Waingapu, 18
Januari 2015
Peneguhan Penatua: Daniel
Ndamung Landjamara dan Marten Tunga Retang
Masa tugas 2015-2019
Baca : Hagai 1: 1 – 2: 1
Nas : Hagai
1: 1 – 2: 1
Menyanyi : Mazmur. 123: 1 – 2
Menyanyi : Mazmur. 130: 3 – 4 12
Pengakuan Percaya Rasuli
Menyanyi : Mazmur. 135: 1, 8, 12 Peneguhan
Menyanyi : Mazmur. 138: 2
Menyanyi : Mazmur. 67: 1 – 3
Menyanyi : Ny. Roh. 24: 3
Saudara-saudara yang
kekasih dalam TUHAN kita Yesus Kristus,
Nabi Hagai
memulai pelayanannya pada tahun 520 SM yakni tahun ke-2
pemerintahan raja Darius dari Persia yang memerintah
pada tahun 522-486 SM. Pada waktu itu keadaan umat ALLAH yang
baru kembali dari pembuangan masih merupakan suatu masyarakat kecil yang
miskin dengan jumlah penduduk kurang lebih sekitar 20.000 jiwa. Kegagalan
panen masalah serius yang dihadapi umat TUHAN. Situasi ini sangat
memprihatinkan. Mereka harus berjuang menghadapi situasi itu. Dan tidak mudah
bagi nabi Hagai melayani dalam keadaan seperti ini.. Tentu tidak mudah untuk
membuat mereka menerima Kebenaran Sabda TUHAN yang disampaikannys. Membangkitkan
semangat umat Allah di tengah situasi seperti itu tentu adalah hal yang sulit. Sebab
keadaan seperti itu dapat di jadikan alasan untuk membela diri. Jika mereka
mengatakan kami tidak punya waktu atau waktunya tidak tepat. Mungkin bisa di
benarkan. Bagaimana mungkin orang mendengarkan Firman Tuhan dalam keadaan
lapar? Bagaimana mungkin orang bisa bekerja jika mereka miskin alias tidak
punya apa-apa?
Seruan
untuk membangun kembali Bait Allah yang di sampaikan oleh nabi Hagai adalah
tidak mendapat respon positip dari umat TUHAN. Keadaan mereka yang miskin dan
kegagalan panen menjadi alasan mereka menolak ajakan Hagai untuk membangun
kembali Bait ALLAH. Mereka selalu mengatakan “belum waktunya”. Waktunya belum
tepat! Tetapi apakah benar alasan umat TUHAN ketika itu? Apakah karena keadaan
itu mereka tidak dapat membangun Bait Allah? Apakah TUHAN memaksa umat-Nya
untuk membangun Bait Allah? Bukankah seharusnya Bait Allah itu di bangun dengan
hati yang penuh dengan kerelaan?
Seruan
untuk membangun Bait Allah bukanlah sebuah paksaan tetapi sebuah ajakan. Dan
TUHAN tidak pernah mempelakukan umat-Nya dengan kejam. Dan Jika mereka
beralasan belum waktunya. Melalui nabi Hagai TUHAN menegur umat-Nya dan
menegaskan bahwa pekerjaan Pembangunan Bait Allah tidak dilanjutkan dikarenakan
penundaan dan pementingan diri sendiri mereka pada waktu
itu. Mereka tidak ada waktu untuk melanjutkan pembangunan Bait
Allah tetapi untuk membangun rumah pribadi, membuat dindingnya dari papan yang
bagus dan bekerja keras di ladang, mereka punya waktu. Mereka tidak punya waktu
untuk pekerjaan TUHAN, untuk membangun tempat di mana mereka bersekutu
bersama-sama. Dalam ayat 4, 6, 9-11 kita membaca;
"Apakah
sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan
baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?
Kamu
menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak
sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi
badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk
upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!
Kamu
mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke
rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta
alam. Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu
masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.
