keadaan Kotor dengan orang-orang Kudus dalam Kerajaan
Allah. Kita harus lebih dulu harus di bersihkan; kita harus di permandikan;
kita harus di cuci dengan darah dan Roh Kristus.
Tetapi selain dari itu dicuci
dengan darah dan Roh Kristus juga berarti Allah hendak menguduskan kita menjadi
anggota-anggota Kristus. Artinya Allah mengasingkan kita dari dunia ini. Dan
hal itu dilakukan-Nya dengan cara memanggil kita kepada Percaya oleh
Pemberitaan Injil itu, supaya kita hidup bagi TUHAN. Dan itu berarti bahwa kita
harus hidup dalam pembaharuan itu. Manusia lama kita harus mati dan kita harus
bangkit dalam manusia baru. Bukannya Manusia lama itu hidup terus dalam diri
kita. Bukannya kita harus mengucapkan kata-kata kotor. Bagaimanapun juga kita
harus keluar dari cara hidup yang demikian. Karena mendapat permandian
(dipermandikan) adalah berarti mendapat bahagian dalam Kristus, dalam ketaatan
dan kesengsaraan-Nya.
Saudara-saudara yang kekasih
TUHAN kita Yesus Kristus, kita semua sudah di permandikan. Pertanyaan
saudara-saudara seberapa besarkah arti permandian itu bagi kita? Bagaimanakah
saudara-saudara memaknai permandian itu dalam hidup ini? Mari kita lihat apa
yang kita buat saat ini sebagaimana anak-anak TUHAN. Adakah sesuatu yang engkau
lakukan saat ini yakni bahwa engkau berusaha keluar dari cara hidupmu yang
menyakitkan hati TUHAN? Oleh Permandian dengan tegas dinyatakan bahwa kita
adalah milik ALLAH, kita adalah anak-anak Allah, kita adalah anggota – anggota
keluarga Allah. Tentunya kita tidak hanya sebatas bangga karena kita adalah
milik Allah, telah di terima Allah sebagai anak-anak-Nya dan menjadi anggota
keluarga Allah. Tetapi apakah yang kita buat sebagai Milik-Nya, sebagai
anak-anak-Nya dan sebagai anggota keluarga Allah? Mari kita belajar dari Paulus
yang benar-benar setelah di panggil hanya melayani TUHAN dengan seluruh
hidupnya. Dalam surat Galatia 2:20 ia menagatakan; namun aku
hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup
di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup
oleh Percaya dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya
untuk aku. Itulah Paulus. Dan hendaknya saya dan saudara-saudara juga
seperti itu!
Amin
Waingapu, 02 Maret 2014
Efesus. 3 :
1 – 13
Saudara – saudara yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus
Kristus,
Dalam ayat-ayat ini di jelaskan tentang Kemuliaan Pelayanan Paulus:
Memberitakan Rahasia Kristus. Sehubungan dengan pokok itu ada tiga hal yang di
beritakan kepada kita;
1. Siapakah
Paulus dalam Berita Keselamatan itu?
2. Siapakah
kita setelah mendengar Berita Keselamatan itu?
Saudara-saudara yang kekasih,
berbicara tentang kemuliaan Pelayanan kita pasti membayangkan sesuatu yang luar
biasa; pelayanan yang menurut ukuran kita terkenal dimana-mana; pelayanan yang
berdampak luas bagi kehidupan orang lain; pelayanan yang sedikit tidaknya bisa
di terima umum dan memenuhi Kriteria-kriteria yang di kehendaki banyak
orang dan pelayanan dimana orang yang melayani di hargai dan mendapat
kebesaran. Mungkin seperti itulah kita membayangkan dengan kemuliaan pelayanan
Paulus. Kemuliaan pelayanan Paulus di jelaskan dalam perikop ini terletak pada
hal Paulus memberitakan Rahasia Kristus. Rahasia
Kristus yang di maksudkan disini adalah bahwa orang Kafir (orang-orang yang
tidak mengenal Allah) oleh Percaya kepada Injil itu boleh di selamatkan.
Bagaimana hal itu disebut sebagai kemuliaan? Pada waktu Paulus menulis surat
ini ia di penjarakan di Roma. Sebab dari pemenjaraannya di katakannya
karena Kristus Yesus dan ia melakukan itu untuk
sidang Tuhan di Efesus. Paulus siap dan rela menanggung penderitaan bahkan penjara
demi dan untuk orang-orang yang belum mengenal Allah. Sekalipun konsekwensinya
besar yakni penderitaan dan penjara yang harus di terimanya; komitmen Paulus
adalah bahwa Injil itu dapat di beritakan dan banyak orang akhirnya di
selamatkan. Selain dari itu Paulus mengatakan Pemberitaan Injil itu adalah
tugas yanag harus di lakukannya. Ia harus menunaikan tugas itu dengan baik.
Karena untuk itulah ia di panggil, untuk memberitakan Injil Keselamatan itu
kepada orang-orang yang belum mengenal ALLAH. Kebesaran dan kemuliaannya bukan
karena ia adalah rasul kenamaan dan mempunyai latar belakang pendidikan Teologi
dibawa bimbingan maha guru kenamaan Gamaliel. Sebab itu ia mengatakan ialah
yang paling hina dari semua orang-orang kudus; dimata TUHAN ia tidak layak
sebab itu ia mengatakan bahwa ia menjadi pelayan memberitakan Injil itu adalah
rahmat Allah semata-mata. Paulus mengakui perbuatan jahat yang dilakukannya;
apa yang di buatnya di ketahui umum dan tidak dapat di sembunyikan. Baik
dihadapan Allah maupun dhadapan manusia Paulus tidak dapat memegahkan dirinya.