Itulah
sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya,
dan
Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas
gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah,
ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha."
Mereka
tinggal di rumah yang bagus dan mewah sedang rumah TUHAN masih menjadi reruntuhan.
Mereka sibuk bekerja di ladang, di kebun dengan harapan akan mendapat hasil
yang berlimpah, tetapi TUHAN menghembuskannya. Allah menahan air yang
diperlukan dan merintangi hasilnya (ay 10). Allah memanggil kekeringan datang
atas negeri itu sehingga panen mereka tidak
membuahkan hasil (ay 11). Penyebab semua malapetaka itu adalah sifat
mementingkan diri sendiri dan tidak peduli akan TUHAN. Mereka
mengutamakan dirinya daripada TUHAN. Mereka mrncari
kesejahteraan jasmani; rumah dan makanan; tetapi untuk kesejahteraan mereka
secara batiniah/rohani di kesampingkan.
Saudara-saudara
yang kekasih. Hal yang sama juga terjadi dalam Gereja TUHAN masa kini. Sadar
atau tidak; untuk pekerjaan TUHAN kita selalu berkata sibuk, tidak ada waktu,
waktunya tidak pas dan seterusnya. Sementara untuk diri kita sendiri, kita
punya waktu. Untuk membangun dan membentuk kerohanian dan hidup kita menjadi
pribadi yang kuat dan tangguh didalam TUHAN kita tidak punya waktu. Tetapi
untuk mencari kebutuhan pangan dan sandang kita punya waktu. Kita punya waktu
untuk mencari uang, mencari makan dan seterusnya. Untuk mencari kebutuhan-kebutuhan
jasmani kita, ada waktu dan waktunya selalu pas dan tepat. Sebab itu secara
rohani kita rapuh, mudah goyah, mudah jatuh dan mudah di pengaruhi. Karena
secara rohani kita tidak kuat. Hidup kita yang sesungguhnya adalah Bait Allah tidak
di bangun tetapi di biarkan menjadi reruntuhan. Allah tidak mungkin tinggal
dalam reruntuhan, Allah tidak mau tinggal dalam setiap pribadi kita yang tidak
peduli akan Dia dan Firman-Nya.
Membangun
BAIT ALLAH adalah sesuatu yang sangat penting. Bagi umat Allah Bait ALLAH
sesuatu yang tidak dapat di pisahkan dari kehidupan mereka. Bait Allah adalah
simbol dari kehadiran ALLAH di tengah-tengah umat-Nya. Bait Allah adalah yang
pertama dan terutama bagi Umat Allah. Tidak ada yang lebih mulia dan agung dari
Ibadah di Bait Allah. Puncak dari seluruh
pelayanan dan pekerjaan adalah Bait ALLAH. Betapa TUHAN di hinakan dan
di cela oleh karena rumah-Nya masih menjadi reruntuhan.
Saudara-saudara
yang kekasih, bagaimanakah dengan kita? Dalam Mat.6:33 tertulis ungkapan Yesus
yang begitu mulia; Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka
semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Itulah perintah Yesus kepada kita.
Tetapi kita mengatakan; tidak! Bagaimana saya dapat mencari Kerajaan-Mu dan
Kebenaran-Mu dalam kekurangan, kemiskinan dan kemelaratan? Bagaimana saya
melakukan itu sedang saya membutuhkan makanan dan pakaian? Apapun alasan kita;
Tuhan pasti melihat apa yang kita lakukan dalam hidup ini. Jauh lebih bijak
mendengar dan melakukan apa yang di perintahkan TUHAN daripada menolak. Lebih baik
mendengar dan melakukan pekerjaan pembangunan Rumah TUHAN itu daripada tidak. Bukan
harus memberontak dan terus mencari dalil untuk membela diri. Tetapi tunduk,
merendahkan diri dihadapan dan mengakui ketidakberdayaan kita dihadapan-Nya.
Amin