Ia tidak dapat membusungkan dadanya sebagai orang yang paling baik dan karena
itu layak untuk mengemban tugas penyelenggaraan itu yakni memberitakan Injil
itu.
Kemuliaan Paulus terletak pada
dan ketika ia terus memberitakan Injil itu dan banyak orang di selamatkan;
meski karena Injil itu Ia di penjarakan. Dalam Matius. 5:11 Yesus mengatakan;
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu
difitnahkan segala yang jahat. Bd. Luk.6:22. Dan rasul Petrus mengatakan;
Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu
akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka
takuti dan janganlah gentar. I Pet. 3:14. Juga dikatakan dalam 1 Pet. 4:14;
Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan,
yaitu Roh Allah ada padamu. Lebih jelas lagi dalam Lukas. 6:21b Berbahagialah,
hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Dan dalam Yak.
1:12 dikatakan; Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab
apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan
yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.
Kemuliaan kita tidaklah bergantung pada latar belakang pendidikan yang kita
miliki; status kita dan posisi yang saat ini kita miliki. Tetapi bergantung
pada ketekunan kita dalam pelayanan yang kita lakukan sesuai tugas panggilan
kita masing-masing sebagai anak-anak Tuhan. Kemuliaan Paulus terletak pada
ketekuanannya dalam melayani Injil Yesus Kristus. Meski ia harus menderita
karena Injil itu. Itulah Paulus!
Lalu siapakah kita
setelah kita percaya kepada berita Injil itu? Dalam ayat 6 Paulus mengatakan;
yaitu bahwa orang-orang bukan
Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota
tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.
Inilah Rahasia Kristus yang dikatakan Paulus dalam
perikop ini. Rahasia artinya seuatu yang belum terungkap dan yang belum
dinyatakan. Bahwa kita oleh berita Injil itu;
- Turut
menjadi Ahli waris. Sebelumnya kita bukan ahli Waris; kita tidak punya hak pada
janji-janji TUHAN. Sebab kita belum menerima Injil itu dan percaya kepada Yesus
Kristus. Tetapi sekarang kita turut menjadi ahli waris yakni menjadi orang yang
punya hak, yang pantas dan layak menerima warisan. Oleh Percaya dan karena
Injil itu status kita adalah anak bukan lagi hamba. Dan sebagai anak kita
adalah ahli waris yakni berhak atas kehidupan yang kekal itu.
- Selain
dari itu kita adalah anggota-anggota tubuh dari Kristus. Kita bukan tempelan
dan bukan tiruan dari salah satu anggota tubuh. Sebaliknya kita adalah
anggota-anggota tubuh-Nya yang benar. Sehingga tidak mungkin Ia mengerat dan
membuang salah satu anggota tubuh-Nya. Kita adalah bagian dari anggota-anggota
tubuh yang tidak dapat di pisahkan. Anggota-anggota tubuh yang memiliki
peranan. Dan peranan kita adalah membuat supaya malaikat-malaikat boleh
bersukacita karena keselamatan yang kita miliki dalam Kristus Yesus.
- Yang
terakhir kita adalah peserta dalam janji yang di berikan Yesus. Kita ada dalam
daftar tetap bukan daftar tunggu, tidak perlu lagi diragukan; apakah kita
dapat, bisa duduk atau tidak. Kita bukan hanya calon; kita bukan kandidat;
bukan pula cadangan. Tetapi peserta yang sudah pasti memperoleh bagian dari apa
yang dijanjikan.
Itulah posisi kita saat ini!
Itulah saya dan saudara-saudara! Jika saudara-saudara masih meragukan ini semua
berarti saudara belum menerima secara benar Yesus itu sebagai TUHAN dan
Juruselamatmu. Hal yang kedua didalam Yesus kita beroleh
keberanian; kita tidak takut lagi dan tidak perlu ada lagi sesuatu
yang menakutkan kita. Sebab kita semua oleh Percaya kepada Yesus telah mendapat
posisi dan tempat yang layak sebagai anak-anak Allah. jalan masuk
kepada Allah dengan penuh keyakinan oleh Percaya kita kepada-Nya telah
terbuka. Jika dulunya jalan kepada Allah masih
tertutup dimana oleh karena dosa kita tidak berkenan menemui Allah tetapi kini
oleh Percaya kepada Yesus kita boleh datang kepada-Nya. Sebab itu apapun yang
kita alami tidak boleh membuat kita tawar hati yakni membuat kita patah hati,
membuat kita tidak bersemangat dan membuat kita kecut. Apakah itu penderitaan,
kesesakan, kesulitan, kemelut, hal yang memalukan atau sebuah perjuangan yang hampir
tiada akhirnya. Jangan pernah kita tawar hati karena semua itu. Sebab seperti
dikatakan Paulus kepada sidang di Efesus dalam ayat 13 ….karena
kesesakanku itu adalah kemuliaanmu. Penjara dan penderitaan yang
dialami Paulus menuntun mereka untuk memperoleh Keselamatan itu.
Saudara-saudaraku,
perjuanganmu dalam TUHAN, dimana engkau mungkin harus menanggung malu, di tolak
di cela dan sebagainya. Semua itu adalah langkah yang engkau harus lalui untuk
memperoleh Kemuliaanmu sebagai anak-anak TUHAN.
Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar